Desamu Menjadi Terkenal

“Bapak kepala desa kali ini begitu gencarnya membangun sarana dan prasarana untuk mengembangkan potensi wisata desa kita. Yes besok-besok bisa melihat turis yang datangnya jauh. Tempatku akan di kenal oleh oarang banyak dan menjadi tempat yang ramai. Akan menjadi lebih modern lagi tidak desa seperti sekarang. Tidak ada lagi yang mengejek tempat tinggalku lagi.” Segi menalar lebih dalam kepada dirinya sesuai dengan ukuran penglihatannya. Ia meluapkan kesenangan.

Advertisement

Berbeda dengan Finung yang dari tadi kesusahan mencari korek apinya. Rokoknya belum terbakar sama sekali. Mulutnya terasa kosong tanpa ada asap rokok. Finung mengeluh apalagi mendengar perkataan dari Segi yang sok senang dan bahagia. “Tapi pak kepala desa kok tidak memperhatikan rokok saya yang semakin hari semakin lama harganya semakin mahal. Katanya sih untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia. Tapi aku sebagai perokok berpendapat itu hanya untuk mesugehkan (menambah kekayaan) para pemproduksi rokok.”

“Potensi wisata kita-kan menjadi prioritas dalam pembangunan kita. Menurut pengurus kesehatan desa rokok itu hanya menimbulkan masalah kesehatan bagi kita. Bahkan di bungkus rokok itukan sudah jelas di beritahukan bahwa merokok itu tidak baik. Kok malah kamu tetep saja merokok.” Segi menyulutkan pikirannya.

Seluruh desa tempat tinggal Segi dan Finung penuh dengan gambar-gambar untuk menghindari rokok. Gambar rokok di silang. Tempat merokok dibatasi.

Advertisement

Pembangunan Desa Wisata Disesuaikan dengan Pembangunan Kesejahteraan Warga Desa


“Ha ha. Menurutku itu adalah sebuah kelucuan yang perlu di tertawakan secara berjamaah oleh semua perokok di seluruh desa ini. Masak iya orang jual rokok terus memberi tahu merokok itu tidak baik, merokok itu berbahaya, dan dilarang. Orang yang menjual itu mau bunuh diri atau bagaimana? Kamu itu kok hidup tidak menurut dirimu sendiri. Tidak menurut keyakinan dirimu sendiri. Boleh saja sih orang lain menawarkan pendapat dan anggapannya, tapi perlu kamu tanamkan pada dirimu bahwa kamu punya memiliki kekuasaan atas dirimu untuk menentukan jalan hidupmu tanpa mengganggu kehidupan oranglain.” Finung dengan nada santai meresap asap rokok.


Segi terdiam dan tidak banyak basa basi lagi. Dia takut omongannya akan menjadi basi jika diteruskan untuk melawan Finung basa basi. Segi mendinginkan diri mencoba menenangkan pikiran dan hatinya.

“Em baiklah.” Segi menerima tenang. “Hidup dengan menurut diriku sendiri. Bisa juga pemikiranmu dipertimbangkan Nung.” Segi merenung sebentar. Tapi ia tidak luput dari fokus awal pembicaraannya. “Nung bagaimana menurutmu jika desa kita ini menjadi desa wisata?”


“Oh bagus itu Segi. Itu perlu dilakukan dikembangkan di desa kita. Perlu pembangunan untuk kemajuan desa kita, baik itu ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lainnya. Tapi pembangunan itu tentu untuk warga desa dan kultur kita yang perlu dipertahankan. Pembangunan wisata desa kita perlu diarahkan kepada kekuatan warga desa. Jangan karena ingin desa kita terkenal diseluruh penjuru negeri kita mengundang orang lain untuk mengembangkan desa kita. Jadinya warga kita menjadi penonton, kan itu tidak bagus.” Finung memberikan penggambaran tentang pemetaan desa wisatanya.


“Berarti pak kepala desa harus melakukan pembangunan desa wisata untuk warga desa ini. Kekuatan ekonominya untuk warga desa, persewaan perlengkapan wisata perlu dikuatkan untuk warga desa. Caranya desa harus memberikan pinjaman modal kepada warganya sendiri.” Segi menselonjorkan kakinya.

“Ya benar sekali itu yang saya mau. Dan tentunya itu yang tentunya dimaui oleh warga desa kita. Begitu juga dengan pak kepala desa jika menstandarkan harga rokok ya tolonglah dipertimbangkan.”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya