Inilah Alasan Mengapa Perasaan yang Senasib Membuatmu Lulus Lebih Cepat

Skripsi cepat selesai

Penyelesaian skripsi dengan tepat waktu, bukan perkara soal pintar dan bodoh guys. Kaum rebahan, kaum biasa saja, golongan kupu-kupu (kuliah pulang) pun berhak selesai tepat waktu. Siapapun berhak menyelesaikan skripsi secara tepat waktu bahkan kalau bisa sebelum deadline. Tentunya setiap orang punya batas masing-masing. Ada yang berbatasan dengan kendala finansial sehingga pilihannya kalau tidak lulus segera ya drop out. Namun ada juga yang masih ingin mendewasakan diri dengan pengalaman akademik dan non-akademik di kampus, sehingga memilih waktu agak mundur untuk lulus dan penyelesaian tugas akhir. Semua tentang pilihan.     

Advertisement

Sedikit berbagi pengalaman, saya lulus S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan dari salah satu kampus negeri di Jogja. Saya bukan orang orang percaya diri, berprestasi, dan populer. Saat mulai memasuki semester 4 ke atas, saya merasa mulai gelisah. Terbayang olehku nanti akan duduk berderet-deret di depan ruang jurusan menanti kehadiran pembimbing. Terpikir juga kalau-kalau judul saya tidak diterima. Terbersit pemikiran nanti salah bicara dengan dosen pembimbing, lalu skripsi terhambat. Banyak hal berkecamuk saat itu.

Bagaimana strateginya?     

 Membangun perasaan “senasib” dengan teman yang sama-sama ingin menyelesaikan tugas akhir skripsi dapat menjadi terobosan yang patut dicoba. Kebetulan saat itu, saya dan teman tersebut satu pembimbing. Di situlah rasa “senasib” semakin melekat. Rasa senasib dan hubungan yang mutualis tersebut konon menjadi roh bagi kelompok self-help yang muncul sekitar tahun 1930-an.         

Menemukan partner yang dengan kesamaan nasib dan tujuan yang sama tidak mudah. Perlu orang yang memiliki komitmen yang sama untuk keluar dari masalah yang sama. Kehadiran partner tersebut memberikan ruang terjadinya saling mendengarkan dan mampu memberikan penguatan psikologis. Kita tahu bahwa dalam ilmu sosial satu penakut ditambah satu penakut tidak sama dengan dua penakut tetapi sama dengan menjadi berani.

Selain dukungan psikologis, kehadiran partner penting sebagai tempat latihan berargumen yang terstruktur dan logis. Saat ditanyai oleh orang yang lebih memiliki power (dosen), kadang kita merasakan grogi, takut salah, dan pikiran-pikiran lainnya. Setelah berlatih untuk saling membahas riset yang dikerjakan, maka kita dapat terlatih untuk berargumen lebih lugas. Kalau hanya mengerjakan skripsi di kos-kos-an, rasanya akan sedikit-dikit rebahan, makan, mengantuk, dan godaan lainnya. Dengan kehadiran partner, maka ia akan membantu melawan rasa malas dengan mencari tempat mengerjakan skripsi yang jauh dari kasur.        

Strategi berpartner dengan menganut semangat” senasib dan keluar dari masalah” yang sama ini tentu saja tidak mudah. Penyatuan dua orang atau lebih berarti bahwa mempertemukan pandangan dari banyak kepala dan latarbelakang kehidupan yang berbeda. Setelah di tengah jalan, bisa jadi partner-mu merubah fokus, tidak lagi serius dan komitmen terhadap apa yang sudah dimulai bersama, pada akhirnya  adalah tentang fokus  pada tujuan Anda.  

Advertisement


"Saya tak tahu apa rahasia sukses, tetapi rahasia kegagalan adalah saat berusaha menyenangkan semua orang"

-Bill Cosby (Philip Baker, 2004)


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pengajar tidak tetap di salah satu kampus swasta di Yogyakarta, UMBY. Saya menyukai dunia pendidikan, suka sharing, dan omong-omong yang menimbulkan efek therapeutic force. Above of all, i'm a learner.Follow me on instagram @ruly.ningsih untuk bisa saling sharing pengalaman.

CLOSE