#JarakMengajarkanku: Beratnya Beban Pejuang LDR(indu)

Semakin jauh sebuah jarak, semakin besar pula rasa rindu

Hal terberat bagi seorang anak adalah LDR dengan orang tua. Ya, itulah yang saat ini kurasakan. Mungkin, kalian yang sedang atau pernah merantau pernah merasakan betapa beratnya, jauh dari jangkauan orang tua. Entah itu merantau karena mencari ilmu ataupun mengais rezeki.

Advertisement

Masih terbayang di benak kepala, saat akan pergi ke kota orang nan jauh, Ibu memelukku erat dengan mata berkaca-kaca. Tangisnya pecah saat aku pun ikut mengucurkan air mata. Ya Allah, kelemahanku adalah air mata Ibu. Aku tidak tega melihatnya menangis. Beliau mengecup pipiku berulang kali, seakan-akan berat melepaskan kepergian putri kesayangannya.

Berbeda dengan Ibu, kulihat Ayah tersenyum tipis. Tidak ada raut kesedihan yang terpancar di wajahnya. Ah, Ayah memang lelaki yang kuat. Namun, kutahu, sebenarnya hati Ayah tengah menangis di dalam sana. Melepas kepergian seorang anak adalah hal yang sulit dan menyakitkan. Meskipun begitu, mereka harus merelakan kepergianku untuk menuntut ilmu dengan harapan putri kebanggannya bisa mengangkat derajat orang tua.

Awal-awal hidup di perantauan, aku sering mengalami home sick. Ketika rindu dengan orang tua—padahal baru beberapa hari ada di kota rantau, kuputar lagu “Doaku” yang dinyanyikan oleh Putri DA. Nada-nadanya yang mellow membuat air mataku mengucur deras. Akhirnya, menangis terisak-isak di dalam kamar kos yang pengap. Setiap mendengar lagu yang berhubungan ayah atau ibu, otomatis air mata ini luruh. Benar-benar lemah.

Meskipun jarak membentang, aku masih bisa berkomunikasi dengan orang tua. Bahkan, hampir setiap hari, aku menelepon Ibu. Berkeluh kesah tentang semuanya. Mengeluhkan tentang udara di kota yang sangat panas, tidak seperti di kampung halaman. Masakan di sini tidak enak, tidak seperti masakan Ibu.

Dulu, saat di rumah, makanan sudah tersaji di depan mata tanpa harus repot-repot memasak. Namun, sekarang, untuk makan saja, harus berkutat di dapur terlebih dahulu atau berjalan kaki untuk mendapatkan lauk.

Advertisement

Saat menceritakan hal itu, Ibu langsung terisak. Mendengar isakan ibu, air mata ini terjatuh seketika. Ah, benar-benar lemah, rapuh, dan payah diri ini. Setiap kali akan menutup sambungan telepon, Ibu atau Ayah selalu mewanti-wanti agar aku selalu berhati-hati dan makan tepat waktu.

Bahkan, Ayah harus membanting tulang setiap hari agar putrinya yang berada di kota rantau tidak kelaparan. Mereka juga rela makan makanan seadanya agar aku bisa mengonsumsi makanan yang bernutrisi. Perjuangan mereka telah memantik semangatku untuk giat belajar. Ayah, Ibu, tunggu saja, empat tahun lagi, aku akan menyandang gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Apalagi, saat tubuh ini mulai lemah dan akhirnya jatuh sakit. Saat itu adalah hal yang berat bagiku. Jika ada di rumah, Ibu yang akan menyiapkan semua. Makan, minum, dan obat. Akan tetapi, saat di kota rantau, jangankan minum obat, untuk membelinya pun tidak bisa. Pada akhirnya, tubuh ini terkapar tak berdaya di atas ranjang. Menunggu keajaiban Tuhan datang. Sesekali, menjatuhkan air mata karena tak tahan menanggung rasa sakit. Sakit fisik juga batin.

Ah, mengingat masa-masa itu membuatku memahami banyak hal. Hidup jauh dari orang tua mengajarkanku tentang kemandirian. Membuatku sadar bahwa aku sudah beranjak dewasa. Tidak mungkin lagi menggantungkan hidup pada orang tua.

Jarak mengajarkanku banyak hal. Tentang rindu, kehilangan, kesabaran, dan kepercayaan. Jarak membuat rasa rindu semakin berharga.

Semakin lama tidak tatap muka, semakin ingin bertemu. Menggunungnya rasa rindu itu membuatku semakin semangat menyelesaikan pendidikan agar bisa kembali ke dalam rengkuhan Ayah dan Ibu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE