GULITA

(Asmara dan Sisi Lain Sarwani)

Advertisement

Mbah Emprot, Kakek Sarwani

(episode 1)

Wingit, sebuah kampung kecil yang tidak padat penduduk serta belum banyak rumah yang berdiri. Sangat jauh berbeda dengan kota besar seperti Jakarta yang sudah padat penduduk dan dihiasi bangunan-bangunan megah. Sebentar, layaknya sebuah desa dalam kecamatan pun tidak. Daerah itu lebih dipenuhi pohon-pohon yang menjulang tinggi dibanding dinding bersemen.

Advertisement

Sarwani adalah salah satu warga yang tinggal di kampung tersebut. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya dalam rumah kayu warisan almarhum kakek dari ayahnya. Kakeknya telah lama meninggal sebelum Ibal lahir. Konon menurut kabar burung, Beliau meninggal karena suatu hal yang erat kaitannya dengan hal mistis.

Semasa hidupnya, Mbah Emprot (nama kakek Sarwani) adalah orang yang dituakan di daerah tersebut. Hampir seluruh warga akan datang kepadanya saat sakit, meskipun Ia bukanlah seorang dokter atau yang setidaknya mengerti bidang kesehatan. Maklum saja, di daerah tersebut tidak ada yang namanya puskesmas apalagi rumah sakit. Selain itu, setiap segala macam penyakit selalu dihubungkan dengan hal mistis.

Hari itu pada kamis pukul empat sore, Atun nenek tua berumur 60 tahun datang ke rumah Mbah Emprot untuk berobat. Menurut Suma (anak atun), Ibunya menderita penyakit aneh dimana setiap magrib datang (sekitar pukul 18.00) selalu berteriak kesakitan. Timbul seperti luka bakar pada bagian tubuhnya yang kian hari semakin bertambah. Hari itu genap enam hari Mbah atun sakit.

Matahari mulai tenggelam, Mbah Emprot, suma, dan Atun masuk ke ruangan khusus yang biasa digunakan anwar untuk melakukan pengobatan atau ritual bersama orang yang datang padanya. Kamar itu berukuran 3×3 m, dengan penerangan ublik (fungsinya seperti lilin, berupa sumbu kain yang dibakar, dimana bagian bawah sumbunya terhubung dengan minyak tanah di dalam kaleng bekas) yang ditempelkan pada salah satu sisi dinding. Terdapat almari kecil ukuran 0.5×0.5×1.5 m yang berisi keris dan benda pusaka lainnya.

Di atas tikar yang digelar Mbah Emprot, atun diminta duduk bersila menghadap ke utara olehnya. Di depan Atun duduk, terlihat wadah kecil menyerupai asbak dengan beberapa bongkahan arang di dalamnya. Di samping wadah itu berdiri botol minyak kecil, serta beberapa kemenyan bubuk yang diletakan di dalam bungkusan daun pisang.

“Tun, nanti kalau sakit ditahan ya, baca terus doa itu” ucap Mbah Emprot sembari memberikan selembar kertas putih berisi tulisan mantra.

“Iya, mbah” jawab Atun.

“suma, kamu duduk di sini sembari berdoa dalam hati untuk ibumu” Mbah Emprot menyuruh suma duduk di belakang ibunya. “baik, mbah” Sahut Suma sambil sedikit menundukan kepala.

Gumaman mantra mulai keluar dari bibir Mbah Emprot sembari berjalan memutari atun, seketika petang (magrib) kala itu menjadi aneh. Bagaimana tidak, almari tempat penyimpanan pusaka Mbah Emprot sesekali berbunyi seperti ada yang menggedor-gedor pintunya. Ditambah adanya angin sumilir yang membuat api ublik bergerak-gerak, padahal seharusnya angin di luar rumah tak cukup kencang untuk dapat menembus masuk ke dalam rumah terlebih lagi kamar itu.

Suasana di rumah Mbah Emprot kala itu benar-benar mencekam, meskipun gelap malam baru saja tiba. Atun mulai terlihat menggeram kesakitan. Ia menahannya sembari mengepalkan kedua telapak tangannya dengan terus berusaha membaca mantra yang ia letakkan di atas tikar. Di luar terdengar suara burung hantu yang berkicau sesekali.

Keringat bercucuran keluar dari kening dan leher Atun. Mbah Emprot pun berhenti memutarinya, kemudian dia duduk bersila sambil sesekali menaburkan kemenyan di atas bara dari arang yang menyala. Bunyi bacaan mantra tak pernah sekalipun berhenti keluar dari bibir Anwar.

Tiba-tiba Atun roboh dari duduknya, seketika Mbah Emprot keluar dari kamar itu, tanpa sepatah katapun. Ia hanya menepok pundak kiri Suma memberi isyarat agar Suma tetap berada di kamar bersama ibunya. Terdengar suara keras seperti meja dan kursi kayu yang dibanting di luar kamar, di dalam rumah Anwar tepatnya di ruang tamu.

“prak..!!” Terdengar suara genting pecah, yang tidak lain adalah atap rumah Mbah Emprot. Tak lama setelah suara itu, Mbah Emprot kembali ke kamar sembari membawa gelas yang berisi air. Ia membangunkan Atun, kemudian menyuruhnya meminum air tersebut. Seketika suasana mencekam yang ada di rumah Mbah Emprot hilang.

Tidak ada lagi benda-benda bergerak, angin sumilir yang menggoyangkan api ublik, bahkan burung hantu yang tadinya berkicau juga sudah tidak terdengar lagi suaranya. Tepat pukul sepuluh malam Suma dan Ibunya pulang dari rumah Mbah Emprot, karena dirasa pengobatan tersebut telah selesai. Si Mbah berpesan pada Suma “Suma, jaga ibumu. Suruh ia beribadah, serta doa memohon ampun dan perlindungan pada Tuhannya. Satu lagi, garam ini taburkan di sekeliling rumahmu”

Tiga hari setelah kejadian itu Atun benar-benar sembuh total dari penyakitnya, tidak pernah berteriak merasa terbakar setiap magrib datang. Bahkan, Ia terlihat seperti nenek-nenek yang bugar. Namun, di saat yang bersamaan yaitu di hari ketiga setelah melakukan pengobatan Anwar jatuh sakit dan meninggal empat hari kemudian. Menurut desas-desus warga sekitar, Mbah Emprot meninggal karena mengobati Atun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya