#HipweeDaebak–Aku Cinta Kamu, Oppa!

Sebuah renungan, perjalanan cinta yang berawal dari jalur karma...

Seorang mahasiswa menyebutkan sebuah nama yang cukup asing di telinga saya saat kuliah, lalu sebagian kelas, terutama para gadis tampak tertawa cekikikan.

Advertisement

Karena penasaran, saya langsung bertanya ke kelas “Jungkook? Siapa jungkook?” Tanya saya

“BTS Buuuuu” jawab mereka kompak kayak paduan suara…

“Owh… K-pop… saya ga suka K-Pop, bagi saya musik mereka berisik…” pungkas saya. Kuliah pun berlanjut seperti biasa. Tidak lama setelah peristiwa itu… tepatnya beberapa bulan kemudian, sepertinya saya kemakan omongan saya sendiri.

Advertisement

Hanya karena sebuah video klip yang tidak sengaja saya tonton, tetiba bisa membuat saya seperti terserang demam k-pop dadakan, layaknya influenza berat. Seingat saya, terakhir kali saya mengalami demam artis seperti ini adalah Ketika saya SMP, belasan tahun yang lalu! Saat itu saya adalah westlifer Duh.. jadi ketahuan umurnya nih haha… dan musik Kpop ini seperti membawa saya comeback ke masa itu lagi.

Karena tidak terbiasa, butuh waktu untuk hapal betul wajah para member… itu pun pakai acara mantengin video klip mereka selama hampir tiga hari tiga malam disela-sela kesibukan. Saya paham kenapa banyak orang bingung dan ketuker-tuker wajah mereka, karena saya pun dulu pada posisi itu. Kalau sekarang? Jangan tanya.. liat punggung nya  aja, udah hapal itu siapa wkwkwk…

Advertisement

Malu telah menjadi Kpopers? Jelas itu yang awalnya saya rasakan. Beberapa hal yang dulu saya anggap receh dan konyol tetiba terjadi pada diri saya. Dulu saya menganggap sebuah hal yang kocak Ketika kita cemburu dengan idola kita yang memiliki gossip dengan artis lain, namun pada akhirnya saya bahkan pernah berada pada fase tersebut, tidak menerima kecacatan mereka dan tersinggung jika ada yang menghina mereka. Ada apa dengan saya?

Anda bisa mengatakan ini lelucon, tapi saya berpikir betul tentang kecintaan saya yang kadang malah menyiksa saya… dengan emosi-emosi negatif yang cukup irritable karena cinta yang membabi buta. Layaknya pacar yang posesif, tidak ingin pacar kita disakiti. Saya mulai merasa… mungkin saya sudah terlalu berlebihan…

Pada suatu kali saya merenung… “Tuhan… apakah ini yang namanya karma?”

Lambat laun.. saya pun mengambil jeda, mengevaluasi diri, berpikir dan memahami bagaimana seharusnya mencintai dari kacamata saya sendiri. Mencintai membuatmu ingin mengenal seseorang, atau bisa jadi mengenal seseorang membuat semakin mencintainya.

Inilah yang saya rasakan pada BTS, idol yang akhirnya membuat saya oleng di dunia K-pop. Saya mengingat kembali ketika saya mulai tertarik dengan grup ini. Sebagai orang yang tertarik pada sejarah… saya pun menelisik sisi kehidupan mereka, bagaimana mereka terbentuk, bagaimana perjuangan mereka hingga sampai pada posisi saat ini. Bagaimana mereka bertahan dan berjuang untuk menjadi besar dengan terus berkarya dan tidak menyerah meskipun banyak yang menganggap remeh. Berawal dari fans yang hanya berjumlah puluhan orang hingga akhirnya mencapai angka bombastis dan diakui di dunia internasional. Jujur saya dibuat meleleh dan merinding dengan perjuangan mereka. Inspiratif!

Pesan dalam lagu-lagu mereka juga mebuat saya jatuh cinta. Bahasa korea tidak menjadi halangan untuk mencari dan memahami arti musik yang selama ini mereka dengungkan. Mencintai diri sendiri menjadi tema besar yang ingin mereka sampaikan melalui karyanya. Lirik lagu mereka ternyata memiliki arti yang dalam dan memiliki impact yang positif. Melalui music mereka mengajak kita untuk berlari mengejar mimpi, jangan menyerah meskipun orang lain menganggap remeh.

Dalam batin saya pun memahami apa yang dirasakan para Kpop-ers. Bagaimana dan mengapa mereka sangat mencintai idol nya dan loyal. Sekarang saya menjadi bagian dari mereka. Pengalaman saya ini membantu saya untuk memahami sudut ruang yang belum saya jamah sebelumnya.

Saya tidak mengajak anda menjadi seorang Kpopers atau pecinta drama korea. Sebuah pelajaran berharga dalam hidup saya adalah hati-hati untuk berpendapat. Saling menghormati adalah yang terbaik. Selama sesuatu itu memiliki dampak yang positif … why not?

Tetapi saya pun mengingatkan diri saya, dan siapapun yang membaca tulisan ini… berlebihan, dalam segala hal adalah sesuatu yang tidak sehat… baik itu dalam konteks membenci maupun mencintai.

Jika memang tidak suka pada sesuatu, maka tidak perlu menghina, lebih baik diam, atau mamahami orang lain dengan berdiskusi dari sudut pandang mereka. Tidak perlu nyinyir dengan kesukaan orang lain, karena selera bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.

Jika memang mencintai maka cintailah secara wajar, Ketika cinta kita kepada idola itu sudah mengganggu keberfungsian kita dalam menjalani tanggung jawab di kehidupan sehari-hari, sudah saat nya kita mengambil jarak untuk menyeimbangkan diri. Bukankah … cinta yang indah adalah cinta yang sederhana?  

stay happy , stay healty… yeorobun… ;)

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE