Aku adalah aku, seorang wanita biasa yang sampai saat ini masih berjuang untuk memperbaiki diri agar lebih 'tahan banting' dalam menghadapi segala problematika hidup khususnya untuk seorang wanita yang berusia diatas 25 tahun.

Namun dimata teman-temanku aku adalah seorang wanita yang kuat, mandiri dan penuh percaya diri. Tak jarang dari mereka yang mengatakan bahwa mereka termotivasi olehku dengan caraku survive dari berbagai cobaan hidup yang pernah ku lalui.

Advertisement

Tak sedikit pula dari mereka yang selalu mengikuti sedikit tulisan bijak yang ku posting di akun media sosialku. Bahkan ada pula yang menunggu dan bertanya postinganku selanjutnya jika kebetulan aku absen terlalu lama dari media sosial.

Aku sangat menikmati ketika menulis sebuah tulisan tentang bagaimana caranya survive atau move on dari cobaan hidup yang makin rumit seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Aku memilih tema ini karena menurutku tema inilah yang paling melelahkan bagi kebanyakan wanita di luar sana yang bermimpi dan berjuang agar tidak menjadi seorang wanita yang lemah.

Namun siapa sangka ternyata banyak dari teman-teman yang mengikuti tulisanku penasaran tentang satu hal yaitu tentang aku yang hampir tidak pernah membuat tulisan tentang cinta.

"Kamu seringkali membagikan quote tentang bagaimana survive atau move on dari cobaan hidup tapi aku tidak pernah melihat kamu membagikan quote tentang move on dari luka karena cinta". "Kenapa? Apa kamu tidak tertarik tentang cinta? Atau mungkin kamu tidak pernah terluka karena cinta?"

Advertisement

Jujur aku terkejut saat mereka memiliki pemikiran seperti itu tentangku. Aku tidak pernah terluka karena cinta? Apa kalian pikir aku tidak punya hati? Tentu saja aku pernah terluka karena cinta. Bukankah setiap insan yang bermain cinta pasti pernah terluka karenanya?

Sini, biar kuceritakan sedikit tentang kisahku. Aku pernah kehilangan diriku sendiri karena terlalu mencintai seseorang dan ketika kisah itu berakhir aku menyalahkan diriku karena pernah mencintainya. Dan yang terparah diantara kisahku adalah aku pernah merasa malu terhadap keluargaku sendiri karena sudah mengenalkan orang yang salah pada mereka. Mungkin ini terdengar sederhana bagi mereka di luar sana yang terbiasa terbuka tentang hubungan cintanya tapi tidak bagiku dan keluargaku yang punya prinsip mengenai sosok yang pantas kami 'bawa pulang' dan kenalkan pada keluarga.

Aku bukan wanita hebat yang tidak pernah terluka karena cinta, aku sama seperti kalian semua. Yang membuat kita berbeda adalah bagaimana kita menangani luka karena cinta. Untukku, aku tidak pernah dan tidak pernah ingin menunjukkan bahwa aku terluka kepada orang yang telah menyakitiku. Dan aku tidak pernah mengizinkan diriku sedih berlarut-larut apalagi terpuruk karena luka yang seperti itu.

"Karena aku selalu percaya bahwa seseorang yang pantas kamu tangisi adalah orang yang tidak pernah membuatmu menangis." Klise memang, tapi percaya atau tidak, pada kenyataannya pikiran itulah yang sudah berhasil menyelamatkanku dari kesedihan cinta yang berlebihan.

Satu hal yang tak kalah penting agar kau tidak terjebak dalam kesedihan cinta yang berlebihan adalah…

Kau harus mencintai dirimu sendiri dan percaya bahwa kau sangat berharga. Mungkin bukan buat dia yang sudah menyakiti dan meninggalkanmu. Tapi kau sangat berharga bagi seseorang yang ditakdirkan Tuhan untukmu di masa depan. Karena jika itu bukan kamu dan bersamamu maka cerita masa depan orang tersebut juga tidak akan ada.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya