Aku lelah dalam menghadapi semua drama yang telah ku alami tentang "Cinta" pada saat aku duduk dibangku SMA. Aku selalu berusaha menjadi "wanita terbaik" untuk mantan kekasihku. Dua kali aku berpacaran, dua kali aku membuka hati untuk mereka, dan dua kali pula aku harus merasakan indahnya sakit hati yang mendalam karena merekalah yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

Hanya itu saja yang terjadi. Lelah hati, pikiran, sakit batin yang mendalam. Aku memutuskan untuk tidak membuka hatiku untuk siapapun yang datang walaupun hanya sekedar singgah, mampir bertamu, dan lainnya.

Advertisement

Dan benar, terjadilah. Pada saat aku duduk dibangku kuliah, disitulah aku genap 2 tahun untuk be my self tanpa seorang kekasih dan disitulah datang seorang pria yang membuka hatinya untukku, dan lagi-lagi aku membuka hati, dan ini untuknya.

Dan terjadilah, dia kekasihku, dan dia menceritakan bahwa dia pertama kali dalam menjalankan jalinan hubungan asmara ini. Baiklah itu tidak buruk. Namun, selang berapa bulan kemudian dia melakukan kesalahan yang amat sangat besar.

Dia melakukan semuanya seenaknya, semaunya, sesenangnya sampai rasa cinta dan sayangku dalam sekejap hilang untuknya. Dan disitulah puncak lelahku muncul, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, dan lagi-lagi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuka hatiku pada siapapun. Apakah itu hanya fiktif belaka?

Advertisement

Munculah rasa sakit hati itu yang dulu aku rasakan kini kurasakan kembali, dan sangat menyiksa batinku bertubi-tubi. Seseorang yang sempat kuanggap spesial dihatiku memiliki kesalahan yang sama persis seperti dua orang yang pernah kuanggap sebagai spesial pula.

Aku membuat perjanjian kembali pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membuka hati lagi kepada siapapun. Karena aku amat sangat mengerti bagaimana luar biasa indahnya drama percintaan dan luar biasa buruknya drama percintaan yang hanya mampu membahagiakanku dalam waktu sekejap.

Haruskah aku melakukan ini, dengan menutup hati kepada siapapun? Apakah ini akan benar-benar kujalankan? Atau karena diriku saja yang tidak mampu lagi menerima pahitnya sebuah drama percintaan selanjutnya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya