Jatuh Hati ke Mantan Pacar Sahabat Sendiri

Dulu aku sempat menaruh hati padanya. Dia yang pernah menjadi teman sekelasku. Dia yang baru saja berstatus mantan dari sahabatku sendiri. Saat mendengar kabar itu, perasaanku tak karuan. Seakan ada dua sisi dari diriku sedang berperang dan sama kuatnya. Disatu sisi, aku turut berduka. Sahabatku dan pacarnya yang cukup lama bersama, kini tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. Disisi lain, aku bahagia. Ini artinya aku ada kesempatan untuk mendekati pangeranku tapi saat itu aku tak tau bagaimana caranya.

Advertisement

Sepertinya tuhan mengerti isi hatiku saat itu. Tuhan mempertemukan ku dengan dia dalam sebuah acara. Pertemuan sederhana. Hanya saling sapa dan sedikit nostalgia saat menjadi teman sekelas saja. Kita berpisah tanpa bertukar nomor, WA, BBM, atau apapun itu. Cukup lama dari situ, sekitar satu bulan, tiba-tiba dia menghubungiku lewat pesan singkat. Ada perasaan yang kembali bangkit saat menerima pesan darinya. Tapi bagaimana caranya dia tau nomorku? Bukannya selama ini aku tak pernah menghubunginya?

Aku membalas sapaan basa-basinya dengan pertanyaan ‘darimana kamu tau nomorku? Tubuhku membisu beku saat membaca balasan pesan darinya. Dia tau nomorku dari sahabatku sendiri yang baru saja jadi mantannya. Ini seperti sebuah alur masalah baru. Pertanda apa ini tuhan.

Setelah menghela nafas panjang, aku menanggapi pesan itu. Ku tanyakan apa tujuannya mencariku. Sampai dia nekat menanyakan nomorku ke mantan pacarnya sendiri. Satu menit setelahnya, aku mendapat jawaban tentang tujuannya menghubungiku adalah untuk memberi tau tentang kabarnya kini dan kami pun larut dalam perbincangan bak dua orang yang sedang pendekatan hari demi hari.

Advertisement

Disaat aku terlena dengan perasaan ini, tiba-tiba sahabatku datang ke rumah dan langsung menatapku dengan tatapan penuh curiga. Aku diintrogasi. Sahabatku menanyakan apa tujuan matan pacarnya menanyakan nomorku. Sepenting apa urusanku sama dia. Dari tatapan mata sahabatku, aku tau dia masih menaruh hati pada sang mantan. Aku tak sampai hati mengatakan tentang hal yang sebenarnya terjadi meski aku tau bahwa yang memutuskan hubungan mereka adalah sahabatku sendiri. Bukan si mantan pacar. Jadi aku berbohong. Aku hanya menjawab untuk keperluan reuni sekolah saja. Awalnya sahabatku tak yakin dengan jawabanku. Hingga disetiap obrolan kita, berulang kali pertanyaan yang sama terucap dari mulut sahabatku dan aku tetap pada jawabanku. Sahabatku pun pada akhirnya percaya namun sejak saat itu aku dihantui perasaan bersalah.

Perasaan bersalah ini sampai membuatku tak bisa tidur berhari-hari. Disatu sisi, aku bahagia bisa mulai dekat dengan pria yag aku sukai. Tapi jika aku teruskan, ada perasaan yang tersakiti. Aku mulai mencari jawaban. Aku kumpulkan opini terbanyak dari teman-teman yang tak mengenal mereka. Supaya hasilnya lebih objektif, pikirku. Ternyata tak ada guna. Kedua kubu opini sama kuatnya.

Ada yang membenarkan perasaanku dan memperbolehkan aku untuk melanjutkan pendekatan yang sudah kita jalani. Mereka beranggapan, dia dan sahabatku sudah berlalu. Kini yang ada aku dan dia. Tak ada yang tau hati ini akan jatuh ke siapa. Sekalipun itu adalah mantan pacar sahabat sendiri.

Ada pula yang menyalahkan perasaanku dan memintaku berhenti untuk melanjutkan pendekatan yang sudah terjalin. Bagi mereka, bagaimanapun itu adalah bekas kekasih sahabatku dan menjalin hubungan dengan mantan pacar sahabat sendiri akan membuat komunikasiku bersama sahabatku memburuk.

Tuhan, salahkah jika aku menyimpan rasa dengan pria yang pernah jadi mantan sahabatku sendiri?

Akhirnya, ku putuskan untuk menekan egoku. Aku mencoba menghetikan perasaanku ke dia dan memilih untuk menjaga hubungan persahabatanku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE