Masih ingat dengan Ultraman kah? Angkatan 90-an, angkatan yang masih merasakan masa di mana hari minggu adalah hari mager–males gerak se-Indonesia bagi anak-anak, seharusnya cukup familiar dengan tontonan yang satu ini. Namanya juga anak kecil ya, imajinasinya pasti kemana-mana. Nonton Power Rangers, sejenak kemudian ingin menjadi Power Rangers.

Biasanya, setelah Minggunya nonton, Seninnya berebut dengan teman sekelas untuk memerankan Ranger Merah (yang cowok) dan Ranger Pink (yang cewek). Entah kenapa dulu inginnya malah memerankan Ranger Hitam, hehe. Jangankan Power Rangers, yang berkeinginan untuk menjadi Teletubbies pun ada, hahaha. Satu lagi pahlawan yang tidak mungkin ketinggalan, Ultraman. Walaupun banyak versi, yang mungkin kami sendiri para anak kecil jaman itu juga tidak hafal, yang jelas semua Ultraman pasti pada akhirnya akan menjadi besar untuk melawan dan mengalahkan si monster.

Advertisement

Sekian tahun berlalu, ternyata obrolan tentang para pahlawan masa kecil ini masih terjadi juga. Dan herannya, masih seru untuk dibahas. Obrolan ini pun berlanjut hingga suatu hari membawa kami pada kesepakatan untuk travelling ke sebuah tempat di mana kita dapat mengetahui bagaimana rasanya menjadi Ultraman. Hah? Ada gitu? Ada dong, ini bukan tempat di mana kita duduk di simulator dan menonton layar yang besar untuk melawan monster. Tapi, tempat ini benar-benar ada di dunia nyata yang diberi nama "The Model Village."

Sebenarnya, tujuan dibangunnya Model Village ini bukan untuk sekedar iseng merasakan jadi Ultraman, ini hanya keisengan kami yang menganggapnya begitu. Keisengan ini pun berhasil terealisasi di suatu Minggu yang sangat cerah (privilege banget dapat merasakan cahaya matahari yang cerah di UK), kami berlima menyewa sebuah mobil untuk pergi ke Model Village tersebut. Sebelum mengunjungi Model Village di Bourton-on-the-water, kami mampir dulu ke sebuah desa yang dinobatkan sebagai desa terindah di Inggris, yaitu Desa Bibury.

Desa Bibury ini sangat sepi tetapi memang terasa tentram dan menyenangkan. Panoramanya indah, suasananya tenang, atmosfernya terasa mendamaikan. Desa Bibury memiliki beberapa sungai jernih yang mengalir lengkap dengan beberapa angsa yang dengan bebasnya berenang. Selain itu, di Desa ini terdapat beberapa cottage yang bisa disewa oleh para pengunjung yang berlibur ke sana.

Advertisement

Sayangnya, kami terlalu pagi ketika tiba di desa ini sehingga tidak ada satupun kafe atau warung kopi yang buka . Terlalu pagi pun bukanlah suatu masalah karena kabut yang tebal justru lebih membuat atmosfer desa ini semakin syahdu. Tapi satu yang pasti, udaranya pun terasa cukup menusuk saat itu dan tanpa segelas kopi panas.

Setelah menghabiskan beberapa waktu menikmati keindahan Desa Bibury, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bourton. Sesampainya di sana, kami langsung menuju Model Village. Di sepanjang perjalanan kami di dalam kota Bourton, tampak sekali kalau Bourton kotanya kecil, lucu, dan cantik. Jika tinggal di sini sepertinya kami akan awet muda. Penduduknya masih dapat berinteraksi dengan bebek-bebek dan angsa di sungai, kuda, juga burung-burung liar. Tidak jauh dari pusat kota, sampailah kami di Model Village.

Beruntungnya, parkirnya tidak susah dicari karena berada tepat di pelataran Model Village. Seperti kebanyakan parkiran di UK, sistemnya Pay and Display (setelah membayar parkir, karcisnya diletakkan di atas dashboard mobil supaya terlihat dari luar). Per jamnya kalau tidak salah entah 50p (Rp. 9,500) atau 1 pounds (Rp, 19,000), lebih murah dari kebanyakan tarif parkir di kota lain *kemudian kami cengengesan bahagia. Tiket masuk ke Model Village juga murah, hanya 3.6 pounds, mungkin, karena sudah murah, kartu pelajar kami sudah tidak berlaku lagi sebagai kartu diskon (kartu pelajar di UK biasanya berfungsi sebagai kartu diskon). Yah, sudah murah, masih minta diskon, demi travel hemat.

Eng ing eng, memasuki Model Village, kami langsung berpencar dan melihat-lihat sekitar. Lucu saja bangunannya kecil-kecil tetapi dibangun dengan sangat serius. Material yang digunakan juga material bangunan sesungguhnya seperti rumah asli, mulai dari atapnya, pohon, jembatan, dan segala komponen lainnya. Beberapa bangunan dihiasi dengan perabot juga kendaraan yang beragam.

Oh iya, Model Village ini merupakan model dari kota Bourton itu sendiri. Tata letaknya pun dibuat sama persis, lucu deh. Setelah puas melihat-lihat dan jepret sana sini, dua orang teman kami yang dari dulu bercita-cita ingin menjadi Ultraman meminta kami untuk mengambil gambar mereka yang berakting ala-ala Ultraman yang sedang melawan monster.

Tidak ingin kalah dengan mereka, kami pun berfoto ala-ala raksasa juga.

Wah, kalau kami masih kecil, dijamin tempat ini akan sangat berkesan. Sekarang saja sudah sangat heboh.

Oh iya, untuk menuju ke sini memang tidak dapat ditempuh dengan kendaraan umum, jadi kami harus membawa kendaraan sendiri. Cukup bangga bisa sampai ke sini karena ternyata tidak terlalu banyak yang tahu kalau tempat ini ada :p

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya