Laki-laki itu menghampiriku saat aku sedang menikmati sore di sebuah cafe sambil melihat hujan dari jendela. Dia tersenyum padaku, tangannya meminta menjabat tanganku, sambil berkata, "Hai boleh kenalan? Aku Bintang." Dari situlah perjalanan kisah singkatku dimulai.

Perkenalanku dengannya secara tiba-tiba dan dari perkenalan itu terus berlanjut sampai kami bertemu lagi di pertemuan yang kedua. Siapa sangka di pertemuan kedua ini ia begitu manis, menungguku di depan rumah, membawakanku bunga mawar merah dengan baby breath kesukaanku dan membukakan pintu mobil untukku. Romantis bukan? Ini bukan sebuah adegan sinetron yang sering aku tonton di televisi, adegan yang sering aku caci maki karena terlalu klise. Tapi nyatanya adegan ini terjadi dalam kisahku.

Advertisement

Jujur ini pertama kalinya ada laki-laki semanis dia. Aku suka melihatnya saat menggulung lengan bajunya, aku suka saat dia menatapku, aku suka kacamatanya, aku suka senyum sabitnya, aku suka semua hal tentangnya.


"Kamu cantik hari ini."


Kalimat itu membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum. Dia tersenyum padaku. Hampir 2 jam lamanya membelah kemacetan kota Jakarta, akhirnya kami sampai di tempat yang tidak pernah aku duga. Tempatnya di pinggir pantai, benar-benar sangat indah, apalagi di malam hari dengan lilin dan lampu. Lagi-lagi dia sangat manis.

Advertisement

Sungguh indah pemandangan sore ini, aku bisa melihat sunset bersama dia. Laki-laki yang tidak pernah absen mengucapkan selamat pagi disaat aku bangun dan selamat malam di saat aku ingin tidur. Aku tidak pernah menyangka hatiku bisa terketuk kembali setelah lama terkunci. Aku bertanya dalam hati, haruskah aku membuka hatiku untuk laki-laki ini.

Dia bertanya padaku apakah aku dia satu-satunya laki-laki yang mendekatiku? Tentu saja, aku bukan tipe perempuan yang mudah membuka hati dan jatuh cinta pada laki-laki, setelah apa yang dilakukan mantan kekasihku yang meninggalkanku untuk wanita lain. Aku berharap aku satu-satunya di hatinya, setelah semua hal manis yang ia lakukan padaku, ku kira aku akan jatuh cinta pada laki-laki manis ini.

"Jujur aku mendekati beberapa wanita selain kamu, aku bingung dengan perasaanku sekarang. Aku mulai nyaman denganmu tetapi aku juga menyukai wanita lain yang sudah aku janjikan masa depan." Terus kamu anggap aku ini apa? Kamu tahu nggak sih, kalau kamu bertingkah laku manis seperti ini, siapa sangka kamu memberi harapan. Apa semua wanita yang sedang kamu dekati diperlakukan manis seperti ini? Dia pun terdiam, tidak ada jawaban.

Kalau kamu menyukai salah satu wanita itu, kamu harus dekati dia dengan sungguh-sungguh bukannya kamu main-main dengan perempuan lain. Yang ada kamu hanya menyakiti mereka. Karma masih berlaku, kamu jahat kalau kamu seperti ini. Kamu laki-laki dewasa, bukan bocah ABG yang masih plin-plan, kamu udah tahu caranya memilih dengan bijak


Dia masih tak ada jawaban, matanya hanya menatapku. Hanya ada perasaan bersalah yang aku lihat di matanya.


Kamu pernah tanyakan ke aku, kenapa aku ngga mau terbuka sama kamu? Inilah alasannya, karena tidak semua laki-laki bisa dipercaya. Termasuk kamu. Bahkan sekarang pun aku hilang respect padamu. Bukannya aku memberikan judgje padamu, tetapi kamu mendekati banyak wanita dan kamu menjanjikan masa depan dengan salah satu dari mereka, terus kamu anggap mereka apa? Aku berterimakasih kamu mau jujur ke aku. Aku sangat bersyukur karena aku tidak sampai membuka hatiku untuk kamu.

Baru saja aku mempunyai pikiran untuk membuka hatiku untuknya, tapi aku salah. Aku bukan satu-satunya tapi aku salah satunya. Kamu laki-laki yang tidak bisa berkomitmen, kamu harus tegas dengan pilihanmu, kamu harus bertanggung jawab dengan perasaan-perasaan mereka yang sudah berharap sama kamu. Kamu menyukai seseorang tapi masih mendekati perempuan-perempuan lain.


Apa kamu tidak pernah berfikir mungkin saja seseorang yang kamu sukai juga sedang menunggumu untuk mempertegas hubungan kalian? Sudahlah, cukup.


1 bulan kemudian, setelah kejadian itu tidak ada kabar ataupun sapaan darinya yang biasa aku terima. Hari-hariku pun sama seperti biasanya. Aku tidak merasa kehilangan ataupun patah hati, justru aku bersyukur telah menolong perempuan-perempuan lain yang sedang ditinggikan harapannya oleh Bintang. Aku sadar apa yang aku katakan pada Bintang mungkin terlalu kejam, tapi itu demi kebaikannya agar tidak ada lagi hati yang dipatahkan oleh Bintang. Entah apa kabar dia?

Sekarang aku mengerti, tidak ada salahnya untuk menutup hati. Aku tahu tidak semua laki-laki mempunyai sikap sepertinya, tetapi aku sebagai wanita harus mempunyai pertahanan diri agar tidak diterbangkan terlalu tinggi lalu dihempaskan sedalam-dalamnya. Berharaplah sewajarnya saja, karena harapan dan rasa ingin memiliki itu beda tipis dengan patah hati jika tidak sejalan dengan apa yang diharapkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya