Justru yang Disebut Milenial Itu Menderita Parah

Milenial

Apa enaknya jadi milenial? Ya, apa enaknya jadi sebuah generasi yang lahir di tengah mekarnya teknologi dan globalisasi? Ketika sebuah thread di Twitter tampak lebih meyakinkan daripada koran. Ketika uang kertas sudah banyak ditinggalkan. Ketika komik-komik tahun 80-an menggambarkan masa depan, kita ternyata sudah ada di masa depan itu. 

Advertisement

Pertanyaan itu kerap mengusik tiap kali kata tersebut muncul di pamflet webinar, di mulut pejabat, atau di media sosial. 

Apakah teknologi? Bukankah ketika kami yang milenial mendarat di usia 20-an, teknologi justru menjadi disruptif? Internet justru menculik interaksi sosial yang riil dan memindahkannya ke layar. Tak heran pula bahwa rebahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Netflix and chill, dude? 

Atau globalisasi? Ketika kultur dari luar negeri diagungkan, lalu kultur kita dianggap kuno. Ketika baju impor lebih keren daripada pakaian adat kita? 

Advertisement

Menjadi milenial mungkin artinya terjebak dalam sebuah peralihan yang menyengsarakan. Sebuah dunia yang masih didominasi generasi atas, namun zaman justru diam-diam memberi lapak untuk “anak-anak muda”. Kita masih menemukan kekolotan di satu sisi, dan kebebasan di sisi lain. Baju ‘Deus’ di kafe atau sarung dengan nasi tempe di warung Tegal. 

Artinya, selalu ada yang ditanggalkan dari sebuah generasi. Kalau ia mau maju, harus ada sesuatu yang dilepas, tak bisa dibawa melulu. Satu hal menjadi masa depan, yang lain mengalah menjadi sejarah. 

Apa yang kita sebut milenial hari ini bukan cuma staf di sebuah perusahaan mancanegara atau brand ambassador di sebuah start-up saja. Ia, bisa jadi adalah sekumpulan orang yang mabuk oplosan atau seorang pencopet. Atau orang-orang marjinal atau kelas menengah yang berat membayangkan masa depan. 

Maka alangkah baiknya bila tak ada yang repot-repot menaruh harapan besar pada milenial. Kami sudah cukup sibuk dengan diri kami sendiri. Apakah kami individualis? Mungkin saja, tapi apa salahnya?

Sebab yang kita sebut milenial hari ini, adalah kumpulan anak muda yang tertatih-tatih bertarung dengan zaman. Alias tak semua mendapat jalan yang mudah. Coba pikirkan betapa sulitnya mencari kerja, bung, dan seenaknya saja meletakkan tanggung jawab di punggung kami. Coba pikirkan betapa repotnya belajar daring, sementara kami dituntut menjadi cerdas layaknya komputer.

Adalah kebebasan bagi sebuah generasi untuk memilih yang terbaik buat dirinya sendiri. Ideologi tak bisa sembarang saja disuntikkan. 

Kami spesial, ya benar. Sebab sebagian dari kami mungkin kuno dan konservsatif. Yang lain progresif dan kritis. Sementara di sana ada juga yang fokus mengembangkan dirinya sendiri. Masing-masing dari kami punya pilihan. Wajibkah saya mengubah dunia ini? Wajibkah juga Anda mengubah dunia ini?

Claire Raines dalam karyanya yang berjudul Connecting Generations: The Sourcebook, memandang milenial sebagai “hottest commodity” dalam dunia kerja. Komoditas? Masakan sebuah generasi bisa disederhanakan sebagai ‘hanya’ komoditas? Mungkin kita jengkel mendengarnya, tapi itu realistis. Tentu kita tahu semua orang butuh penghasilan. Dan untuk menghasilkan sesuatu tiap orang harus bekerja.

Joel Stein tak kalah muram, dalam tulisannya ia sebut bahwa orang dengan kepribadian narsisistik meningkat tiga kali lebih banyak pada usia 20-an dibandingkan usia 65. Milenial membutuhkan pencapaian, milenial butuh memberi makan ego-nya. Pendek kata: cari perhatian. 

Itulah faktanya, meskipun dingin. Artinya milenial bukanlah generasi cemerlang nan terbaik. Ada hal-hal yang tak bisa dibilang baik atau buruk yang melekat pada kami.

Bila sebagian dari kami ingin mengubah dunia, mereka tentu akan benar-benar melakukannya. Namun tentu tak semua dari kami hendak menjadi The Avengers yang membela kebajikan. Ada juga yang hanya ingin mendapat menikah, kerja, berkarya, atau sekadar mencari kesenangan. 

Maka satu pertanyaan ini barangkali mewakili kami: adakah kebebasan untuk memilih?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE