Rasa bersalah menghantuiku. Ini balasan yang ku terima atas luka yang dia rasakan. Kehidupan yang ku jalani tak seindah ketika dulu. Semakin ku berusaha melupakannya, peluk hangatnya semakin terasa. Bagaimana aku menepisnya? Melihatnya dari kejauhan, memerhatikan setiap update-an tentang dirinya di media sosial tak cukup membayar kerinduan yang bergejolak.

Sampai sejauh ini, sudah terlalu banyak waktu yang terbuang hanya untuk memikirkannya. Entah kenapa hati dan pikiran masih saja dipenuhi kenangan tentangnya. Bukan tak merelakannya, namun dia masih yang terindah. Dan aku masih ingin kembali, memperbaiki kesalahan ku yang pernah meninggalkannya.

Advertisement

Perjuangan seorang wanita menghadapi pria yang tidak peka, keras hati, dan suka kesunyian. Dia membuka hati yang telah lama ku tutup setelah orang lain pernah merusaknya. Wanita yang ku puja-puja dulu berkhianat dengan sahabatku sendiri. Lalu dia hadir dengan ketulusan. Membuatku percaya bahwa tidak semua wanita itu manja dan hanya mau didengar.

Wanita yang melepaskan ku dari kenyamanan menyendiri setelah dikhianati. Sosok keibuan yang dibutuhkan pria manja seperti ku. Kelembutan sikapnya yang masih sangat ku ingat ketika menenangkan ku dari kecemasan terhadap suatu hal. Tidak pernah memaksa kehendaknya, selalu mengalah agar aku tak pergi darinya. Pengertian yang tiada batas. Mengajarkan ku banyak hal tentang kehidupan. Ya, beruntung sekali memilikinya. Dia sempurna bagiku.

Bodohnya aku meninggalkan dia lalu lebih memilih orang lain tanpa memikirkan bagaimana perjuangannya terhadap ketidakpeduliaanku dulu. Aku tak tahu apa yang ku perbuat saat itu. Pergi tanpa berkata apapun, aku yakin dia pasti sangat terluka. Sementara aku sedang berbahagia dengan yang lain dan ternyata orang lain itu tidak lebih baik darinya.

Advertisement

Mungkin kata maaf tidak cukup untuk membayar itu semua. Aku menyesalinya, sungguh. Bahkan rasa bersalah ini membuat hari-hariku tiada guna dan tiada gairah. Aku sendiri tak mampu menjelaskan karma yang sedang aku terima untuk taburanku yang membuatnya terluka. Sekarang aku yang sangat terluka.

Seharusnya aku tak meninggalkannya. Seharusnya aku mendengarkannya untuk tak terlalu dekat dengan perempuan lain. Seharusnya aku sadar setiap peringatannya terhadapku memanglah untuk kebaikan kami. Tapi aku malah mengabaikannya. Kenyamanan ku terhadap rekan kerja, membuat ku kehilangan segalanya. Kehilangan dia, perempuan tegar yang menghadapi kerasnya dunia ini sendirian. Wanita mandiri, yang tidak pernah kelihatan mengeluh akan hidupnya. Izinkan aku mengisi hatimu lagi dan memperbaiki segalanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya