Musim hujan bulan ini terasa lebih panjang.

Meski pagiku selalu lembab karena rintiknya, tapi hariku tak pernah kelabu.

Seperti biasa, pagi ini aku menghampirimu dengan roti isi selai kacang kesukaanmu di tas kumelku. 
Senyuman mempesona itu selalu memyambut kedatanganku dan membuat musim ini tetap berbunga meski hujan tak kunjung berhenti.
Pagi yang tidak pernah berubah sejak aku mengenalmu, kau dengan buku selalu jadi pemandangan paling intim. “Memberi makan pikiran” katamu sela membaca.
Kau yang begitu haus akan ilmu, selalu berhasrat untuk mengejar ilmu walaupun harus jauh ke negeri rantau mengejarnya. 
Ini adalah pagi kesekian, aku disampingmu. 

Hari ini hujan lebih deras dibanding kemarin, gemerciknya berisyarat untuk tinggal lebih lama bersamamu di sini, kau menatapku lebih lama dari biasanya, hatiku bergetar, jantungku mendetak tak karuan, aku gugup.

Ini bukan pagi pertama bagi kita, tapi ini tatapan pertama darimu yang membuat aku kehabisan kata.

Meski tanpa kata, perlahan kau menarik tubuhku, kau memberiku pelukan hangat, mataku terpejam dalam dekapanmu, samar terdengar kau berkata “terimakasih selalu ada disampingku, selalu tinggal dengan segala kesusahanku, dan aku ….”

Kau menghela napas panjang, kalimatmu terhenti, meski aku tak tau apa kalimat terakhir yg sebenarnya ingin kau utarakan, rasanya aku tak ingin mendengar apapun lagi setelah pelukan ini. Aku jelas sudah lebih dari mencintaimu, aku jatuh cinta pada setiap apa yang kau lakukan, bahkan aku menyadari, aku jatuh cinta pada pagi pertama setelah kita bertemu. 

Suatu hari di musim panas, secangkir kopi di cafe warna biru itu jadi saksi pertemuan kita. kau sang pelayan kafe waktu itu, rasa ingin taumu terhadap buku-buku yang menumpuk di mejaku mebawa kita pada kisah hari ini.  Kau jauh meninggalkan rumah untuk kuliah di kota. Kau kecewa terhadap seseorang katamu, yang akhirnya membuatmu harus begitu keras berusaha. Tanpa bekal apapun, kau berjuang dan bertahan agar kau bisa melanjutkan pendidikanmu. 

Apapun kau kerjakan, siang dan malam kau bertaruh agar mendapatkan kelayakan hidup.  Aku kagum kepadamu, pada ketangguhanmu, pada perjuangannmu, pada kerjakerasmu.

Tak jarang kau menyisihkan penghasilanmu agar bisa mengirim uang pada orang tuamu di kampung.  Harus membagi penghasilan ditengah pendapatan yang tak seberapa memang menjadi kekuatan sendiri untukmu agar melakukan hal yang lebih.

Aku tahu bagaimana kau harus tetap membagi konsentrasi belajar dan bekerja 
ditengah segala tuntutan dari keduanya. 
 

Namun Tuhan memang tak pernah tidur, semua peluhmu terjawab,  siang ini adalah hari paling bersejarah buatmu, hujan tak lagi menangis kali ini, ia tersenyum atas pencapaianmu, kau tak hanya bisa menyelesaikan pendidikan sarjanamu, tapi kau juga dapat melanjutkan master di luar negeri dengan beasiswa dan ini semua berkat kerja kerasmu. 

Dalam tawa kebahagiaan, terdengar handphone-mu berbunyi, kaupun mengangkat dan bertanya siapakah orang d ujung telepon sama, ” Anisa ….” Ucapmu gemetar !
Seketika air matamu jatuh, dan aku , Aku tertunduk lemas menahan sesak yang begitu menyeruak

Annisa adalah wanita yang paling kau cintai, sangat kau cintai, kau menikahinya 10 tahun lalu. Tiga bulan setelah pernikahan, kau masih belum mendapatkan pekerjaan dan orang tua Annisa membawa kembali Annisa ke rumahnya, Ayahnya menyangsikan kau yang hanya tamatan SMA tidak akan bisa membahagiakan Annisa. Dan kau, dipaksa untuk menceraikannya.  Hingga kau pergi tinggalkan tempat kelahiran untuk membuktikan segalanya. 

Hari ini bukan hanya jadi pembuktian atas segala yang pernah kau alami, tapi juga jadi hal yang selama ini membayangiku. 

Kau bukanlah miliku, kau sepenuhnya milik Annisa dan Annisa lah milikmu. Lalu aku ? 
Aku hanya seseorang yang sangat mensyukuri kebersamaan kita, aku yang tidak pernah melewatkan apapun tentang kamu, aku yang selalu bergegas memberi pagi terbaik untukmu, aku yang bahagia saat kau berhasil menggapai mimpimu, aku yang mencintaimu berusaha menjadi yang paling berarti sebisaku. 
Ya ! Kau memang harus kembali, rasa kecewa tak boleh mengubah dirimu jadi yang lain. 
Meski aku mencintaimu, aku hanya dosa besar untuk mu. Jauh sebelum aku, Annisa lah alasanmu berjuang sampai di titik ini.
Betapa musim ini sangat berat bagiku. Di tengah derasnya hujan Kau beranjak pergi, air mataku larut dalam hujan hari ini. Aku menyaksikan langkah demi langkah kau menjauhiku. 

“Berikan kalimat terakhir yang belum sempat aku dengar ” ucapku lirih, 
Kau menoleh ” terima kasih selalu ada disampingku, selalu tinggal dengan segala kesusahanku, dan aku tidak bisa menjadikanmu seutuhnya dalam cinta, namun di hatiku kau yang pertama, kedua, ketiga,keempat,kelima,……” katamu seraya melanjutkan langkah sampai kau hilang dari pandanganku. 
Pergilah, berbahagialah, aku tidak menangis, ini hanyalah hujan. Semua akan baik baik saja.

Selama denganmu, aku selalu mencintai hujan.  Kali ini hujan adalah satu-satunya yang tak menyenangkan hatiku, karena setiap kejatuhannya, selalu menceritakan tentangmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya