Pagiku dibuka dengan secangkir teh hangat dan speculaas favorit. Bukan hal yang baru karena sejak tak lagi berjodoh dengan si pekat kopi, teh menjadi kawan yang tak bisa kulewatkan dipagi hari.

Ponsel bergetar pelan, menunjukkan sepenggal pesan dari seorang kawan "Cek IG, ada berita panas" aku memang jarang membuka media sosial beberapa waktu terakhir ini karena terlalu banyak berita yang mengandung toxic menjelang perhelatan akbar negara.

Advertisement

Dan rasa perih membuncah di sudut dada ketika membaca berita yang sedang "panas".

"Audrey, siswi SMP dikeroyok 12 siswi SMA" begitu kira-kira judulnya.

Dialah Audrey, anak usia belasan tahun, yang dianiaya dengan brutal oleh sekelompok anak yang selisih umurnya hanya beberapa tahun lebih tua. Dan tentunya semua sudah tau alasan pengeroyokan itu, alasan yang sangat dangkal, asmara. Pun, dia hanya sebagai pancingan, bukan sasaran utama. Tetapi badannya dijadikan samsak, dipukul, ditendang, kepalanya dibenturkan ke aspal, dan tidak hanya itu, kelaminnya pun tak luput menjadi sasaran penganiayaan. Luka fisik dan mental jelas didapat secara nyata.

Advertisement

Aku belum menjadi seorang Ibu, tetapi hati mana yang tidak hancur melihat seorang gadis diperlakukan secara amoral oleh -mirisnya- sesama perempuan.

Langkah hukum ditempuh, tetapi jelas perlu pendampingan dan dikawal bersama agar keadilan tercipta yang selaras harmoni. Karena sudah menjadi rahasia umum, sering kali hal semacam ini terabaikan karena uang. Ya, para pelaku bukan orang tak punya, jelas dengan gaya mereka menunjukkan keluarga mereka berada.

Kalau kita mau merenungkan, Audrey bukan kasus kekerasan anak pertama yang terpampang nyata. Kasus Audrey, mewakili sederet kasus anak lainnya, seharusnya menjadi tamparan bagi kita, para manusia dewasa yang bertangung jawab atas masa depan generasi selanjutnya.

Dear Audrey, biarkan kami sebagai orang dewasa meminta maaf.

Maaf, karena kami gagal menciptakan lingkungan yang sehat untuk kalian bertumbuh dan berkembang.

Maaf, karena kami terlalu sibuk hingga mengabaikan pendidikan moral generasi kalian.

Maaf, karena kami memberi banyak kemudahan dengan alasan yang terkadang kurang masuk diakal hinggal membuat mental milenial menjadi brutal.

Maaf, karena kami seharusnya sadar, sikap dan perilaku kalian, adalah cerminan sikap dan perilaku kami.

Dear Audrey, biarkan pula kami  sebagai orang dewasa berterima kasih.

Terima kasih, karena kamu telah berani bersuara. Atas nama mu, dan juga atas nama anak-anak yang tak mampu bersuara karena ketidakadilan.

Terima kasih, karena kamu membuat kami ingat pentingnya membangun mental dan moral generasi muda.

Terima kasih, karena kamu menyadarkan kekurangan kami sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab atas masa depan generasi selanjutnya.

Terima kasih, karena kamu telah sangat luar biasa kuat.

Maka dari itu, jangan menangis Audrey.

Percayalah, keadilan masih ada di negara ini.

Percayalah, keadilan akan ditegakkan di bumi Indonesia ini.

Percayalah, keadilan bukan hanya sebatas ilusi.

Maaf, dan terima kasih Audrey.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya