Suatu hari aku sedang duduk di kamar sambil menatap ke arah luar jendela. Jujur saja, saat itu aku sedang merasa sedih dan sendirian. Dalam hati aku selalu bergejolak pertanyaan yang mungkin setiap hari ada dipikiran ini, tapi entah kenapa saat itu aku benar-benar ingin menanyakan hal itu dengan suara yang keras sambil menatap kelangit.


Ada banyak hal yang tersimpan di dalam hatiku, terkadang pertanyaan itu menimbulkan sakit yang amat dalam dan hampir-hampir sering membuatku putus asa. Kali ini aku benar-benar marah dengan keadaan yang kualami. Rasanya, Tuhan itu nggak adil!

Advertisement


"Tuhan kenapa sih mama papaku cepet kali meninggalnya, terus kenapa abang-abangku nggak bertobat, dan kenapa saudara-saudaraku tidak peduli dengan keadaanku. Kenapa Tuhan, kenapa?"


Aku mencoba untuk menahan air mataku agar tidak jatuh, tapi aku nggak bisa. Seketika itu aku rebah di lantai kamarku. Aku marah pada diriku sendiri, marah pada keadaan yang ku alami. Pertanyaan konyol itu kerap kali datang saat ada orang yang menyakiti perasaanku. Aku benci kalau orang lain terlalu merendahkanku.

Sampai mataku terasa berat dan sulit untuk ku buka, hatiku terus berbicara kepada Tuhan sambil terisak-isak aku memanggil nama mama papaku. "Eh Janne Fritz Napitupulu, eh Lasni Nasution kenapa cepat kali pergi. Aku benci sama kalian, tega ninggalin aku sendirian, kalian nggak tahu kalau aku itu masih butuh kalian, aku nggak tahu mau cerita sama siapa. Kalian kasih aku abang, nggak berguna! Aku nggak tahu mau gimana, mau cerita sama siapa, mau nangis sama siapa, mau marah sama siapa, aku benci kalian!"

Advertisement

"Tuhan kenapa sih, Tuhan kenapa????!!!"

Ada banyak komentar yang bertubi-tubi aku keluarkan. Saat itu aku memilih menyerah, aku masuk kamar mandi, aku menyirami tubuh dengan air sambil terduduk di lantai kamar mandi. Aku benar-benar muak dengan apa yang ku alami. "Aku benci mereka yang suka berpikiran kotor tentang hidupku, aku benci mereka yang pura-pura menyayangiku, aku benci mereka yang suka menghakimi hidupku, aku benci mereka yang kata-katanya suka melemahkanku, aku benci mereka!"

Ada begitu banyak nama yang muncul di hatiku yang benar-benar menjadi onak dan kepahitan. Satu per satu masa laluku bermunculan, mulai dari papa dan mama yang suka berkelahi karena papa selingkuh, abang-abangku yang beberapa kali masuk penjara, papa mama berpisah, papa sakit, mama sakit, mama meninggal aku masih SMP, papa meninggal selang 4 bulan dari kematian mama, saudaraku sendiri mengusir aku dari rumahnya, aku harus berjuang untuk sekolahku sendiri, abangku DPO karena kasus togel, aku tamat SMA nggak didaftarkan SMPTN karena guruku takut aku nggak sanggup untuk biaya kuliah, dan saat ini aku masih terus di uji dengan kata

"Aku seorang pesandiwara"

"Tuhan aku capek!!!"

Pembersih toilet tepat ada di sampingku, tapi sejenuh-jenuhnya hatiku dan seberat-beratnya beban di kepalaku, Tuhan masih ada di hatiku, walau suara-Nya kecil karna aku masih lebih membesar-besarkan masalahku. Tak membuat tanganku menjadi ramah dan tak juga membuat tenggorokanku haus lalu aku meminumnya.

Keadaan yang ku alami membuatku jadi perempuan yang suka kasar kalau berbicara, walau aku kebanyakan diam, tapi saat marah aku nggak pandang laki-laki dan perempuan semua sama saja. Beberapa kali, saat aku SMA dan tamat SMA asap keluar dari mulutku, aku melakukannya sendiri tanpa ada orang di sekitarku, walaupun saat itu aku tahu Tuhan marah padaku. Aku mencoba mengikuti jejak abang-abangku. Tapi, aku cepat sadar aku mau jadi apa kalau bukan jadi sampah masyarakat.

Setelah aku merasa kedinginan, aku sempat tertidur kira-kira 8 menit. Di dalam tidurku itu Tuhan melemparkan hati yang udah hitam terus di hati itu berkeluaran nama-nama orang yang benar-benar aku menyimpan kepahitan. Tuhan bertanya "Namaku mana? Pantas saja kamu terus sakit dan membenci, namaku saja tidak ada di hatimu itu!!!" Aku terbangun dan aku merasa kosong dan bengong, aku ganti pakaian aku memilih diam, bersujud ke lantai sambil melipatkan tanganku. Air mataku terus mengalir, hatiku terasa kosong dia diam tak lagi bertanya-tanya.

Aku bercerita dan minta ampun kepada Tuhan,


"Aku minta ampun Tuhan, aku lupa akan Engkau, aku lupa kalau aku ada sampai hari ini semua karena cinta-Mu. Tuhan kalau aku boleh bercerita, aku hanya ingin ada orang yang sungguh-sungguh menyayangiku, bukan sekadar saja. Tuhan, terkadang aku ingin dipeluk sama saat seperti aku masih kecil, sekarang peluk aku Tuhan. Karena sudah berapa tahun papa dan mamaku tidak pernah memelukku lagi, sekarang aku tahu Engkaulah papa mamaku yang sesungguhnya"


Tuhan dengar setiap apa yang kusampaikan, karena aku tak punya mama papa lagi untuk tempatku bercerita, saat aku sedih, saat aku bahagia, bahkan saat ini aku sedang jatuh cinta tapi aku hanya bercertita kepada-Mu. Karna terkadang orang-orang hanya menganggap bodoh cerita yang kusampaikan. Tuhan jangan benci samaku, jangan seperti mereka yang tidak pernah mau menerima kekuranganku.

Tuhan ampuni aku, kalau aku lebih sering memanggil nama mama papaku, karna waktu kecil aku sering memanggil mereka ketika teman-temanku jahat padaku, Tuhan aku ingin kau membalut luka-luka di hatiku, aku ingin kau beri aku hati yang baru, yang mau mengampuni dengan tulus. Aku berjanji Tuhan, aku akan membuat Engkau bangga karena aku akan jadi perempuan yang lembut berkata-kata dan tidak akan main-main lagi denga dosa sakit hati serta aku akan membuat mereka yang selama ini kukasihi tersenyum bangga padaku. Aku akan menang karena aku punya papa mama yang Hebat yaitu Tuhan Yesus."

Selesai berdoa rasanya Tuhan benar-benar memelukku, aku tahu selama ini aku nggak pernah sendirian, bahkan di saat keadaan yang paling sakitpun yang kurasakan Tuhan ada untukku. Setiap proses yang dijalani masing-masing orang berbeda-beda, tapi semua itu akan mendatangkan kebaikan. Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa, karena Tuhan pasti ada untuk menjadi pembela dan penolong.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya