Ketika duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD) sekolah saya kedatangan tim kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). tiba-tiba tim kesehatan yang bertugas itu masuk kelas untuk menyuntik siswa di kelas saya, ada yang beda pada tahun ini, tahun sebelumnya jika ada tim kesehatan dari puskesmas datang ke sekolah ada pemberitahuaan dari guru kelas, tetapi di tahun ini tidak ada. Sontak saya yang takut disuntik, kaget dan merasa ruangan kelas begitu mencekam atas kedatangan tim kesehatan dari puskesmas.

Saat kelas satu saya kabur bersama Catudin dan Sanusi, setelah ada pengumumuan kedatangan tim kesehatan puskesmas dari guru kalas. Pada tahun sebelumnya tepatnya duduk di kelas satu, untuk bisa menghindar dari jarum suntik petugas kesehatan puskesmas saya berpura-pura izin ke toilet. Hal seperti ini juga dilakukan beberapa teman sekelas saya yang takut disuntik. Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Advertisement

Tidak ada cara lain untuk keluar kelas, satu persatu siswa di kelas dipanggil sesuai urutan absen, suasana kelas semakin terasa mencekam, serasa ada petir yang menyambar di ruang kelas ini, tiba giliran saya di panggil maju kedepan menghampiri petugas kesehatan puskesmas, saya yang duduk di bangku paling belakang maju perlahan dengan penuh rasa takut dan kecemasan, seketika jarum suntik itu menancap di lengan atas kanan saya.

Sontak saya yang awalnya merasa takut dan cemas, tiba-tiba merasa tenang dan lega setelah jarum suntik yang menancap di tangan lengan atas ditarik perlahan oleh petugas kesehatan puskesmas. Ternyata disuntik tak sesakit apa yang saya bayangkan selama ini. Setibanya di rumah saya menceritaka kejadia di sekoalah ke ibu, kemudian ibu menanggapinya

“Kalau disuntik tidak sakit, yaudah kamu disunat aja yah.” Ucap ibu menawari saya untuk disunat.

Advertisement

Saya yang tahu kalau disunat itu disuntik terlebih dahulu, dan sudah merasakan kalau disuntik itu tidak sakit. “yaudah bu saya siap disunat” jawab saya dengan yakin. Mengingat teman-teman laki-laki seusia saya hampir semuanya sudah disunat. Dan yang lebih menggiurkan dari prosesi sunatan adalah akan banyak para tetangga, saudara dan tamu undangan akan memberi saweran.

Tidak lama dari pernyataan kesiapan saya untuk disunat, Ayah dan Ibu beserta keluarga besar hampir semuanya sibuk mempersiapkan prosesi sunatan beserta syukuranya. Semua undangan telah disebar, kepada kerabatat terdekat ibu dan bapak. Sebagai acara hiburannya Ayah dan Ibu sepakat untuk mengundang KH. Syatori Muklis.

Pemilik sekaligus Pendiri Pondok Pesantern Al-Amin di Indramayu. Bukan tanpa alasan keluarga kami memanggil KH, Syatori Muklis, karena memang beliau popular di desa kami dan mampu memadukan ceramah keagamaan sebagai tuntunan bukan hanya tontonan.

Tibalah pada hari H dimana saya akan segera disunat para tamu undangan satu persatu berdatangan dan pergi silih berganti. Di desa Tanjungkerta Blok Bangong ada tradisi Kondangan, Kondangan merupakan kata serapan dari Ke undangan.

Di mana warga yang melakukan Hajatan seperti nikahan, sunatan, dan Rasulan akan di hadiri tamu undangan dengan memberi ucapan selamat dan doa restu, para tamu undangan akan memberi amplop berisi uang untuk yang laki-laki dan berupa beras untuk perempuan. Pemberian sejumlah uang dan beras tentunya tidak cuma-cuma.

Sohibul baith atau tuan rumah telah menyiapkan tukang catat alias notulen, untuk mencatat sejumlah uang dan beras yang diberikan tamu undangan, yang kemudian akan dibayar kembali pada saat tamu undangan melaksanakan hajatan.

Dukun Sunat yang dari pagi ditunggu-tunggu akhirya datang. Dengan menggunakan motor Vespa dan koper yang diikat di jok belakangnya, Dukun sunat itu nampak menakutkan. Paman dan Bibi yang menjadi penerima taumu menyambut dukun sunat itu dengan menyalami dan mengajaknya masuk ke ruangan yang sudah disediakan.

Desa jauh dari pusat kota dan rumah sakit, sehingga hampir semua warga di Desa menggunakan jasa Dukun sunat untuk mensunat anaknya. Saya yang dari pagi sudah bersiap-siap disunat merasa khawatir dan sedikit takut.

“Siapa namanya Nang? Sudah kelas berapa?” Tanya dukun sunat denagan basa-basi.

“Nurjaya Pak, Kelas dua SD.” Jawab saya singkat.

Tak menunggu lama jarum suntik menancap di daerah “mahkota” kebanggan semua lelaki. Saya yang pernah merasakan jarum suntik sebelumnya merasa tenang biasa saja.

Menunggu beberpa jam setelah disuntik Dukun sunat yang pergi setelah menyuntik datang kembali dengan membawa peralatan berupa gunting dan pisau sunat yang siap memotong “mahkota” saya. Sontak saya merasa takut menangis dan akan lari untuk menghindar dari ancaman gunting dan pisau Dukun sunat itu, paman dan om saya yang dari tadi menemani saya dengan sigap memegangi kaki tangan dan badan saya.

Saya yang memiliki badan kecil merasa tak berdaya akhirnya pasrah dan menangis merelakan sebagian “mahkota” saya dipotong Dukun sunat. Pada saat “mahkota” saya dipotong secara bersamaan diluar rumah juga ada tetangga yang memotong ayam jago yang kemudian dibakar dan dimakan saya sebagai tanda kejantanan, begitulah orang Desa mentradisikan adat. Setelah itu saya baru sadar ternyata disuntik dan disunat tak terasa sakit cuma takut saja. (Bersambung)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya