Pada masa pertumbuhan, otak seorang remaja kerap diramaikan dengan pikiran dan perasaan yang bercampur aduk. Menyambung konsep itu, perkembangan suatu kota tidak terlepas dari kondisi lingkungannya yang ramai dan padat. Inilah kondisi yang dialami Jakarta sejak beberapa dekade yang lalu.


Menyambut tantangan ini, pemerintah setempat tentu telah berupaya banyak untuk memperbaiki keadaan. Salah satu upayanya yang berdampak secara langsung adalah dalam bentuk perkembangan sistem infrastruktur. Perkembangan macam ini yang secara umum diketahui oleh masyarakat adalah pembangunan flyover dan underpass. Akan tetapi, upaya pemerintah tidak terpaku pada pembangunan sektor itu saja. Sistem penyebrangan lalu lintas pun dikembangkan.

Advertisement

Upaya pengembangan sistem penyebrangan lalu lintas paling sering terlihat di daerah Jakarta Pusa dan salah satu produk baru yang diperkenalkan mengenai hal ini adalah “Push-to-Walk Button” atau tombol pedestrian. Salah satu dari sistem perangkat tombol tersebut terletak di depan Mall Ambassador Kuningan.

Sekiranya lima tahun yang lalu, saya melihat perangkat tombol pedestrian itu di depan Mall Ambassador Kuningan. Waktu itu, saya pertama kali melihat tombol secanggih itu di Indonesia. Sebagai penduduk Jakarta, saya bangga melihat kota ini berkembang pesat bukan hanya pada proyek berskala besar, tetapi juga hal-hal kecil seperti ini.


Akan tetapi beberapa hari yang lalu, pada saat saya berkunjung ke tempat tersebut, tombol pedestrian itu sudah tidak berfungsi.


Advertisement

Bahkan petugas security yang sedang bekerja di tempat itu tidak mengetahui mengapa tombolnya sudah dimatikan fungsinya, atau kapan terkahir tombol itu dipakai. Entahlah, mungkin hal ini baru terjadi, atau bisa saja saya sendiri yang baru sadar. Yang pasti, hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa masyarakat belum menangkap konsep tujuan diciptakan tombol ini dengan baik. Mereka belum melihat obyek ini sebagai solusi yang akan berdampak positif.

Sebelum mengamati dampak positif dari sistem tombol pedestrian tersebut, mari kita lihat tradisi masyarakat Jakarta dalam menyebrang jalan. Pertama, pejalan kaki tidak selalu menyebrang pada zebra cross. Seringkali bagian jalan yang agak sepi, atau yang bersifat jalan pintas ke tujuan menjadi tempat para pejalan kaki untuk menyebrang. Dalam istilah barat, orang-orang ini kerap disebut sebagai jaywalkers, alias pemotong jalan.


Kalaupun para pejalan kaki menyebrang di lampu merah, tidak jarang jika polisi petugas lalu lintas ikut turun tangan dalam meniupkan peluitnya untuk mendampingi. Saya sering melihat hal ini terjadi di perempatan Mampang-Kuningan, Jakarta Selatan.


Jika menyebrang dengan bantuan arahan polisi masih terdengar biasa saja bagi Anda, bagaimana jika seseorang menyeberang jalan dengan menerobos sesuka hatinya? Bahkan hal itu kerap terjadi di Jakarta.

Oleh karena itu, mari kita amati cara penggunaan perangkat tombol penyeberangan. Pertama, amati kondisi jalan yang ingin Anda disebrangi. Jika lampu pedestrian berwarna hijau dan angka detik masih akan berjalan cukup lama, Anda diperbolehkan untuk menyebrang jalan. Namun, jika lampu pedestrian sudah merah, atau akan berpindah menjadi merah, maka Anda belum diperbolehkan untuk menyebrang jalan.

Agar bisa menyebrang, tekan tombol pedestrian yang terpasang pada tiang lampu lalu lintas. Sistem mesin tersebut akan menghitung mundur dan secara otomatis akan memutuskan untuk menghijaukan lampu pedestrian pada waktu yang tepat. Lampu pedestrian akan menjadi hijau dalam beberapa detik selanjutnya dan Anda akan bisa menyebrang jalan tersebut.

Uniknya, teknologi ini bisa dikembangan menjadi teknologi IoT (Internet of Things), di mana alat-alat kecil seperti lampu lalu lintas dapat diintegrasikan menjadi suatu sistem yang besar, sama halnya seperti smartphone dan internet. Sistem ini bisa menghimpunkan data jumlah pejalan kaki yang menyebrang di suatu daerah. Sehingga pada jalan tertentu, waktu lampu hijaunya bisa diatur sedemikian rupa agar mengurangi potensi terjadinya kemacetan.

Mari kita kembali kepada kondisi saat ini. Kebiasaan lama memang sulit untuk diubah secara bersama, terutama dalam skala makro. Namun, ada banyak dampak buruk kebiasaan ini yang bisa terjadi jika hal ini tidak dibenahi.


Salah satu dari dampak buruk ini adalah pemborosan waktu bagi pengendara.


Idealnya, tempat berhentinya kendaraan dikondisikan di persimpangan jalanan. Mereka berhenti bukan hanya menunggu kendaraan lewat dari arah lain, tetapi juga pejalan kaki yang ingin menyebrang di zebra cross yang tersedia. Lalu, apa yang akan terjadi jika para pejalan kaki tersebut bebas menyebrang di mana pun? Para pengendara tentu harus menginjak rem lebih banyak. Waktu mereka pun terbuang sia-sia.

Selain waktu, aspek tenaga kerja pun dirugikan. Bayangkan jika 50% dari semua persimpangan jalan di Jakarta masing-masing diatur oleh seorang security atau polisi lalu lintas. Berapa banyak jumlah orang yang harus ikut serta membantu menertibkan daerah lampu merah? Berapa banyak tantangan yang seharusnya bisa diselesaikan oleh sistem elektronik dan kesadaran masyarakat?


Sistem tombol yang bersifat elektronik ini memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Selain menciptakan efisiensi waktu dan tenaga kerja, teknologi ini bisa menjadi pijakan untuk terciptanya inovasi-inovasi baru (seperti sistem otomatis pendataan pejalan kaki yang telah disebutkan).


Namun kenyataannya, sistem bertenaga elektronik ini tidak akan berjalan secara berkesinambungan tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk menggunakannya dengan integritas. Hal ini disebabkan oleh kondisi mindset yang masih berkiblat ke arah konvensional, dipadukan dengan kondisi teknologi yang maju semakin cepat. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah setempat (Jakarta) mengkomunikasikan program ini dengan lebih efektif.

Tanpa edukasi dan respon positif masyarakat, tombol pedestrian tersebut hanya akan menjadi alat elektronik yang terbengkalai.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya