Teruntuk orang-orang yang menertawakan kami, orang-orang yang lagi seneng-senengnya jadi penggemar Kpop.
Membahas soal Kpop memang tak ada habis-habisnya. Meski banyak Kpopers baik di luar negeri maupun di Indonesia. Banyak pula yang tak menyukai Kpop. Baik karena si idola Korea dianggap plastik, tukang dandan dan juga banci, beberapa orang juga membenci Kpop karena penggemar-penggemarnya sering bersikap lebay dan aneh. Alasan terakhir inilah yang mendorong gelombang kebencian terhadap akun-akun ava Korea di media sosial.
Membahas tentang penggemar Kpop menjadi saksi, lengkap dengan cemoohan dan tertawaan.
Sebagai orang yang dulu pernah kecebur di dunia Kpop, saya juga sempat merasakannya: betapa mencintai Korea dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan tidak menarik. sedangkan teman-teman saya banyak diantara mereka yang penggemar beratnya Justin Bieber, bollywood india, penggemar anime. Mereka dianggap normal dan wajar.
Jangankan orang lain, dua sisi diri dari saya bisa ditanggapi dengan berbeda: saya yang menggemari BTS dan memutuskan untuk mengoleksi album-albumnya, lengkap dengan beberapa merchandise, kesempatan nonton konser, dan mengunduh seluruh video resminya, dianggap jauuuuuh lebih freak dibandingkan diri saya sendiri yang—di saat bersamaan—mengoleksi barang-barang seperti novel dari wattpad yang sedang hits, mulai dari novel Seperti Hujan Turun Ke Bumi, Mariposa, DearNathan, Septihan, Antares, dan lain-lain.
Aneh banget, kan?
Lebih aneh lagi, ada banyak media membahas permasalahan Kpop ke wilayah yang lebih luas, tapi lagi – lagi selalu terkesan merendahkan Kpopers. Membahas mengenai “kenapa Kpopers bisa fanatik”, “kenapa Kpopers lebay”, “kenapa Kpoper aneh”, "Kenapa para Kpopers bucin-bucin semua" dan lain sebagainya tak pernah sepi peminat. Satu-dua reply pun rasanya sah-sah saja untuk melemparkan ejekan kepada mereka—kaum-kaum ber-ava Korea.
Demi mendapatkan 'status' fanatik, tak jarang para penggemar K-Pop harus merogoh dompet lebih dari sekadar membeli album. Biar saya kutip baik-baik: “Demi mendapatkan ‘status’ fanatik, tak jarang para penggemar Kpop harus merogoh kocek lebih dari sekadar membeli album.”
Uh, Hellowww? “Demi mendapatkan status fanatik”? Like, seriously, CNN?
FYI aja nih, ya, walaupun saya dari tahun 2016 suka sekali sama BTS sampai-sampai aku jadi bucinnya, saya jauh lebih tertarik berusaha dan berdoa demi bisa lolos SNMPTN, bukannya status ‘fanatik’ demi idola Korea. Heran—segitunya ya harus merendahkan penggemar Kpop, seakan-akan kami nggak punya urusan lain di dunia ini?
Lagi pula, saya benar-benar penasaran dan ingin bertanya: apa, sih, salahnya menjadi penggemar Kpop? Apa salahnya menjadi Kpoper yang tampak begitu mengagumi idolanya dan memutuskan menggunakan ava Korea? Lebih spesifik lagi pada artikel yang ditulis CNN, apa salahnya jadi Kpoper yang rela menghabiskan banyak uang demi keperluan penunjang hobi cinta-cintaan dengan Kpop???
Dulu, tahun 2017, saya pernah datang menonton konser BTS di Jakarta, tiket berdiri tepat di depan panggung. Harganya memang tidak murah— bahkan lebih dari 3 juta rupiah. Banyak orang yang mengirimkan sindiran pedas: buat apa kamu ngabisin uang sebegitu banyaknya demi nonton konser? Uangnya siapa yang kamu pakai? Apa untungnya jadi Kpopers sih?? Toh dia juga tidak kenal sama kamu.
Saya nabung, seperti yang dilakukan Kpopers lainnya. Kami berusaha keras menyisihkan rupiah demi sehelai gelang tiket yang mungkin bakal jadi satu-satunya pengalaman seumur hidup. Terus, apakah menurut anda-anda sekalian kami-kami ini rela beli tiket mahal-mahal cuma demi disapa orang, “Ooooh, kamu sekarang udah fanatik, ya?” gitu???
Ya nggak lah, Fergusooo!
“Habisnya kalian aneh, sih, rela ngeluarin uang demi orang yang nggak kenal sama kalian”
Duh, mon maap yeh, nih sebelumnya—memang hobi-hobi kalian pada nggak ngeluarin uang juga? Budaya idola yang lain, mulai dari JKT48 sampai Rossa dan Afgan sekalipun jelas bisa melestarikan budaya “ngeluarin uang” demi idola lah, Saudara-saudara sekalian. Apalagi kalau jadi penggemarnya Anang dan Ashanti—pasti ada kecenderungan beli album baru, beli kosmetik Ashanti dan Aurel, sampai makan di tempat makan yang juga jadi bisnis mereka. Terus, apakah itu namanya bukan “ngeluarin uang” juga???
“Demi mendapatkan status fanatik…”
Sekali lagi, walaupun saya dari dulu suka sama BTS sampai jadi bucinnya—bahkan hafal ulang tahun membernya satu-satu. saya jauuuuh lebih tertarik berusaha dan berdoa demi lulus SNMPTN dari pada status ‘fanatik’ demi idola Korea. Alih-alih fanatik, kebiasaan ini lebih disebabkan karena—dengerin nih, CNN—kebutuhan kepuasan batin.
NAH!!!
Jadi gini, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Kakak-kakak, dan Adek-adek sekalian. Hobi kami kebetulan berbeda dengan hobi kalian yang lebih konvensional, seperti bercocok tanam, apalagi sekarang lagi musim menanam bunga-bunga, bersih-bersih kamar ala Marie Kondo, atau membaca buku-buku politik untuk bekal pengetahuan.
Hobi kami, sayangnya, adalah menggemari idola Kpop, termasuk mengoleksi album, barang-barang terkait dunia Kpop dan juga mengoleksi merchandise-nya. Tentu saja dengan uang tabungan kami sendiri yang tidak minta-minta dari kalian-kalian semua.
Pertanyaannya: apakah ini berarti hobi kami jadi lebih tidak berharga dibandingkan hobimu?
FYI aja, nih, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Annals of Behavioral Medicine menyebutkan bahwa 34 persen orang yang melakukan hobinya terbukti tidak merasa lebih stres. Bahkan, mereka juga merasa bahagia, detak jantung lebih stabil, dan perasaan jadi lebih tenang selama berjam-jam.
NAH ITU LOH, BUAT KALIAN YG SERING NGEHUJAT PARA KPOPERS !!!
Kenapa penggemar Kpop menyukai Kpop? Kenapa Kpopers aneh dan lebay, sekaligus suka banget beli-beli album, mengoleksi barang-barang yang berkaitan dengan dunia Kpop dan juga mengoleksi merchandise, bahkan nonton konser jauh-jauh dan mahal-mahal? Kenapa???
Jawabannya ya cuma satu: demi memenuhi kebutuhan hobi, bukan sekadar demi status fanatik yang kalian semua itu bilang. Dan, ingat, perkara hobi itu balik ke masing-masing orang. bukan untuk kamu campur-campurin demi membuat penggemar Kpop lebih rendah daripada hobimu yang mungkin-mungkin saja lebih fancy, misalnya koleksi mobil mewah, koleksi kostum cosplay, bersepeda (lengkap dengan seluruh peralatan dan sepatu), golf, bahkan ‘sekadar’ arisan sosialita.
Apakah penggemar Kpop akan selamanya jadi penggemar Kpop?
Bisa iya, bisa nggak. Saya sendiri sudah tidak terlalu sering mengikuti update dari grup favorit, mulai dari BTS, EXO, Blackpink, hingga Redvelvet, tapi sesekali masih mendengarkan, meski tak lagi mengejar target album-album baru dan merchandise resmi. Percayalah: ini cuma urusan waktu. Toh, hobi bisa berkembang atau berubah seiring bertambahnya usia.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”