Aku tidak tahu kapan waktunya aku untuk menyerah dengan keadaan yang terus menerus menekanku seperti ini. Ingatanku semakin lama semakin hilang. Seperti merasa jauh dari orang yang pernah aku kenal. Asing, bahkan aku tidak mengingat lagi memori tentang mereka. Sebahagia apa dulu dengan mereka? Adakah orang yang ingin membantuku untuk mengingat itu semua? Aku lupa! Semuanya hilang begitu saja.


Jauh aku melangkah untuk bertahan, namun hati terkadang mengatakan pergilah dan menjauhlah dari keadaan ini. Balik lagi aku bertanya apa yang aku nanti dari kesepian ini? Adakah satu hati yang mengertiku? Aku berbicara tapi mereka hanya tertawa di belakangku. Hanya sendiri untuk mengerti aku.


Advertisement

Aku semakin sulit untuk berharap dengan sesuatu yang mencoba meyakinkanku. Alasan terparah yang pernah aku ungkapkan adalah trauma. Trauma apa sebenarnya? Tapi mereka tidak akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku.

Biarlah hanya sendiri yang mengerti ini merasakan tidak adanya keadilan dalam hidupku. Ketika ada seseorang bertanya padaku. Dimana temanmu? Rasanya bibir sulit mengucapkan dimana mereka. Karena aku sendiri tidak tahu dimana mereka? Aku tidak pernah merasakan hal yang hangat dari seorang teman. Yang aku tahu mereka datang dengan kepediahan dan setelah aku berhasil membuat mereka tertawa lalu pergi meninggalkan.

Aku takut dendam menyelimutiku, membuatku sulit untuk memejamkan mata di malam hari. Memikirkan atas sakit yang aku rasakan. Salahkah aku atas kebencian yang sudah menusuk hingga membuatku terjatuh seperti ini. Aku berusaha bertahan sendri, memperbaiki kesalahan-kesalahan tapi tiada hasil yang membuatku semakin ingin bertahan. Hatiku selalu berkata pergilah dan menjauhlah dari keadaan karena hanya sendiri untuk mengerti rasa kesal dan sakit ini.

Advertisement

Aku terus berlalu, berjalan dan melangkah bahkan aku tidak bosan mencari dimana kebahagian yang katanya akan datang di hari nanti. Ku renungi lagi berapa usia ku hari ini. 25 tahun hidup dengan rasa sepi yang ingin menghentikan langkah ini. Menjauhkan diri dari siapapun. Tak ingin lagi melihat semua keterpurukanku. Aku ingin pergi dengan senyuman dan memejamkan mata dengan pikiran kosong. Tak ada lagi sakit yang selalu menghakimiku untuk dendam. Tak ada lagi perasaan takut kehilangan. Tak ada lagi gelisah menjalani hari esok.

Aku seakan tahu kapan waktu untuk aku berhenti. Mungkin sedikit lagi dari harapanku yang semakin hari semakin hilang. Ingatanku yang tak pernah kembali lagi dan tak berhasil mengingat untuk apa aku hidup. Hanya sendiri untuk mengerti jalan ini. Biarlah aku pergi dengan meninggalkan semua penyesalan, kegagalan, dan kekesalan yang pernah ada.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya