Ada yang bilang bahwa bukan keadaan yang membuat kita kecewa. Tapi kita kecewa karena harapan yang kita buat sendiri. Sering kali hati sudah melambung tinggi bahagia namun kenyataan menjatuhkan perasaan. Sudah berkhayal indah-indah tapi akhirnya kita hanya terlampau GR.

Yakin memang boleh-boleh aja, apalagi untuk hal yang positif. Namun jangan berlebihan dalam mendahului perasaan. Sudah lama menanti-nanti. Sudah lelah bermimpi-mimpi namun ternyata itu adalah kesombongan hati yang menganggap bahwa memang kita yang dicari. Padahal tanpa kita sadari ada orang lain di sana yang lebih pantas untuk dipuji.

Advertisement

Takdir kita memang bukan bayangan yang bisa ditebak, bukan pula matematika yang selalu bisa diperhitungkan. Tetapi coba renungkan sebentar, bahwa pasti selama masa yang telah kita lalui kita pernah mendapat kejutan luar biasa yang tidak pernah kita bayangkan.

Mendadak kita bahagia tanpa perlu direncanakan. Lalu bagaimana rasa bahagia itu? Tidak bisa dijelaskan. Lebih indah mana? Kebahagiaan yang datang sebagai kejutan, atau merasa bahagia lebih dulu untuk sesuatu yang akhirnya tidak ada?

Sederhana saja. Ibarat seseorang yang memberi dengan tulus, ia tidak akan memikirkan balasan kebaikan apa yang akan Tuhan berikan. Ia melakukannya dengan kerelaan dan hati yang lapang. Lalu kejutan kebaikan datang tanpa disangkanya. Berbeda dengan seseorang yang memberi namun sibuk memikirkan balasan yang ia rasa harus didapatkannya. Maka ia akan menanti dengan gelisah, berharap terlalu tinggi. Namun Tuhan tahu bahwa ia tidak tulus.

Advertisement

Seperti mengharapkan daun jatuh di tengah kehijaunnya, di pagi buta yang segar. Namun daun itu jatuh pada senja yang hangat dan jingga. Ia terlalu menanti pada waktu yang salah. Padahal semua akan jatuh pada ketetapannya.

Merasa istimewa itu sah-sah saja, namun memungkiri kelebihan orang lain adalah salah. Saat bukan kita yang terpilih, percayalah takdir tak mungkin salah. Lelahnya perjuangan lebih berarti daripada lelahnya menanti. Karena perjuangan adalah bukti usaha pencapaian. Sedangkan menanti semata hanya akan membuat kita jadi penontonnya. Lalu menyaksikan orang lain juara.

Persembahkan yang terbaik dengan ketulusan, lalu nantikan dengan perjuangan yang baru. Berjalanlah menuju titik terang yang baru. Dan jangan terpaku di bangku tempat menunggu. Berharaplah seperti embun pagi, sesaat namun membawa pada nafas yang baru. Semoga segala hal indah menyeru padamu.

Jadilah berkelas dengan penampilan terbaik lalu menyerahkan hasil pada Yang Kuasa. Menantilah dengan berkelas di mana hatimu hanya mengharapkan mereka yang pantas untuk menang yang akan terpampang. Menanti dengan ikhlas bahwa keberuntungan adalah milik siapa saja dan tak melulu kamu yang punya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya