Segala hal yang rutin beriring berpadu padan menjadi tempat tetap di dalam hati yang tak mudah untuk goyah. Tawa-tawa didendangkan menjadi pernak pernik kebahagiaan yang tersusun menghias seperti pelangi. Berjejer menemani dengan rapi di dalam hari-hari yang sangat berarti.

Saling menyemai dan memberi nutrisi untuk menegakkan bait demi bait memori. Kulambungkan mimpi untuk dapat bersanding denganmu pada sebuah ikrar yang sakral. Tak pelak untuk kelak telah terbayang suasana haru biru yang harmoni. Dengan segala kepercayaan yang sudah penuh keyakinan dirimu adalah tempat hatiku melabuhkan segala perasaan.

Advertisement

Siapa yang akan menyangka terkadang keinginan yang dielu-elukan justru tak mau diajak untuk bersatu. Pada suatu waktu yang detiknya hilang kamu menjadi orang asing yang seakan tak mengenal segala hal yang sangat kental. Kau menampik dengan mimik yang sangat apik.

Menarik segala rasa yang sedang berbunga-bunga. Lalu melarikan diri dengan tanpa rasa berdosa ditengah diriku menggantungkan segala yang kupunya kepadamu. Mengahabiskan segala energi untuk dapat berjabat di saat yang tepat, tetapi lebih memilih berakhir dengan sia-sia tanpa sisa. Dengan sangat leluasa kau menutup segala sesuatu yang berbau temu bahkan rindu.

Dalam keadaan yang sangat sekarat aku masih berkutat ‘semoga’ dengan erat. Meski bibir berucap, ‘silakan saja apa baiknya’, tetapi hati berkehendak harus iya setengah memaksa. Pada saat seperti ini aku memilih menjadi orang kehilangan iman, mendikte-Nya dengan egoku yang sedang berkembang biak di dalam hati dan tetap berada di posisimu yang sudah tak tahu diri.

Advertisement

Aku sedang dipimpin emosi yang kau ciptakan dengan sangat cekatan. Sepertinya hatiku telah mati rasa, tak tahu salah dan benar pada tempat yang sebenarnya.

Aku sedang berkabung dengan kekecewaan yang beruntun setiap malam. Hujan rajin mengunjungiku untuk menjadi lagu pengiring yang berdenting dengan nyaring. Segala ingatan terbentang lebar memutar ulang kisah klasik yang entah kapan akan dapat terusik. Dengan segala sesal yang menyumpal mengapa harus ada pertemuan denganmu pada waktu dulu? Ingin rasanya aku membeli lorong waktu untuk mencegat temu saat itu.

Namun apa baiknya juga jika memaksa kehendak-Nya yang sesungguhnya memang tak restu. Hidupku tak melulu meratapi patah yang terus menggoti hati. Akan banyak hari-hari baik didepan yang dapat kugantungkan menjadi harapan baru.

Hidupku tidak hanyak sebatas hari ini, esok lusa dan seterusnya tidak akan memiliki kisah yang sama seperti kemarin. Meski itu hanya sebatas niatan yang nyatanya diriku masih terkapar dengan nanar. Biarkan kelak ada masanya aku dapat menjalaninya dengan biasa saja.

Untuk nurani yang suci menyelipkan sedikit diskusi bahwa salah ini tidak seluruhnya tercurah kepadamu. Tertuju juga kepadaku yang tidak pernah memikirkan kemungkinan buruk yang menerpa secara tiba-tiba. Kepercayaanku seperti anak panah yang pasti melesat dengan jitu tanpa melihat sasaran yang di dapat berubah dari papan duduknya. Itulah salah terbesarku adalah mempercayaimu sebagai manusia yang kuanggap sempurna.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya