Relasiku dengan ibuku begitu menarik ya, ya, ya paling tidak untukku-. Ditinggal Bapak di usia yang terbilang masih kanak-kanak dan benar-benar masih membutuhkan kasih sayang seorang Bapak, membuat masa-masa setelahnya praktis diwarnai dengan peran ibuku yang signifikan. Bukan dominan. Aku rasa kata signifikan menjadi paling pas.

Tidak dominan karena ibu memang tidak pernah mendominasi. Lagipula, walaupun menjadi pencari nafkah satu-satunya di rumah setelah kepergian bapak, tidak menjadikannya berkekuatan penuh mengatur tiga buah hatinya. Kebalikannya, ketiga anaknya mampu liar dengan caranya masing-masing.

Advertisement

Tidak dominan juga karena sedikitnya waktu ibu diluangkan untuk anak-anaknya. Ya, ibuku bekerja keras mengurus lapak dagangannya demi beralih posisu sebagai kepala keluarga, dan akhirnya sampai berdagang menjadi sumber penghasilan utama rumah kami.

Ibuku Cerdas, Efisien, dan Profesional. Aku pernah bercanda ke temanku, jika saja ibuku berkesempatan kuliah, mungkin beliau sekarang Jadi Menteri Keuangan, atau paling tidak bekerja di Barclays atau Slumberger.

Cerdas. Ibuku sampai sekarang selalu berhitung cepat tanpa kalkulator. Aku masih takjub melihat kecepatannya berhitung tanpa alat bantu.

Efisien. Kapabilitasnya mengatur keuangan dengan semua keterbatasan patut diacungi jempol. Dan ini tentu saja berhubungan dengan kebesaran hatinya tidak mensegerakan kepentingannnya. How to keep running this family: sepertinya itu yang ada di kepala ibuku.

Profesional. Ibuku aktif berorganisasi. Ikut serta dalam kegiatan jamiyah bernaungkan nilai religius yang biasa diadakan oleh warga desa dan bahkan ibu menjadi satu-satunya kepala rumah tangga yang berjenis kelamin wanita. Satu lagi, Ibuku laris dimintai bantuan menjadi spesialis masak nasi di banyak hajatan orang di sekeliling kami. Kata professional ini mampu digaris bawahi dengan kemampuan ibu untuk komit ke pekerjaan sederhananya sebagai pedagang sayur. Jangan coba-coba merepoti ibuku di jam krusial (04.00-08.00) -itu adalah peak hour dagang ibu- See?

Advertisement

Apakah ibuku sedahsyat itu. Iya. Tapi nggak dahsyat-dahsyat amat juga. Ibuku satu paket dengan tidak-biasaan keluargaku untuk menverbalkan perasaan dan isi kepala. Sayang- dalam kamus ibu adalah bagaimana menafkahi kami dan membesarkan kami menjadi manusia mandiri. Dan hal itu -yang dilakukan ibu sendirian- menurutku cukup. Thanks Mom.

Pernah suatu ketika aku menganggur selama enam bulan selepas tamat kuliah. Untuk mengurangi pengeluaran, aku sering nongkrong saja di kedai kopi. Untuk mengurangi pengeluaran itulah pula, aku super mengirit uang jajan, dengan salah satunya tanpa ber backpackeran keluar kota yang biasa aku lakukan hampir setiap bulan, sebagai rutinitas menggali inspirasi dan menemukan ide dalam membuat karya tulis bahwa dunia itu luas dan hamparan pengalaman akan aku temui selagi masih menjadi titah pemuda. 

Sudah. Aku pikir itu cukup menggambarkan carefulness ibu kepadaku. Maka ibu, aku harap ibu juga paham bahwa aku sayang ibu sepanjang tahun, walaupun kata Terimakasih, Maaf dan Rahmat Sayang Ibu, hanya aku ucapkan setahun sekali pada waktu sungkem lebaran. I love you mom, and I always be.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya