Satu kata yang selalu terbawa dalam tidurku.

Yakin, ini bukan kecanggungan mula-mula, yang seolah kututupi getarannya. Alih-alih untuk tetap tenang didekatnya, justru salah tingkahlah dibuatnya.

Sebuah riset mengatakan, bila hanya dengan menatap seseorang selama 4 menit, dapat membuat seseorang tersebut, jatuh hati kepada kita. Bahkan orang yang belum kita kenal sekalipun.

Advertisement

Lantas, bagaimana caranya? Akupun bertanya-tanya sendiri. Menjawab pertanyaanku sendiri. Apa bisa? Apa mau?

Boro-boro memintanya menatapku. Melihatnya saja sudah seperti itu. Yah, lagi-lagi ini bukan soal ujian yang harus aku sendiri mengartikan. Bergulat dengan pikiranku sendiri. Lelah? Tak tahu sih. Cuma bahagia saja ngomong sama diri sendiri. Nguatin batin sendiri.

Mungkin saja bila ku memintanya menatapku, yang ada mungkin dia hanya diam? Kaget? Atau bahkan tersenyum?

Advertisement

Entahlah.. Mungkin aku yang kehabisan cara atau bagaimana. Aneh-aneh saja ide dalam pikiranku tuk perjuanganku. Semoga dia tahu. Hahaha (tertawaku dalam hati).

Sebagai pengagumnya, mungkin aku kalah. Entah apa yang akan dia pikirkan saat itu kepadaku, seperti ku tak peduli. Meski taruhannya dia mungkin akan semakin jauh untuk ku gapai.

Telah berulang kali kucoba mengartikan sendiri semua kekacauan mimpi-mimpiku selama ini. Namun sepertinya masih buntu jalan yang harus kutuju.

Disudut ruangan itu. Dini hari. Di keheningan dinginnya korta itu. Tak tahu harus dari mana ku memulai. Karna ku tahu, dia bukanlah pecinta drama histori. Tapi rasanya seperti berputar-putar saja apa yang ingin ku katakan selama ini. Apalagi untuk berbicara dengannya saat itu, yang harus membutuhkan keberanian tingkat tinggi.

Jika dia tahu, ada kekonyolan yang pernah kulakukan terhadapnya kala itu. Meneleponnya dengan melihat tulisan yang kususun sebelumnya. Rasanya tak mudah dan selalu salah dengan kalimat-kalimatku selama ini. Memang rasa penasaran dari pertanyaan-pertanyaanku terjawab sudah.

Meskipun jawaban itu tak bepihak kepadaku. Tapi setidaknya dia tahu. Dan mungkin bodohnya diriku yang tak pernah berhenti berharap keajaiban akan terjadi.

Terimakasih untuk kesempatan itu, yang mungkin tak tepat dan tak bisa terulang kembali. Itulah pertama kalinya kita saling menatap dan melempar tanya. Ku tahu kau bukan pria yang mengabaikan perasaan seorang wanita. Tapi ku tak boleh egois dan harus mau menerima apapun keputusan dari rasa tersembunyiku selama ini.

Dalam menyembunyikan sesuatu, pastinya tak ingin sampai oranglain pun tahu. Berbeda dengan ini. Rasanya seperti tak kuat untuk menyembunyikannya dalam keheningan doa-doaku. Tertoreh-lah sudah namanya dalam tulisanku, yang selama ini hanya tersimpan rapat dihati dan mimpiku.

Jika suatu saat nanti dia tahu, entah dia akan marah atau kecewa. Yang jelas dari hati paling dalam kusampaikan kata maafku kepadanya melalui tulisanku ini. Karena tanpa seijin darinya kubawa namanya dalam cerita hidupku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya