Bukan Masalah Takut pada Corona, tapi Social Distancing Bisa Mencegah Kita Menjadi Pembunuh Pasif

social distancing bukan takut corona

Pernah denger orang ngomong kalimat ini?

Advertisement


“Hidup mati di tangan Tuhan, umur nggak bakal ketuker”


Kalimat itu mungkin sering didengar oleh orang yang berpikir terlalu positif saat menghadapi virus corona. Satu rumpun dengan MERS dan SARS, COVID-19 sama-sama menyerang sistem pernafasan dengan pneumonia sebagai penyebab kematiannya. Terkadang kita justru dianggap terlalu takut atau terlalu berlebihan ketika menolak untuk bersalaman dengan orang lain, kemudian menggunakan kalimat pembuka di atas sebagai pembelaannya.

Tau kan kalau virus corona itu menyebar lewat cairan ketika batuk atau bersin? Atau ketika menyentuh benda yang terkontaminasi virus? Jika sudah tau bahwa semudah itulah cara COVID-19 menyebar, lantas kenapa kita masih menyepelekan urusan penularan ini?

Advertisement

Virus corona tidak kasat mata, yang lebih parahnya lagi orang yang membawa virus ini tidak segera menyadari bahwa mereka sakit. Syukur-syukur kalau kita memiliki daya tahan tubuh yang tinggi sehingga tidak mudah terserang virus ini. Namun jika kita menjadi penyebab orang lain tertular bagaimana?

Pemerintah sudah menghimbau seluruh warga Indonesia untuk melakukan social distancing. Tujuan dari social distancing ini adalah untuk menghindari kontak dengan orang lain semaksimal mungkin, sehingga penyebaran virus bisa dikendalikan. Dengan adanya kebijakan ini, warga Indonesia diharapkan merubah pola pikir ke arah yang lebih  dewasa. Jangan karena kita merasa baik-baik saja, lantas kita “terlalu percaya diri” menyuarakan bahwa kita baik-baik saja.

Advertisement

Ingat masa inkubasi virus corona itu 14 hari. Jika awalnya kita takut akan terlular oleh virus ini, tolong mulai sekarang uubah paradigma seperti itu. Ubah cara pandang yang semula takut terinfeksi menjadi takut menginfeksi orang lain. Ini tidak berlebihan mengingat beberapa kejadian menunjukan bahwa sering kali orang sehat tidak menyadari bahwa mereka membawa virus corona.

Sekarang boleh saja kita merasa baik-baik saja, tapi bagaimana jika besok atau lusa kita terpapar dan masih saja bersikap seperti biasa? Berinteraksi dengan orang lain seolah kita sehat, kemudian menyebabkan orang lain terinfeksi. Kemudian jika sudah terinfeksi justru menyalahkan pemerintah karena tidak bisa mengelola pandemi di negaranya, tetapi rumah sakit yang tidak bisa menampung pasien dan lainnya. Pemerintah sudah melakukan upaya pencegahan semaksimal mungkin, namun upaya pemerintah juga butuh kerja sama dari warga.

Tolong berubah dari yang tak takut mati menjadi lebih peduli. Dari yang memikirkan diri sendiri, menjadi penuh dengan empati. Sekali lagi, pernyataan pertama tadi memang benar, namun tidak ada salahnya mendukung pemerintah dengan menjalankan social distancing. Jangan karena terlalu “pede”nya kita, justru berdampak fatal bagi orang terdekat kita.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Cowok aseli. Mencetak sebuah jejak

Editor

une femme libre

CLOSE