Kau boleh berlalu, jika tinggal bukanlah janjimu.


Aku sudah lama menikmati sepi, menyelami rangkaian kisah tanpa arti. Namun, semenjak kau datang, ceritaku akan dimulai. Ya, pada mulanya aku memang berpikir seperti itu, kau akan memberi alur pada kisahku yang kian hampa. Namun, sampai detik ini, kau terlalu nyaman bermain-main dengan hatiku, sehingga kau lupa untuk berhenti. Atau memang, kau tak berniat untuk mengakhiri permainan ini.

Advertisement


Jika kau tak berniat merangkai kisah denganku, kita akhiri saja sebelum dimulai. Dimulai? Ah, betul, kau tak ada niat untuk memulai.


Lalu, apa maksud kedatanganmu? Selama ini kau hanya mencari celah hatiku, bukan mengisinya. Sungguh, aku tak paham apa maumu. Aku kira kau akan serius memahami makna “aku”, “kau”, dan “kita”. Namun, aku salah, mungkin saja kau hanya mencari sosok untuk menjadi temanmu menjelang sepi. Atau mungkin, bukan aku saja? Oh, hanya aku yang terlalu percaya diri. Akal sehatku sudah lancang menganggap bahwa dirikulah satu-satunya yang menerima senyum manismu. Nyatanya, ada yang lain. Memang, seharusnya aku sadar diri.

Jujur saja, selama ini aku menunggu keseriusanmu akan hatiku. Sungguh, aku lelah memupuk harap untuk dijadikan yang utama dalam hidupmu, mengingat kemungkinan aku hanya menjadi nomor dua atau sekian. Sedih memang, namun begitulah kenyataannya. Aku hanya merangkul rasa yang semu, yang kau suguhkan kepadaku selepas lelah dengan yang lain. Namun kali ini, kurasa sudah cukup.

Advertisement

Tanpa harus kuberi tahu, kau pasti sudah paham, bahkan sangat paham, aku memang menyimpan rasa untukmu. Hanya saja, kau berpura-pura tak menyadarinya. Nampaknya, kau sangat menikmati waktu yang kau ulur dalam ruangku. Tanpa kau sadari, aku ingin menjadikan semuanya seperti sedia kala. Ya, hidup tanpamu.


Sederhana saja, kau tak pernah menginginkanku. Tak apa, aku baik-baik saja, sungguh.


Perlu kau tahu, semuanya hanya tentang “tinggal” dan “pergi”. Jadi, jika kau tak ingin tinggal, kau hanya perlu pergi. Bukankah mudah saja bagimu untuk beranjak dari sisiku? Bukankah masih banyak tempat persinggahan yang akan menyambutmu? Silakan saja, aku sudah bosan menjadi tempat bermainmu. Aku lelah bergelut dengan harapan yang hanya imajinasiku saja. Jika memang kau tak menginginkanku, sederhana saja, pergilah. Aku tak ingin berharap lebih lama lagi. Lagipula, aku sudah lama menunggu, menghidupi denting waktu yang tak pernah mati. Maka dari itu,  aku sudah tak berminat menerimamu untuk berdiam di tempat pijakanku. Kau paham maksudku? Ya, kau betul, beranjaklah.


Untukmu, seseorang yang kucintai. Aku mohon, enyahlah.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya