Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang sedang berbeban berat. Apapun masalahnya, saya tidak tahu. Mungkin bisa saja mengidap penyakit, kehilangan orang yang dicintai, atau beban berat pekerjaan. Suatu hal yang wajar bila hal-hal ini menjadikan kita menarik diri atau mellow. Saya pun pernah bersikap demikian. Rasanya ingin menyerah saja atau tenggelam dalam kesedihan.

Tetapi ada suatu titik di dalam kehidupan, yang memaksa saya untuk menentukan pilihan. Sampai kapan saya akan membiarkan diri saya tenggelam dalam kesia-siaan? Setidaknya bila saya mencoba membuat keputusan yang baru, akan ada hasil yang baru juga. Memang tidak menjamin seratus persen masalah itu hilang, tetapi setidaknya saya sudah mencoba.

Advertisement

Saya percaya kita tidak dilahirkan untuk sekedar menerima nasib. Segala sesuatu bisa berubah. Untuk suatu perubahan diperlukan tindakan. Jangan hanya berandai-andai. Banyak orang berandai-andai ingin menjadi orang kaya, sukses, terkenal, punya pacar , punya badan bagus, dan lain-lain tetapi tidak disertai usaha yang maksimal. Mulailah bertindak! Sekecil apapun itu, akan ada efeknya dibandingkan hanya berdiam diri.

Seorang teman saya tiga tahun berturut-turut gagal mendapat beasiswa. Pada tahun keempat ia mencoba, ia akhirnya mendapatkannya. Selama tahun-tahun kegagalannya, ia menjadi bahan ejekan di keluarganya karena kursus bahasa asing yang ia ambil hanya terkesan buang-buang waktu dan uang. Tetapi saat ini, ia bisa menikmati studi di luar negeri dengan uang saku bulanan yang mencukupi.

Saya juga kenal seorang pendiri restoran, yang sebelum memulai usahanya ia mencoba 114 kali untuk menemukan resep yang tepat. Pada percobaan ketujuh puluh, ia merasa usahanya sia-sia dan melelahkan. Ia hampir berhenti. Tetapi untung tidak dilakukannya. Sekarang cabang restorannya sudah tersebar di Jakarta dan sekitarnya.

Advertisement

Nilai saya di bidang matematika, fisika, kimia, dan segala jenis mata pelajaran hitungan hancur berantakan. Membuat saya merasa rendah diri ketika SMA. Sering saya mendapat nilai matematika terendah di kelas. Saya pernah dapat nilai 0,5 alias setengah. Yang paling rendah adalah 0,3 dari nilai maksimal 10. Dan saat itu ada guru yang sengaja memanggil saya ke depan untuk menyerahkan nilai tersebut. Saya sudah berusaha mati-matian ketika itu tetapi tidak ada hasilnya. Saat itu saya bisa menerima memang saya tidak ada bakat di bidang itu.

Bagi orang lain, mungkin ini masalah sepele. Tetapi bagi saya, selama dua tahun lebih dengan nilai-nilai seperti itu, bukanlah sesuatu yang enteng. Tetapi kemudian saya tidak berdiam diri begitu saja. Saya menebus nilai-nilai tersebut pada bidang-bidang yang lain. Secara mengejutkan saya juga berhasil melalui UMPTN (SPMB/SMPTN di masa sekarang) yang salah satu ujiannya adalah matematika. Saya ingat, saat itu saya belajar berhari-hari menjawab soal-soal matematika dari buku-buku yang saya beli.

Singkat kata, saya bisa meneruskan kuliah saya di Universitas Indonesia. Termasuk pula melanjutkan jenjang pendidikan S2 di tempat yang sama. Dan beberapa tahun terakhir, saya mendapat kesempatan mengikuti berbagai training di luar negeri.

Andai ketika SMA saya mencap diri saya bodoh dan tidak ada bakat, atau mungkin bisa saja saya meratapi nasib dengan nilai-nilai yang di bawah angka 1, mungkin saya tidak akan pernah berkuliah di UI. Saya akan menyerah pada nasib. Saya menerima keberadaan sebagai remaja yang gagal. Tetapi, ternyata yang saya lakukan tidaklah demikian.

Berbagai contoh yang saya berikan bukan untuk menyombongkan diri. Tetapi sebagai bukti bahwa orang-orang biasa pun bisa bangkit dan membuat perubahan dalam hidupnya. Untuk ukuran masyarakat umum, mungkin saya bukan orang sukses. Namun andaikan saya bisa menemui diri saya di masa remaja, saya bisa berkata kepadanya:

"Hei! Kamu bukan orang gagal, nasibmu bisa berubah!"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya