Hantu Realita: Stay Realistic Sama Dengan Menyerah?

Menentukan pilihan

Sometimes, saat kita memiliki goals yang cukup besar, kata realistis senantiasa bermunculan di sepanjang perjalanan kita. Mirisnya, kata tersebut sering dilontarkan oleh orang-orang terdekat yang sebenarnya peduli dengan kita. Niatnya karena peduli, tetapi tetap saja menyakiti. Disini kita sadar dan tahu bahwa mereka hanya menginginkan yang terbaik bagi kita. Alhasil, kita pun mulai mempertimbangkan kata realistis tersebut, walau dengan berat hati.

Jadi, dalam mengejar impian, apakah kita memang harus realistis? Satu pertanyaan yang dulu aku harapkan ada orang yang bisa menjawabnya. Mungkin teman-teman disini juga sedang memiliki pertanyaan tersebut dan sedang dalam fase kebimbangan antara bertahan realistis atau terus berjuang mengejar impian yang mulai terasa jauhnya. Aku harap pengalamanku terkait hal ini bisa memberikan pencerahan dan menjawab pertanyaan teman-teman semua.

Aku orangnya optimistic, kekeuh dengan keputusan awal, dan cukup keras kepala untuk mengikuti saran yang dilontarkan orang-orang. Dulu, menurunkan standard dan bersikap realistis, bagiku itu sama saja dengan menyerah. Aku percaya bahwa aku memiliki potensi yang besar jika aku tetap berusaha dan berjuang keras. Kata stay realistic bagiku seperti mantra yang akan menurunkan semangatku dalam mengejar cita-cita. Entah mengapa, kata itu terasa seperti menuntunku untuk bangun dari halu bahwa aku mampu mengejar cita-cita yang cukup besar itu.

Kalau ditanya sekarang, apa arti realistis bagiku? Jujur, aku masih memegang pendirian bahwa setiap orang memiliki potensi yang besar jika mereka tetap berusaha. When you put your heart in it, it can take you anywhere. There’s nothing that is too impossible until you decide that it is impossible. Aku percaya bahwa hal besar terjadi saat seseorang berhenti bersikap dan berpikir realistis. Contohnya, pada zaman dahulu, orang-orang tidak berpikir bahwa manusia bisa terbang. Nyatanya sekarang, maskapai penerbangan tidak pernah sepi pelanggan. Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika semua orang senantiasa bersikap dan berpikir realistis.

Namun, ada kalanya suatu hal yang kita perjuangankan itu, tidak sebesar outcome yang akan kita terima. Ada kalanya, kita harus mengesampingkan ego dan melihat kembali, apa sih sebenarnya tujuan kita. Saat kita dihadapkan pilihan, dimana pilihan tersebut menentukan perjalanan kita selanjutnya, terkadang kata realistis mulai masuk akal. Aku pernah berada di fase tersebut, fase dimana aku harus mempertimbangkan kembali mana yang sebenarnya merupakan cita-citaku.

Aku pernah dihadapkan oleh suatu pilihan yang membuatku sangat bimbang saat itu. Mungkin teman-teman disini juga sudah pernah atau sedang mengalami hal serupa. Pilihan tersebut merupakan suatu keputusan yang harus dibuat. Tak peduli seberapa banyak kita ingin menunda, hidup dan waktu terus berjalan. Mau tak mau, kita harus membuat keputusan. Mau tak mau, kita harus menentukan pilihan. Akan tetapi, seringkali saat dihadapkan dengan pilihan yang rumit, banyak orang yang kebingungan dan malah berakhir membuat pilihan yang kurang tepat. Kembali lagi kita dibingungkan dengan keputusan untuk bertahan realistis atau berjuang pada pilihan dengan kemungkinan keberhasilan yang lebih rendah. Saat ingin menentukan pilihan, seringkali kita terkelabui oleh ego yang tinggi. Seringkali ego tersebut membuat kita lupa akan tujuan kita yang sebenarnya.

Misalnya, seorang pria hendak mengikuti interview kerja. Pria tersebut sudah menunggu lowongan pekerjaan yang ia inginkan selama berbulan-bulan. Kemudian, ada dua perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tersebut. Namun, interview kedua perusahaan terjadi pada saat yang bersamaan. Disini, pria tersebut dihadapkan oleh pilihan yang membuatnya bimbang. Perusahaan A merupakan Perusahaan yang terbilang sudah dapat mengimbangi pesaingnya. Sedangkan, Perusahaan B merupakan perusahaan yang lebih berkelas dan diincar banyak orang. Diasumsikan, variabel lainnya tidak berdampak pada keputusan pria tersebut.

Pria tersebut tentu saja sedang dalam tahap kebingungan antara memilih interview di Perusahaan A atau di Perusahaan B. Nyatanya, ia tahu bahwa dengan kompetensi dan pengalaman yang ia miliki, peluang keberhasilan yang ia punya untuk dapat diterima di Perusahaan B lebih kecil. Namun, ego pria tersebut mengatakan bahwa ia ingin bekerja di perusahaan terkenal yang lebih berkelas. Pria itu menimbang-nimbang lagi keputusannya. Jika ia memilih mengikuti interview di Perusahaan B, kemungkinan keberhasilannya lebih kecil. Sehingga ia harus menunggu lagi untuk lowongan perkerjaan yang ia incar dibuka. Bisa juga pria tersebut malah pada akhirnya terpaksa untuk mencari lowongan pekerjaan lain yang bukan merupakan pekerjaan impiannya. Setelah mempertimbangkan resiko yang mungkin dia dapatkan, pria tersebut mulai mengabaikan ego yang ia punya dan mulai berpikir untuk lebih realistis.

Dari permisalan tersebut, hal yang perlu kita tahu saat sedang dihadapkan pilihan dan hantu realita adalah bahwa bertahan realistis itu wajar. Dengan syarat kita sudah mempertimbangkan dengan matang terkait resiko dari pilihan yang akan kita buat. Jangan sampai seperti dalam permisalan tersebut, kita terlena oleh ego yang tinggi sehingga melupakan tujuan kita yang sebenarnya. Bertahan realistis bukan berarti menyerah saat kita sudah berjuang dan mengetahui dengan cukup terkait pilihan-pilihan di hadapan kita. Maka dari itu, jangan sampai kita berujung gambling dengan pilihan yang akan menentukan perjalanan kita di masa depan hanya karena ego semata.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini