#HipweeCerpen-Saat Ini Hanya Tiga Kata yang Inginku Katakan Padamu, Maafkan aku, Ibu.

Pagi ini aku sangat kewalahan, aku terlambat bangun pagi. Ralat, aku sudah bangun pagi namun sengaja bersantai ria di depan televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 6.45 dan aku masih mencari kaus kaki milikku yang hilang entah kemana.

Advertisement

“Ibu… Ibu…” Begitulah panggilku.

“Ada apa, nak? Teriak-teriak kamu ini.” Jawab Ibuku pelan.

“Apa Ibu melihat kaus kaki milikku? Itu, bu yang biasa aku pakai ke sekolah. Aku sudah mencarinya kemana-mana, namun hasilnya nihil. Waktuku sudah tidak banyak lagi, nanti aku bisa terlambat ke sekolah.” Jelasku sembari mondar-mandir.

Advertisement

“Sebentar, sudah cari di keranjang pakaian?” Tanya Ibuku.

“Oh iya, ketemu. Terima kasih, bu.” Kataku cepat.

Advertisement

“Ibu kan sudah bilang, kalau sudah bangun pagi jangan santai-santai di depan televisi. Inilah akibatnya jika tidak mendengar perkataan Ibu. Walaupun sudah bangun pagi, setidaknya siapkanlah peralatan sekolahmu lebih awal. Jika sudah begini, kan Ibu juga yang repot.” Tutur Ibuku dengan rinci.

“Dah, bu. Aku berangkat dulu ya? Ceramahnya ditunda dulu ya, bye.” Jawabku sambil meninggalkan rumah dengan melambaikan kedua tanganku.

Begitulah Ibuku, tidak habis-habisnya ia menceramahiku. Aku sampai bingung bagaimana bisa begitu, apakah mulutnya tidak pernah lelah.

Ibuku adalah sosok yang sangat rajin dan pekerja keras. Bagaimana tidak, ketika aku pulang sekolah suasanya rumah sudah sangat berbeda. Tia-tiap sudut rumah kami terasa nyaman dan asri, aku saja sampai merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak hanya itu, kamarku yang mula-mula berantakan seperti kapal pecah sudah di tata dengan cantik dan rapi.

“Aku pulang…” Kataku semangat.

“Sudah pulang? Ganti seragammu dan makanlah setelah itu, Ibu sudah siapkan di meja makan ya?” Tutur Ibuku.

“Ibu mau kemana?” Tanyaku.

“Ke minimarket depan.” Jawabnya.

“Belikan cemilan ya, bu? Harus.” Kataku sedikit memaksa.

“Baiklah.” Jawab Ibuku sambil meninggalkan rumah.

Sementara Ibuku pergi, saat ini aku sedang bermain ponsel di depan televisi tepatnya dan masih mengenakan seragam sekolahku. Oh ya, aku dan Ibuku hanya hidup berdua saja di dalam rumah ini. Ayahku sudah lama meninggalkan kami karena mengalami kecelakaan saat bekerja. Aku dan Ibuku hanya berusaha untuk hidup bahagia walaupun banyak kesedihan yang menyelimuti kami.

Beberapa waktu kemudian, aku masuk ke kamarku untuk menaruh tas dan mengganti seragam sekolahku dengan pakaian rumahan. Namun ketika aku melihat kamarku telah dibersihkan oleh Ibuku aku teringat akan sesuatu, sesuatu yang aku letakkan di atas meja belajar. Aku menaruh catatan di selembar kertas, dan itu tidak ada lagi di sana. Aku terkejut dan berusaha untuk mencari kertas tersebut. Aku pikir ini semua karena Ibuku, dia telah menyentuh barang-barangku tanpa mengetahuinya bahwa semua itu sangat penting bagiku. Aku sangat membenci hal-hal seperti ini.

“Ibu, sudah pulang ternyata.” Kataku tiba-tiba.

“Taruh belanjaan Ibu di meja dapur, nak.” Kata Ibuku sambil memberikan plastik belanjaannya.

“Tunggu, bu Amel ingin bertanya. Kenapa Ibu membersihkan kamarku tanpa seizinku? Ibu telah menyentuh barang-barang milikku, dan Ibu tidak tahu kan mana yang penting dan yang tidak penting? Aku kehilangan catatan penting di meja belajar, semua ini salah Ibu. Ibu sudah sangat sering melakukan ini, aku tidak suka. Jangan seakan-akan Ibu mengerti semua tentangku, aku benci.” Tuturku dengan nada tinggi.

“Amel! Mengapa marah-marah? Kamu ini! Ibu tidak suka ya, putri Ibu bersikap begitu. Ibu tidak pernah mengajarkanmu ketidaksopanan pada orang yang lebih tua.” Kata Ibuku marah.

“Tapi Ibu salah, bu.” Sahutku ketus.

“Bagaimana bisa kamu menyalahkan Ibu? Kamarmu luar biasa berantakan, nak. Kamu ini sudah besar, sebentar lagi lulus SMA tapi tidak bisa menjaga kebersihan kamarmu. Memangnya biasanya siapa yang membersihkan kamarmu? Ibu kan, siapa lagi coba? Mengenai catatanmu itu, barangkali kamu lupa menaruhnya dimana. Pada saat Ibu merapikannya tidak ada apa pun di meja belajarmu.” Jelas Ibuku tegas.

“Sudahlah, aku malas. Kalau sampai nilaiku jelek, jangan pernah salahkan aku bu.” Sahutku sambil menuju ke kamar.

Setelah melakukan perdebatan dengan Ibuku, aku merasa panas dan kesal. Tiba-tiba aku mendapatkan telepon dari temanku, dia menyuruhku untuk membagikan catatan pelajaran hari ini dan dikirimkan lewat e-mail. Tidak membutuhkan banyak waktu, aku langsung membuka ransel sekolahku dan mengambil catatan itu. Aku terkejut, tidak kusangka catatan dengan selembar kertas yang aku kira ditaruh di atas meja belajar ternyata ada di dalam ransel ini. Betapa jahatnya aku telah memarahi Ibuku, padahal nyatanya Ibuku tidaklah bersalah. Ternyata memang benar jika aku sangatlah ceroboh dan lupa menaruhnya. Aku sangat menyesal, namun aku belum bisa mengatakan maaf pada Ibuku.

Hari ini aku berkesampatan diberikan kelulusan dengan nilai yang cukup baik. Setelah melalui perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Kali ini aku memutuskan akan melanjutkan pendidikanku, yakni berkuliah di salah satu universitas yang ada di daerahku. Sebenarnya aku sangat menginginkan untuk berkuliah di luar kota, namun biayanya belum mencukupi.

“Bu, aku mau kuliah.” Kataku.

“Begitu ya? Baguslah, Ibu selalu mendukungmu.” Kata Ibuku.

“Tapi bagaimana dengan biayanya, bu? Apa Ibu sanggup?” Tanyaku serius.

Ibuku tersenyum, “Kamu tinggal menjalaninya, ya nak? Ibu akan berusaha sekuat tenaga agar kamu dapat berkuliah. Ibu juga sangat ingin melihatmu menjadi seorang sarjana.” Tutur Ibuku.

“Baiklah, bu. Aku akan mengambil jurusan hukum, bagaimana?” Tanyaku.

“Benarkah? Ibu sangat setuju dengan keputusanmu, semoga berhasil ya nak.” Jawab Ibuku semangat.

Di lain hari ketika aku sedang bersantai di sofa…

“Amel…” Panggil Ibuku.

“Hemmm… Kenapa sih, bu?” Jawabku malas.

“Tolong bersihkan jendela rumah kita, ya? Sudah sangat kotor, tidak enak jika di lihat tetangga. Sudah sana, jangan bermalas-malasan.” Ucap Ibuku sambil memberikan kain pembersih.

“Aduh, bu. Nanti saja, ya? Sebentar lagi, lah. Aku ingin merasakan rasanya bersantai, aku sangat lelah belajar dengan keras.” Kataku sambil merengek.

“Kamu ini, belum berubah juga dari dulu. Cobalah jangan seperti itu, kamu harus rajin agar nanti banyak di senangi oleh orang lain. Apalagi jika amu bekerja nantinya. Kamu ini tidak bisa apa-apa.” Tutur Ibuku sambil menatapku.

“Iya bu, iya. Akan aku lakukan, Ibu ini cerewet sekali sih.” Sahutku cepat.

Entah mendapatkan angin dari mana, aku tiba-tiba menginginkan untuk menyapu lantai. Mungkin aku hanya bosan saja.

“Wah, putri Ibu rajin sekali. Beginilah yang Ibu suka, masa anak Ibu malas. Iya kan?” Kata Ibuku sambil tersenyum

“Itu jangan di tinggal sisanya, yang bersih. Kamu mau nenti mendapatkan suami yang berewokan? Tidak kan?” Tambah Ibuku.

“Iya, bu. Kenapa sih Ibu selalu menceramahiku? Aku juga tahu harus bagaimana, aku bukan anak kecil.” Jawabku tegas.

Ibuku terdiam…

Tidak terasa sudah empat tahun aku berkuliah, sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana. Perasaanku sudah tidak dapat di bendung karena rasa senang yang berlebihan. Hari ini aku sudah resmi lulus dan sekaligus memakai toga wisuda yang sangat elok, sebagai bentuk perjuanganku selama ini. Ibuku sangat senang bisa melihatku lulus sebagai seorang sarjana hukum seperti yang telah di idam-idamkannya selama ini.

Namun sekarang Ibuku tidak bisa berjalan lama-lama karena ada sakit yang ia derita. Ibuku terjatuh di kamar mandi beberapa minggu yang lalu, dan menyebabkan kakinya terasa sakit yang mendalam hingga saat ini. Ibuku sudah berumur dan uban di kepalanya sudah terlihat, jalannya sudah lambat tidak seperti dulu ketika  aku masih sekolah SMA. Kini ia sering sekali merasakan sakit, bahkan sehari-hari ia terus menangis kesakitan karena kakinya itu. Aku sudah berusaha membawanya ke dokter dan melakukan pengobatan, namun hasilnya tidak ada.

Tangisan yang selalu kudengar setiap harinya membuatku merasa gundah dan frustasi. Aku merasa stres dan gelisah, apalagi hanya ada aku di rumah ini. Aku merasa seperti orang yang sangat sial di dunia ini jika terus menerus.

“Bu…” Panggilku saat Ibuku berada di kamarnya.

“Ada apa, nak?” Jawab Ibuku.

“Aku akan menikah.” Kataku pelan.

Hari ini adalah hari pernikahan yang aku tunggu-tunggu. Saat ini aku dan keluarga calon suamiku sudah berada di masjid, ya karena kami memilih untuk melangsungkan akad nikah di masjid ini.

“Bagaimana saksi? Sah?” Tanya penghulu itu.

“Sah…” Jawab para tamu undangan.

Namun tiba-tiba Ibuku terjungkal dengan sendirinya. Tanpa aba-aba aku langsung menghampirinya dan kami segera membawa Ibuku ke rumah sakit. Tidak lama kami di perjalanan, setelah sampai di rumah sakit dan Ibuku di periksa oleh dokter. Namun sangat disesalkan sekali, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagiku berubah menjadi hari yang menyedihkan. Ibuku telah meninggalkanku di dunia ini.

Aku sangat terpuruk. Begitu cepat ia meninggalkanku di sini sedangkan aku masih banyak berhutang kepadanya. Kesalahan-kesalahan yang kuperbuat selama ini, perlawananku terhadapnya, dan masih banyak hal yang ingin kuperbaiki, dan belum sempat pula aku meminta maaf kepadanya. Teringat saat ia memarahiku, menasehatiku, membuatku kesal, sampai merepotkannya, semua hal itu salah di mataku. Kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Ibuku salah satunya ketika ia mengatakan “Kamu tidak bisa apa-apa” membuatku menangis deras, padahal aku ingin membuktikan bahwa aku dapat menjadi orang yang bisa di andalkan olehnya, Ibu. Saat ini hanya tiga kata yang ingin ku katakan padamu, “Maafkan aku, Ibu.”

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE