Tidak semua orang sukses mulai perjalanan mereka dengan mudahnya. Malah, kebanyakan dari orang sukses mulai dari titik awal yang sangat susah. Kondisi sulit itulah yang menjadi motivasi bagi orang untuk bekerja keras. Selama perjalanan hidup mereka, mereka membangun hidup mereka masing-masing dari nol, sehingga mereka mencapai titik puncak. Perjuangan merekalah yang membuat mereka sukses. Kondisi ini terjadi di hidup mantan Chief Executive Officer perusahaan nikel PT. International Nickel Indonesia (Inco), Bapak Ir. Rumengan Musu.

Beliau mulai kehidupannya di sebuah wilayah terkenal di Sulawesi Selatan, Tana Toraja Bapak Rumengan lahir pada tanggal 13 April 1937 di Makale, Tana Toraja. Beliau adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Ayahnya beliau yang bernama Daniel Musu adalah seorang polisi, dan ibunya adalah Maria Galax, yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Advertisement

Sayangnya, dengan begitu banyak anak untuk dirawat, kadang-kadang kondisi finansial tidak dapat mencukupi satu keluarga tersebut. Namun, kondisi itu tidak menghentikan Bapak Rumengan untuk tetap berjuang untuk mencapai sebuah prestasi.

Pendidikan beliau dimulai di kampung halamannya. Dari tingkat SD hingga SMP, beliau hanya bersekolah di Tana Toraja. Untuk pendidikan SMA, beliau berpindah ke Makasasar, untuk bersekolah di SMA Katolik Makassar. Tetapi karena kerja kerasnya, beliau mampu melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung dan lulus dengan gelar Sarjana 1 di teknik pertambangan. Sebelum mengambil pertambangan, beliau sempat mengambil jurusan teknik sipil.

Beliau sadar bahwa teknik sipil tidak sesuai dengan minatnya, dan beliau akhirnya berpindah ke pertambangan. “Awalnya, saya tidak memiliki keputusan tertentu terhadap jurusan apa yang ingin diambil. Pada tahun pertama mengambil teknik sipil, kami belajar mengenai garis arsir, yang saya tidak suka.

Advertisement

Oleh karena itu, saya berfikir untuk berpindah ke pertambangan karena saya suka jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat baru. Saya sering mengunjungi tempat pertambangan sehingga saya bisa melihat banyak dari kepulauannya Indonesia,” kata Bapak Rumengan. Katanya beliau, beliau beruntung karena aktif dalam organisasi mahasiswa. Pada suatu saat, beliau bersama teman-temannya sedang mengadakan rapat di salah satu rumah temannya. Kebetulan, ayah dari teman tersebut adalah direktur perusahaan Aneka Tambang. Karena hubungan itu, saat Bapak Rumengan melamar kerja di Aneka Tambang, beliau tidak perlu melalui tahap wawancara, dan langsung diterima.

Pada tahun 1968, beliau pindah perusahaan ke PT. Inco Canada membuat kontrak kerja dengan Presiden Soeharto. Direktur PT. Inco Canada pun langsung ingin merekrut Bapak Rumengan untuk bekerja di perusahaan Inco. “Pada tahun itu, saya baru saja menikah, tanggal 23 Juli. Empat hari kemudia, saya bersama istri saya pindah ke Jakarta.

Saat tiba, saya mendapat sebuah surat dari direktur Inco yang meminta Aneka Tambang untuk melepas saya agar saya bekerja untuk Inco,” katanya. Direktur Inco Canada ingin langsung merekrut Bapak Rumengan karena Bapak Rumengan yang sempat membantu ahli geologi Canada dalam eksplorasi di daerah Sorowako, Sulawesi Selatan selama tiga bulan.

Sejak tahun pertama PT. Inco memiliki kontrak kerja di Indonesia hingga tahun 2002, Bapak Rumengan bekerja di PT. Inco. Selama 34 tahun bekerja, beliau berada dalam sepuluh posisi yang berbeda. Saat pertama kali masuk, beliau menjadi officer manager di Makassar. Seiring berjalannya waktu, posisi beliau ditingkatkan menjadi wakil direktur dalam pengoperasian yang terjadi dalam perusahaan PT. Inco, sehingga menjadi Presiden Direktur dan Chief Executive Officer perusahaan tersebut.

“Saya tidak pernah punya rencana atau motivasi untuk mendapatkan posisi tinggi tersebut. Tetapi karena integritas saya, saya menunjukkan kepada para petinggi PT. Inco Kanada bahwa saya orang yang baik dan bekerja dengan keras,” katanya Bapak Rumengan. Tidak hanya jalan-jalan dan eksplorasi kepulauan Indonesia, Bapak Rumengan memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara lain. Beliau ditugaskan untuk mengikuti rapat dengan institusi nikel setiap tahunnya di negara-negara maju seperti Amerika dan Belanda. Beliau juga dikirim ke University of Ontario, Kanada, untuk training lebih lanjut dan ke Jepang untuk mewakili Asia untuk pembahasan mengenai nikel di dunia.

Menurut beliau, sepanjang karirnya, beliau harus tetap menginspirasi orang lain, khususnya saat sudah dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi. Dengan posisi yang tinggi, beliau sering ditugaskan untuk merekrut orang muda yang berpotensi tinggi, dan dari sana, beliau mengajar dan mengembangkan orang-orang muda itu, agar mereka bisa berada di posisi yang tinggi saat waktu mereka datang. Dengan pencapaian yang tinggi, beliau pasti akan menghadapi masalah.

Saat Bapak Rumengan menjadi seorang wakil direktur bersama beberapa orang lainnya, semua orang akan tahu bahwa beliau akan diangkat menjadi direktur. Tetapi wakil lainnya merasa iri dan tidak adil, mereka memfitnah Bapak Rumengan dengan argument bahwa Bapak Rumengan bukan orang Jawa. Tujuan fitnah tersebut adalah agar Bapak Rumengan tidak diangkat menjadi direktur. Tetapi kata beliau, “Mereka tidak tahu bahwa direktur Inco Kanada sudah memiliki rencana untuk saya sejak 16 tahun yang lalu untuk menjadi direktur Inco Indonesia.”

Setelah perjalanan yang panjang, saat beranjak usia 65 tahun, Bapak Rumengan pensiun dari PT. Inco. Karirnya belum berhenti di situ, pada tanggal 27 Agustus 2002, Bapak Rumengan diangkat menjadi wakil komisaris utama untuk PT. Inco. Beliau menjadi komisaris hingga bulan April 2009.

“Bisa dikatakan bahwa saya memberi dan bekerja banyak bagi perusahaan Inco,” katanya, “saya sering sibuk, sering merasa lelah, kadang-kadang tidak bisa dinikmati.” Walaupun mendapatkan pekerjaan yang melelahkan, Bapak Rumengan telah berkontribusi banyak bagi perusahaan PT. Inco beserta orang-orang di dalamnya. Beliau juga telah menerima banyak pengalaman untuk sendirinya, yang bisa mengembangkan diri beliau sendiri.

Sekarang, beliau tinggal di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Walaupun sudah pensiun, beliau masih membaca buku, khususnya mengenai keuangan dan akuntasi. Beliau tidak berhenti belajar. Karena sudah dalam usia yang tua, beliau juga masih sadar untuk menjaga kesehatannya. Beliau sering mengunjungi rumah sakit untuk mengecek kondisi tubuhnya, agar tidak terkena penyakit.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya