Hidup Minimalis dengan Optimis di Antara Ingar Bingar Hedonisme

Seperti yang kita ketahui, globalisasi merupakan suatu keadaan yang terjadi di zaman sekarang. Globalisasi membuat kebudayaan luar masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah hedonisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Advertisement

Dalam Islam dikenal istilah mubazir. Mubazir diartikan menjadi sia-sia atau tidak berguna, terbuang-buang (karena berlebihan), bersifat memboroskan, dan berlebihan. Sering kali mubazir diartikan dalam konteks membuang-buang makanan. Padahal, konteks mubazir sebenarnya tidak hanya pada makanan. Mubazir juga bisa terjadi pada barang-barang yang digunakan. Barang-barang itu seperti baju, kendaraan, sepatu, keperluan dapur, dan masih banyak lagi.

Masuknya budaya luar ke Indonesia membuat beberapa orang tidak ingin ketinggalan trend. Setiap ada mode baru, banyak yang ingin memiliki walaupun barang lama masih bisa digunakan. Bahkan mungkin masih jarang digunakan. Misalnya yang paling umum adalah tas, sepatu, dan baju.

Banyak orang resah karena merasa barang yang mereka miliki hanya sedikit. Mereka bingung mau pakai baju, tas, dan sepatu yang mana setiap ada acara yang akan didatangi. Padahal, barang-barang yang dimiliki tergolong masih banyak dan baru dipakai sekali. Hal seperti ini terjadi pada orang-orang di sekeliling saya juga saya sendiri.

Advertisement

Belum lama ini, saya merasakan hal semacam itu ketika menjadi mahasiswa baru. Setiap hari, saya bingung menentukan outfit apa yang mau saya pakai. Jika dipikir-pikir, yang menciptakan ketidaknyamanan adalah saya sendiri. Saya menyalahkan keadaan karena tidak adanya budget untuk membeli baju yang lebih banyak. Teman-teman saya pun bercerita mengalami hal demikian.

Secara tidak langsung, saya dan teman-teman saya itu sebenarnya sama. Sama-sama ingin terlihat punya banyak baju satu sama lain agar orang lain tidak berpikir bahwa baju yang dipakai hanya itu-itu saja. Tidak salah jika seseorang ingin terlihat menarik, terutama dalam berpenampilan. Akan tetapi, untuk apa kita menarik perhatian orang lain ketika diri sendiri merasa tertekan?

Advertisement

Salah satu sikap tidak mau kalah dari orang lain merupakan satu hal yang memunculkan sifat hedonisme. Bahkan, sifat hedonisme sendiri dapat memunculkan berbagai masalah. Banyak di sekeliling saya yang berhutang demi memenuhi trend. Jika trend barang menjadi lebih penting dari makanan dan kebutuhan primer lain, tentu hal ini sangat disayangkan.

Adanya kondisi semacam itu membuat saya berpikir bahwa berdamai dengan keadaan adalah sebuah solusi yang terbaik. Dengan menerima keadaan kita selama kita tidak berbuat kesalahan, itu sudah lebih dari cukup. Lebih baik memiliki sedikit barang yang bermanfaat daripada banyak barang tetapi tidak pernah dipakai. 

Pemikiran itu membuat saya percaya diri dengan baju yang itu-itu saja. Itu-itu saja bukan berarti hanya ada 1 atau 2 baju. Tetapi, ada beberapa baju yang cukup untuk dipakai setiap minggunya. Selama baju itu bersih, rapi, dan wangi tidak masalah jika dipakai setiap minggu.

Keadaan semacam ini bisa disebut hidup minimalis. Hidup minimalis bukan berarti hidup yang pelit. Hidup minimalis yaitu hidup yang berorientasi pada kebutuhan dan bukan hanya keinginan semata. Hidup minimalis mengedepankan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Selama barang yang dimiliki masih bisa dipakai dengan baik, tidak perlu menambah barang baru yang sejenis hanya karena keinginan.

Dengan hidup minimalis, kita menjadi lebih hemat dalam hal keuangan. Selain itu, dengan sedikitnya barang yang kita miliki akan memudahkan kita dalam merawat barang tersebut. Jika banyak barang yang dimiliki tetapi tidak pernah dipakai dan dirawat, akan membuat barang tersebut menjadi rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Secara tidak langsung, hidup minimalis juga berkontribusi pada lingkungan. Dengan hidup minimalis sesuai kebutuhan, kita mengurangi adanya sampah atau barang yang tidak terpakai.

Di era sekarang, saya mencoba untuk berpikir lebih dewasa. Saya mendorong diri saya untuk bisa menyaring mana yang baik dan kurang baik. Kemudian, memilah apa yang seharusnya saya lakukan dan saya hindari. Dengan berbagai keuntungan hidup minimalis, mengapa saya harus malu menjalaninya?

Menjadi minimalis membuat diri saya merasa jauh lebih tenang dan damai. Ketika banyak orang yang memiliki outfit beragam di luar sana, saya tidak merasa iri ataupun rendah diri. Karena konteks hidup minimalis ternyata membuat diri jauh lebih tidak terbebani. Dampaknya pun baik lingkungan. Maka dari itu, hidup minimalis harus optimis.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa

CLOSE