Bagi saya, Inggris bukanlah destinasi wisata. Inggris adalah rumah.

Saya lahir di Indonesia. Besar di Indonesia. Belum pernah ke mana-mana.

Selama saya hidup dan menempuh studi di sekolah di kota kelahiran saya, saya mengalami fase yang lumrah bagi pelajar kebanyakan: capek sekolah. Lelah belajar. Benci semua mata pelajaran. Berpikir tentang bagian mana dari rumus-rumus di papan tulis yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelampiasan saya dari segala kebencian-kebencian saya akan kesesakan kelas adalah dengan bersama teman-teman atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Advertisement

Sampai pada akhirnya, saya tertarik dengan pelajaran sejarah. Pada saat itu, sebenarnya hanya bermula dari keisengan saja, karena saya sudah muak dengan semesta, dan saya hanya penasaran merunuti tanggal-tanggal kejadian historis dunia, sampai lambat laun rasanya jadi ketagihan. Padahal, awalnya hanya dengan menuliskan kronologi sampai ke tanggal-tanggalnya dari peristiwa Perang Dunia 2 saja, tapi kemudian lama-lama merambat pada peristiwa-peristiwa penting dunia. Saya keasyikan sendiri dalam membandingkan apa yang terjadi saat ini dan saat itu, di sana dan di sini.

Sejarah membawa saya pada negara Inggris Raya. Negara yang familiar di telinga namun tak pernah saya telusuri benar-benar. Saya membaca-baca tentang negara itu, dan saya mendapati kenyataan bahwa saya tidak bisa berhenti melakukannya. Saya membaca banyak sekali. Tentang fakta-fakta uniknya seperti berapa cangkir teh yang diminum orang Inggris setiap hari (165 juta!), tentang budaya khas orang-orangnya yang sangat suka meminta maaf atau berterima kasih, tentang kebiasaan-kebiasaan mereka seperti sangat patuh dengan antrean, dan juga tentang sejarah mereka.


Saya napak tilas mengenai sejarah Inggris hingga jauh sekali, sampai-sampai saya menonton video infografis mengenai Perang Mawar dan mencoba menghafal pohon keturunan Kerajaan Inggris.


Advertisement

Barangkali, saya kelewat terlambat untuk menyadari bahwa saya sudah terlalu jatuh cinta pada negara yang bahkan belum pernah saya kunjungi ini. Saya setiap saat mengikuti forum yang membahas tentang apa hal-hal yang sangat orang Inggris sekali, saya mendengarkan radio yang disiarkan dari salah satu kota di sana, saya membaca berita tentang mereka dari sumber media online ​yang berasal dari sana, dan bahkan saya juga mengikuti perkembangan Liga Inggris apabila sedang hangat-hangatnya.

Membicarakan Inggris bagi saya merupakan topik yang tidak ada putus-putusnya. Ada sangat banyak hal yang bisa saya bicarakan, serius, tapi karena keterbatasan kata, saya memutuskan untuk menyempitkannya menjadi beberapa poin:

​Ikonik, kotak telepon merah

Rasanya sudah bisa terbayang seperti apa kotak telepon merah yang saya bicarakan ini. Banyak sekali di mana-mana, di cafe-cafe di Indonesia pun ada tiruannya pula. Namun, ini pulalah yang menyebabkan saya sangat ingin untuk ke sana, melihat langsung seperti apa kotak telepon merah khas Inggris ini dengan mata kepala saya sendiri.

​Panorama Kota Norwich

​Ini favorit saya karena di sini kota inilah saya ingin menempuh studi selepas mendapatkan gelar sarjana. Hampir selalu saya sempatkan untuk melihat-lihat foto pemandangan di kota ini, dan menurut saya pemandangan di Kota Norwich indah sekali.

Budaya menertawakan diri sendiri

​Rasanya sudah banyak orang-orang Inggris di forum yang saya ikuti, ketika mereka mengakui bahwa menertawakan diri mereka sendiri merupakan karakter yang sangat kuat mengakar di dalam diri mereka. Sangat mudah, bagi mereka, untuk menemukan hal yang bisa ditertawakan tentang negara ini. Tapi, mereka juga berkata, itulah yang menyebabkan rasa patriotisme pada negara ini diam-diam sangat besar. Banyak terjadi salah paham dengan orang-orang yang bukan Inggris apabila mendengarkan orang Inggris mencemooh kebijakan negara sendiri, orang asing justru menarik kesimpulan bahwa mereka kerjaannya hanya bisa mengeluh saja.


"Sangat susah membuat kami tersulut emosi apabila kalian coba memanas-manasi dengan menjelekkan negara kami," kurang lebih itu yang dikatakan seorang Inggris.


Dia mengatakan, bahwa merekalah orang yang paling pantas menjelekkan negara sendiri, yaitu orang yang lahir dan besar di negara itu. Itulah humor Inggris, yang justru menarik karena di dalamnya terpendam semangat bela negara yang murni.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya