Sejarah Unik Nama Piccadilly Circus

Robert Baker mungkin seorang penjahit yang kurang beruntung. Kiprah dan spesialisasinya sebagai penjahit telah membuat dirinya tidak lebih terkenal dari hasil karyanya sendiri. Pria British tersebut merupakan pemula tren kerah bundar lebar, sebuah aksesori busana yang menandakan kelas sosial di Inggris pada abad ke-16. Kerah lebar tersebut biasa disebut “tudor ruff” atau “piccadill”, kata yang menjadi asal mula penamaan sebuah daerah di pusat kota London, Piccadilly.

Hmmm, sejarah penamaan yang unik, bukan? Saya pun bertanya-tanya, mengapa daerah di pusat kota di London ini diberi nama yang sama dengan nama kerah baju ya?

Advertisement

Kerah, seperti yang kita tahu, merupakan bagian atas dari pakaian yang menutupi daerah leher. Kerah berfungsi sebagai penghalau hawa dingin bagi leher. Ada berbagai jenis kerah yang kita kenal, mulai dari kerah kemeja, kerah Shanghay, turtle neck, hingga kerah tumpuk.

Kerah sering kali identik dengan kelas sosial. Misalnya dalam budaya Sunda, pakaian Salontreng dirancang tanpa kerah karena mencirikan kesederhanaan. Pentingnya kerah dalam aspek sosial manusia membuat kita bahkan punya idiom tertentu yang menggunakan kata “kerah”, misalnya “kerah biru”, sebutan untuk kelas pekerja; dan ada “kerah putih”, sebutan untuk kelas politik dan ekonomi tinggi. Bahkan, ada “kerah merah”, sebutan untuk teroris.

Aksesori pakaian ini menjadi tren sejak pengunaannya mewakili kelas sosial pemakainya. Itu pula lah yang berlaku di Inggris pada abad ke-16. Ada beberapa jenis kerah yang popular pada masa itu.

Advertisement

Ada kerah perahu, atau biasa disebut “The Boat”. Kerah yang berbentuk memanjang ke belakang ini memiliki bahan yang kaku. Seorang tokoh British yang dikenal sering mengenakan pakaian dengan kerah jenis ini adalah William Shakespeare. Sastrawan Inggris ini memiliki gaya berpakaian yang mewakili masyarakat sipil dan pengusaha pada abad ke-16.

Selain The Boat, ada pula “The Dracula”. Ini adalah kerah dengan ujung lancip, seperti yang dikenakan oleh Count Dracula. Tokoh mitologi dari Eropa Barat pada abad ke-18 ini memang merupakan tokoh fiktif. Namun, Bram Stoker mendeskripsikannya dengan sangat nyata pada novel horor Dracula yang diterbitkan tahun 1897.

Sejak buku tersebut terbit hingga sekarang, tokoh Dracula selalu digambarkan bergigi taring panjang dan bermata keji. Ia juga selalu berpakaian rapi dan mewah, biasanya dengan tuxedo bersayap serta kerah lancip. Kerah inilah yang disebut “The Dracula”. Orang yang berpakaian dengan aksesori kerah jenis ini termasuk dalam golongan sosial kelas atas.

Setelah The Boat dan The Dracula, ada kerah yang biasa kita lihat pada kemeja-kemeja formal masa kini, namanya “starched white”. Dulu, di Inggris, kerah jenis ini biasa dikenakan oleh rakyat biasa karena menunjukkan kesederhanaan. Sampai sekarang pun, kerah jenis inilah yang banyak digunakan dalam pakaian kita sehari-hari.

Selain ketiga jenis kerah itu, yang paling unik adalah Tudor ruff. Kerah jenis ini berbahan sutra, kaku, dan menyerupai renda lebar, bundar, yang mengelilingi leher. Biasanya berwarna putih. Semakin kaku, semakin bagus. Semakin tebal bertumpuk, semakin tinggi pula kelas sosial orang yang mengenakannya. Kerah ini mewakili kelas bangsawan abad ke-15, era Tudor, yaitu periode yang berlangsung pada tahun 1485 hingga 1603 di England dan Wales.

Periode Tudor meliputi pula dinasti Elisabeth dan Henry ke-7. Di Indonesia sendiri, Tudor ruff pernah popular pada masa-masa awal kedatangan VOC, yaitu sekitar tahun 1600-an. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen seringkali digambarkan mengenakan pakaian dinas dengan kerah jenis Tudor Ruff ini.

Memang, Tudor ruff menunjukkan kelas sosial tinggi di masyarakat Eropa Barat pada abad ke-16. Sejarah ini berawal dari seorang penjahit yang membuka bisnis konveksi dan juga toko di rumahnya, di kawasan pusat kota London. Ia bernama Robert Baker. Robert Baker mengerjakan pesanan pakaian dari berbagai kalangan masyarakat di London pada masa itu, terutama yang berdomisili di sekitar bundaran yang kini dikenal dengan wilayah West End London, di City of Westminster. Dulu, pada 1692, alun-alun ini disebut jalan Portugal, dinamai demikian untuk menghormati Catherine of Braganza, yaitu permaisuri raja Charles II dari England.

Namun, pada tahun 1743, wilayah di sekitar bundaran ini terkenal karena banyak didatangi oleh masyarakat dari berbagai kalangan yang membeli atau memesan pakaian dari Robert Baker. Keahlian Robert Baker yang paling masyur adalah membuat kerah bundar dari bahan sutra tebal, yang sangat identik dengan kalangan elite pada era Tudor. Mereka menyebut kerah ini piccadill.

Saking populernya kerah jenis ini, nama “piccadill” menjadi metonimia, sebutan yang mewakili semua jenis kerah. Sama seperti saat kita menyebut “odol” untuk semua merk pasta gigi, kerah jenis The Boat, The Dracula, dan Starched White juga disebut "Piccadill". Karena saat itu setiap orang yang ingin dibuatkan piccadill datang ke rumah Robert Baker, kawasan itu menjadi terkenal dengan sebutan “Piccadilly”.

Saat Robert Baker tiada, bangunan rumahnya tetap berdiri dan pada tahun 1819, daerah tersebut diberi nama “Piccadilly Circus”. Kata “circus” yang menempel pada nama tersebut tidak mengacu pada pertunjukan hewan dan atraksi berbahaya seperti yang kita kenal, tetapi mengacu pada wilayah berbentuk bundaran, tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai kalangan. Sejak saat itu, tempat ini berfungsi sebagai alun-alun kota.

Kini, daerah Piccadilly Circus ditandai dengan sebuah patung besar di tengah bundaran dengan puncak berupa figur cupid yang terbuat dari alumunium. Tempat ini sangat populer dan menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan yang mampir ke London. Persimpangan jalan Shaftesbury Avenue, Coventry Street, dan Glasshouse Street ini biasa dijadikan tempat janjian yang asyik karena di sekelilingnya terdapat banyak tempat “nongkrong”, toko-toko terkenal, dan landmark lainnya, seperti Criterion Theater, Shaftesbury Memorial, China Town, Hyde Park, dan London Pavilion. Yang terakhir ini terkenal sebagai pusat pertokoan, serta tempat pertunjukan musik dan bioskop.

Seperti asal-usul namanya, piccadilly, kawasan Piccadilly Circus telah bertransformasi menjadi “mangkuk salad”, tempat bertemunya berbagai jenis karakter budaya dari berbagai belahan dunia. Tak heran, jika Anda menginjakkan kaki di tempat ini, Anda akan merasakan energi yang besar yang membuat Anda memahami indahnya keberagaman. Inilah Piccadilly Circus, tempat yang menawarkan keramahan multikultur, tempat warga London merasakan heterogenitas.

Saya tertegun. “Piccadill” yang bermakna “berbagai jenis kerah” seakan-akan menjelaskan mengapa kawasan ini tidak dinamai Robert Baker Street atau Robert Baker Junction. Gagasan tentang heterogenitas itu ternyata tersirat dalam nama “Piccadilly Circus”. Di sinilah kita dapat menemui berbagai jenis “kerah”. Di Picadilly inilah kita melihat keragaman dan memahaminya sebagai sebuah keniscayaan.

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya