Curahan Hati Perempuan yang Mencintai Laki-laki dan Sudah Memiliki Pasangan. Oh, Betapa Ini Sungguh Menyakitkan

mencintai laki-laki yang sudah berpasangan

Kalau saja ada pilihan di awal sebelum rasa nyaman ini ada di antara kita, aku akan memilih untuk tidak punya hati dan rasa agar aku tak menjatuhkan diri padamu yang ternyata sudah termiliki. Bukan inginku jika aku makin hari makin merasa nyaman saat bersamamu. Meskipun aku tau jika kamu sudah memiliki wanita lain jauh sebelum aku datang di kehidupanmu, dia yang lebih dulu mengisi hari-harimu penuh warna, dia yang pertama kali membuatmu merasakan jatuh cinta dan indahnya pacaran, dia yang sudah kau ikat dengan status.

Betapa sakitnya saat tau kalau aku bukanlah orang yang kau istimewakan pertama kali dalam hidupmu, bukan aku saja wanita yang kau panggil sayang dan kau perhatikan setiap hari-harimu, ada dia yang kau prioritaskan dibanding aku yang hanya sebatas. Sungguh ini bukan mauku, mencintaimu adalah hal yang mengalir begitu saja saat rasa nyaman itu muncul. Jika bisa kuputar waktu, tentu aku akan memutarnya jauh sebelum aku terbiasa hidup denganmu. Namun, kini kenyataannya aku bahkan susah untuk melepasmu pergi walau sedetik pun. 

Kau yang datang kepadaku saat awal kita bertemu, aku menganggapnya sebagai bentuk bantuan dari Tuhan melalui tanganmu. Aku yang saat itu benar-benar merasa sendiri dan tak ada satupun yang mengerti. Kau yang baik hati mau membantuku dengan tulus dan percaya sepenuhnya padaku, padahal kau belum mengenalku banyak hal, itu yang aku rasakan.

Aku yang kian hari kian takut kehilanganmu, makin terasa sesak dalam kecemburuan saat aku tau kau sedang bersamanya. Aku merasa duniaku sepi seketika. Air mataku menetes dengan sendirinya padahal sudah kubendung agar tak jatuh ke pipi.

Kau tau? Jujur aku inginkah lebih dari ini, namun aku bisa apa? Aku bukan perempuan yang pemberani dalam urusan cinta. Mendapatkanmu dengan keadaan seperti ini saja aku sudah cukup bangga, daripada aku harus tanpamu. Aku tak punya keegoisan untuk memilikimu sepenuhnya bahkan merebutmu dari dia pun aku tak ada keberanian.


Lantas kenapa aku bisa mencintaimu? Bukankah aku sudah tau statusmu dengannya?


Pertanyaan semacam itu sering kali aku lontarkan pada diri sendiri, entahlah aku bahkan bingung pada hati ini, harusnya tak seperti ini yang terjadi, harusnya aku memilih menyudahi rasa ini, sebelum semuanya semakin sukar untuk kulepas. Namun ternyata semakin aku mencoba berontak pada perasaan ini, aku semakin merasakan sakit di dada yang teramat nyeri. Aku benar-benar lemah, merasa bodoh karena tak mampu bergelut dengan kenyataan. Ekspetasiku terlalu tinggi sedari awal, hingga begini sakitnya aku.

Untuk wanitamu di sana yang saat ini sedang bersamamu, maafkan aku jika aku telah berada di antara kehidupan kalian. Bukan maksudku merusak hubungan yang tlah kalian jalin dari awal, bukan inginku juga menjadi orang ketiga di antara kalian. Sungguh aku bahkan tak berdaya saat ini, mencintai lelakimu adalah bagian dari takdirku, yang telah Tuhan tuliskan pada catatan-Nya.

Saat ini aku hanya bisa memasrahkan hati pada apa yang harus aku jalani, meski aku tau esok akan ada keputusan yang harus diambil olehmu. Perihal siapa yang akan kau tinggalkan dan kau pertahankan kelak, meski aku sudah menebaknya namun biarlah semua berjalan sesuai alurnya. Akan kucoba perkuat hati ini dengan lapisan iman, agar tak mudah koyak nantinya, agar sakitnya tak menghunus jantung bahkan hingga menggores ke nadiku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

perkenalkan sayahanya pengagum alam bukan traveller hanya sebatas hoby baca dan nulis bukan penulis bayaran hanya penyuka view bukan fotografer bukan penyanyi tapi suka nyanyi bukan pemusik tapi suka dengerin musik suka nyimak radio karna saya adalah announcer

Editor

une femme libre