“Kamu anak sastra? suka nulis ya?”

“Suka baca buku apa?”

Advertisement

“Bikinin aku puisi dong!”

“Kok tulisan kamu gak sesuai EBI sih? Katanya anak sastra!”

Kamu anak sastra? Sering mendengar celotehan di atas? Kalau sering, berarti kita sama. Hahaha.

Advertisement

Saya kuliah sastra, Sastra Arab tepatnya. Belum sampai dua semester, tapi sudah sering kebanjiran celotehan seperti di atas. Gimana sih perasaannya?

1. Kamu anak sastra? Suka nulis ya?

Celotehan ini cukup sering saya dengar atau “Kamu anak sastra? Suka baca ya?”. Apalagi ditambah kacamata yang selalu menemani saya, membuat saya tampak seperti ‘kutu buku’. Kalau kamu bertanya kepada saya, maka jawabannya adalah iya. Saya suka menulis, dan saya suka membaca. Tapi, jangan salah, tidak semua anak sastra seperti itu. Dan, tidak hanya anak sastra yang boleh suka menulis atau membaca. Masih banyak teman-teman program studi saya yang tidak suka bahkan enggan membaca. Tetapi, saya punya banyak teman jurusan non sastra yang sangat menyukai sastra. Ada yang jurusan teknik, MIPA, ekonomi, dan sebagainya. Jadi, untuk kamu-kamu anak sastra yang ditanya seperti itu, jawab saja dengan jujur. Apakah kalian suka atau tidak. Jangan takut kalau si penanya akan bilang, “Nggak suka nulis atau baca kok masuk sastra?” Karena sebenarnya itu nggak ada hubungannya (menurutku sih). Tapi, mungkin belajar sastra akan lebih menyenangkan jika kita suka menulis atau membaca. Benar, bukan?

2. Bikinin aku puisi dong! Bikinin aku kata-kata puitis dong buat caption!

Beberapa orang berfikir kalau anak sastra ini orangnya puitis banget bak pujangga. Padahal mah….. hahaha. Beberapa di antaranya ya, beberapa di antaranya tidak. Lagipula, tidak semua orang–khususnya anak sastra–bisa membuat kata-kata indah dengan sengaja, apalagi disuruh. Biasanya kalau kayak gitu malah blank sendiri. Kata-kata indah itu datang tanpa sengaja, tergantung keadaan, termasuk suasana hati. Tapi, biasanya kalau kita jawab gitu, si penanya akan bilang “Katanya anak sastra, masa nggak bisa!” Duh, sekarepmu ajalah!

3. Kok tulisanmu ejaannya berantakan sih? Gak sesuai EBI? Katanya anak sastra!

Nah, menurutku cara pandang seperti ini kurang tepat sih. Menjadi mahasiswa sastra tidak otomatis membuat kami bertutur kata sesuai ejaan Bahasa Indonesia yang benar. Tetapi, kita bisa jadi tahu bagaimana caranya menulis sesuai EBI, meskipun nggak kita pakai sehari-hari. Tergantung kondisi juga, jika keadaannya memang diharuskan untuk menulis/berututur dengan baku, kami bisa kok! Lagipula, apa nggak terkesan kaku kalau kamu chatting dengan temanmu yang anak sastra dan memakai bahasa yang sangat formal?

4. Coba dong, ngomong bahasa Arab!

Dibandingkan jurusan lainnya, anak sastra lebih mendapatkan pertanyaan & tantangan aneh dari orang lain. Contohnya:

A : kamu kuliah di Sastra Arab ya? Coba dong lihat catatan kuliahmu, penasaran.

B : *ngirim foto catatan*

A : Itu gundul semua? Gak ada harakatnya, bisa baca? Coba dong kirim voice note kamu baca catatanmu.

B : *ngirim VN*

A : ah apaan sih, gak ngerti kamu ngomong apa, kayak kumur-kumur.

Selalu begitu. Lha tadi siapa yang suruh kirim voice note?

5. Mau kerja jadi apa? TKI ke Arab?

Sebenarnya agak miris juga sih ditanyain kayak gini. Itu kan masih menjadi rahasia Tuhan. Saya pun juga belum tahu pasti, akan jadi apa saya setelah lulus nanti. Saya hanya bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Mungkin segini dulu dari saya. Ini pribadi pengalaman saya, mungkin mahasiswa sastra lain tidak merasakan ini. E

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya