Tak dapat dipungkiri malam hari adalah saat di mana kebanyakan orang beristirahat dari rutinitasnya sehari-hari. Selain karena waktu kerja yang telah usai, ditambah lagi terbatasnya aktivitas karena tingkat cahaya yang semakin berkurang. Tapi ada sesuatu yang paling ditunggu saat setiap malam tiba, yaitu kemilau para bintang yang bisa menenangkan diri. Memangnya siapa orang yang tidak suka melihat gemerlapnya para bintang?

Dunia kini sudah berubah. 24 Jam perhari terasa kurang karena kerja tak cukup hanya pagi dan siang. Lalu malam hari pun berubah menjadi keramaian, layaknya tak ada perbedaan. Sebagai pendukung semua aktivitas, semua sudut kota pun menjadi terang menderang. Apakah Anda sadar, semakin modern para bintang akan semakin berkurang? Ke mana perginya mereka semua?

Sebenarnya para bintang itu tidak pergi kemana-mana, mereka semua tetap ada pada tempatnya, hanya saja kemilaunya sudah tak terlihat lagi karena tertutupi oleh panas dari cahaya kota. Hal ini dinamakan polusi cahaya.

Apa Anda tahu apa itu polusi cahaya? Atau baru mendengar yang namanya polusi cahaya? Jadi intinya, polusi cahaya itu adalah salah satu jenis polusi yang berdampak buruk akibat cahaya buatan manusia yang berintensitas tinggi. Dampak diantaranya yaitu tertutupnya pengelihatan kita dari benda-benda langit dikarenakan kemilaunya tertutupi oleh panas yang dikeluarkan oleh cahaya yang bersinar.

Jujur saat pertama kali penulis mendengar adanya polusi cahaya, penulis pun kurang percaya akan dampaknya dan seolah-olah tak peduli sama sekali, hingga akhirnya penulis hanya bisa tercengang di suatu waktu saat mendaki setelah melihat dampak dari polusi tersebut. Kali ini penulis jadi percaya dan kecewa akan adanya polusi cahaya itu, hingga berpikir "memangnya seberapa banyak cahaya yang saya pakai?" Dan berulang-ulang pertanyaan retoris itu terpikirkan.

Advertisement

Kronologisnya berawal pada 2015 yang lalu, saat penulis mulai melakukan ekspedisi untuk menjelajahi kota Garut dan sekitarnya. Awalnya penulis berpikir ekspedisi ini akan berjalan cepat, karena Garut hanyalah Garut, kota yang terkenal akan makanan khasnya "dodol" dan hewan supernya "domba Garut". Namun pada perjalanan perdana , penulis dibuat tercengang, perjalanan malam pertama penulis dalam mendaki tak terasa dan malah dibuat takjub. Selama perjalanan serasa tak ada ruang bersih di langit dari kemilau para bintang, rasanya mereka memang ada untuk dilihat dan ditakdirkan untuk selalu dilihat.

Saking takjubnya melihat mereka, perjalanan pun terasa tenang, tentram tanpa lelah. Memang secara sugesti mendaki saat malam hari rasa lelahnya lebih tak terasa dibanding saat siang, namun kali ini memang rasa lelahnya hampir tak terasa saking indahnya hamparan atap dari bumi kita ini. Sesampainya penulis di pos terakhir sebelum menuju puncak, penulis dan kawan tidur beralas tanah karena memang saat itu penulis tidak membawa tenda.

Tak ada sedikit pun rasa sesal saat penulis tak membawa tenda, malah diri serasa lebih dekat dengan alam. Tak terbayarkan rasanya saat menjelang tidur, mata tertuju ke langit yang penuh bintang, kulit bersentuhan dengan segarnya tanah dan telinga yang mendengar sunyinya malam ditambah balutan lagu "Up & Up" (Coldplay). "Betapa indahnya dunia ini", pikir penulis saat itu. Dari pengalaman itupun penulis jadi sangat semangat untuk mengulang momen yang sama.

Dua tahun kemudian, tepatnya di bulan Juli 2017. Penulis mendapatkan kesempatan kedua itu. Bahagia tak bisa disembunyikan. Di tahun yang beda dengan kawan yang berbeda pula, penulis sangat berharap bisa dapat pengalaman yang sama atau lebih baik dari sebelumnya. Hingga akhirnya hari itu pun tiba. Pada awalnya perjalanan mendaki akan berjalan di siang hari karena terhitung banyaknya pemula yang penulis bawa, namun karena memang waktu tempuh yang diperlukan jadi lebih lama, akhirnya gelap pun datang di saat tengah perjalanan.

Di samping rasa cemas karena memegang tanggung jawab, penulis pun sangat menunggu-nunggu kemilau para bintang. Satu jam pertama di saat gelap, langit terlihat bersih. Penulis mencoba berpikir positif "mungkin karena malam masih terlalu muda", dalam benak penulis. Tapi berjam-jam kemudian hingga pos terakhir diinjak, masih tak terlihat apapun. Langit seperti telah disapu. Semua kemilau yang berserakan sudah tak ada.

Hal pertama yang penulis rasakan yaitu kecewa dan malu. Tentunya itu karena ekspektasi yang tak terbayarkan dan mungkin saat itu teman-teman yang pemula, mereka akan berkata bahwa penulis itu sang pembohong. Mereka semua ikut aku tentunya karena tergiur cerita penulis kala itu. Entah apa yang terjadi pada ke depannya, sungguh penulis kecewa berat saat itu. Namun di balik semua rasa itu tentunya penulis ingin tahu, apa penyebab semua ini dan kenapa hal ini bisa terjadi.

Penulis mulai memerhatikan keadaan sekitar, meski pandangan terbatas untuk mencoba mencari sumber masalah. Sedikit demi sedikit penulis berjalan, hingga akhirnya duduk di sebuah batu tinggi menghadap langsung ke arah lereng gunung dan mencoba untuk merenung. Dari tempat itu sangat terlihat jelas gemerlapnya kota Garut di saat mala hari. Memang gunung ini tak terlalu tinggi dan terletak sangat dekat dengan pusat kota, namun pikiran penulis sama sekali tidak menjurus pada polusi cahaya, malah awalnya sempat berpikir "indah juga ya melihat gemerlap kota Garut dari ketinggian".

Lama-lama penulis pun mulai tersadar, dalam perjalanan mendaki tadi memang terlihat banyak perubahan. Yang paling signifikan yaitu dari meluasnya pertambangan pasir yang awalnya hanya di kaki gunung kini sudah hampir memasuki hutan. Memang bisa jadi masalah perubahan kontur alam ini yang merubah segalanya, tapi rasanya tidak ada hubungannya antara tanah berkibat pada astronomi.

Penulis pun terus berpikir, "nggak ada bintang dan gemerlap kota, gejala alam akibat manusia" terus berulang kali dalam benak. Hingga akhirnya sadar, bisa jadi ini karena polusi cahaya, karena seingat penulis dulu, polusi cahaya itu berdampak tidak terlihatnya benda-benda langit. Sebenarnya itu hanya dignosa sepihak saja, tapi tidak tahu kenapa penulis merasa sangat yakin.

Keesokan harinya penulis pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. Ternyata keindahan puncaknya masih sama, sama-sama indah. Hingga waktu menjelang sore penulis pun turun menuju basecamp lalu pulang menuju rumah. Sesampainya di rumah, penulis pun langsung mencari semua hal tentang "polusi cahaya" itu. Belasan artikel telah dibaca dan akhirnya di situ penulis percaya akan adanya polusi cahaya tersebut.

Gemerlap kota yang aku sebut indah ternyata adalah dalang dari hilangnya semua kemilau para bintang. Terlintas pikiran, saat 2015 cahaya indah berkumpul di atas kita, namun 2017 semuanya seakan jatuh dan menjadi penerangan setiap sudut kota. Tidak berhenti sampai di situ, penulis pun langsung membuat jadwal untuk kembali mengunjungi Garut untuk mencari data akan faktor utama polusi cahaya.

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba, penulis pergi dengan tujuan untuk bertanya beberapa hal tentang peningkatan intensitas cahaya dan peningkatan penggunaan daya listrik kepada masyarakat di sekitar Gunung Guntur. Mereka pun merespon sesuai pemikiran penulis.

Memang benar kini masyarakat Guntur telah merasakan penerangan yang lebih baik, setiap sudut jalan kini terdapat lampu yang bersinar dan berimbas juga pada tagihan listrik mereka yang terhitung meningkat. Hal ini selaras dengan data yang tersaji di dalam BPS Kota Garut. Di sana dikatakan, dalam jangka waktu 2015 sampai 2016 saja terdapat peningkatan penjualan daya listrik di kota Garut sebesar kurang lebih 40 juta KWH. Maka dapat dibayangkan perbedaan intensitas penerangan kota Garut dalam dua tahun berbeda.

Kini penulis berani berkata, sebagian kota Garut sudah terkena polusi cahaya. Penulis berani berkata karena penulis percaya dan telah jadi saksi mata.

Tak dapat dipungkiri, kualitas cahaya kini adalah salah satu faktor penilaian kesejahteraan masyarakat dan memang cahaya sendiri sangat kita butuhkan. Cahaya adalah penunjang aktivitas kita, pembantu manusia di saat gelap gulita. Tapi bukan artinya kita dapat menggunakan secara berlebihan. Memang benar, jika seseorang memakai listrik untuk cahaya berlebihan, maka seseorang itu sendiri yang akan menanggung tagihannya, tapi itu hanyalah pemikiran yang sangat egois. Itu artinya kita tidak memikirkan dunia kita, tidak memikirkan sesama manusia dan juga merampas sebagian kehidupan para hewan.

Pemakaian cahaya berlebih artinya kita sudah menghalangi kemilaunya dunia, yang artinya kita tidak berbagi kepada daerah lain yang belum mendapatkan aliran listrik, dan mengakibatkan tak terlihatnya para bintang. Kita telah merampas sebagian kehidupan para burung yang bergantung pada rasi bintang untuk melakukan migrasi.

Bisa dibayangkan jika di dunia penggunaan cahaya sudah berlebihan, takan ada lagi kemilau para bintang di setiap malam, akan berkurangnya keragaman spesies di setiap penjuru daratan. Lalu apa yang akan kita rasakan? Hanyalah keheningan dalam kehidupan. Maka dari itu lebihnya cahaya dapat menghilangkan keindahan dunia.

Semua ini penulis lakukan karena besarnya rasa cinta terhadap keindahan alam. Maka, penulis berusaha menjaga keindahan alam ini dari dampak polusi cahaya yang maha dahsyat. Namun penulis tak bisa hanya sendiri, kalian semua pun harus ikut membantu. Tidak harus jadi pecinta alam untuk menyelamatkan dunia, tapi jadilah penghuni yang mencintai alamnya agar tergugah untuk menyelamatkan dunianya.

Ini bumi kita, ini alam kita dan ini rumah kita semua. Jika bukan kita yang merawatnya, maka siapa lagi?

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya polusi cahaya, di antaranya kalian dapat mengikuti kegiatan earth hour. Jadilah penghuni yang tahu diri dengan selalu mengingat illahirobbi, karena dunia akan berakhir saat kita tak peduli, namun dunia akan berseri jika kita merawatnya dengan sepenuh hati. Mari satukan hati, satukan tekad, satukan tujuan, untuk dunia yang lebih baik dan energi yang berkeadilan.

Mulailah dari kita sendiri dan cermatlah mulai dari saat ini. Kita hemat, dunia selamat.