Memiliki target yang ingin dikejar adalah hal yang wajar bagi seorang pebisnis. Kalau tidak punya target, malah itu yang menjadi pertanyaan. Tanpa target, kita kadang agak bingung melakukan action ke depannya. Tanpa target, kita kadang bingung harus memilih pasar yang kita tuju seperti apa. 

Percayalah, target omzet atau profit yang kamu rencanakan adalah suatu hal yang harus kamu usahakan. Namun, jangan lupa bahwa yang menentukan hasilnya bukanlah kamu. Tuhan Yang Maha Esa lebih tahu daripada kamu. Kadang, bahkan sering, target yang kita rencanakan tidak tercapai sebagaimana yang kita bayangkan. 

Advertisement

Mungkin kamu sudah jatuh bangun siang malam. Jatuh bangun kesana kemari untuk memenuhi target profit yang akan menjadi tabungan kamu di masa depan. Mungkin juga kamu sudah menginvestasikan banyak uang untuk meraih proyek yang bernilai miliaran rupiah, bahkan mungkin kamu malah menghabiskan sisa uangmu untuk berinvestasi ke sana. 

Bahkan mungkin kamu sudah berusaha sekian tahun untuk memenuhi target yang ingin kamu capai. Target yang menjadi impianmu demi kehidupan yang lebih baik ke depannya. Namun, sampai sekarang target itu malah belum tercapai. Atau bahkan, kamu mengalami kebangkrutan yang sama sekali tak kamu perkirakan. 

Maka, tak salah jika kita mengevaluasi diri kita sendiri. Mengevaluasi diri kita apakah diri kita sudah pantas mendapatkan uang 100 juta, 1 miliar, atau bahkan 10 miliar. Kita harus mampu mengukur kadar kepantasan kita. Jangan-jangan, kita memang belum pantas mendapatkan itu semua, sekeras apapun kita sudah berusaha. 

Advertisement

Beberapa hal yang bisa menjadi tolak ukur kamu pantas atau belum mendapat jumlah uang sebesar targetmu antara lain :

1. Gaya Hidup

Gaya hidupmu bisa jadi membuat Tuhan enggan memberikan jumlah uang sebesar yang kamu targetkan walau kamu sudah berusaha keras. Misal targetmu profit 100 juta per bulan, dan profit per bulanmu sekarang masih 4 juta. Kamu harus berkaca bagaimana gaya hidupmu dengan profit 4 juta itu sebulan. Apakah boros atau hemat? 

Bisa jadi, dengan profit 4 juta itu, sebenarnya cukup untuk biaya hidup. Namun, kamu malah boros dengan penghasilan segitu dengan memaksa untuk kredit mobil dan rumah selama 15 tahun misalnya. Kamu memiliki tanggungan yang harus kamu bayar selain mobil dan rumah. Atau dengan penghasilan segitu, kamu hidup boros dengan banyak jajan di mall yang sebetulnya bisa dikurangi dengan makan di rumah. 

Dengan gaya hidupmu yang menurut Tuhan boros dan memaksakan diri di luar kemampuanmu, mungkin Tuhan belum memberikan rezeki sebesar yang kamu inginkan. Tuhan takut kamu bakal semakin boros jika tiba-tiba diberi 100 juta per bulan. Bisa jadi kalau kamu punya profit 100 juta per bulan, kamu bakal kredit rumah atau mobil yang lebih mahal. Atau malah makin boros dengan hal-hal yang sifatnya konsumtif. 

Percayalah, Tuhan lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri.

2. Pamer di Media Sosial

Mungkin kamu tidak terasa kalau kebiasaanmu pamer mobil, jalan-jalan ke luar negeri, rumah mewah, dan lain-lain yang sifatnya barang mewah di medsosmu, membuatmu kecanduan untuk memberikan hal serupa terus menerus di medsosmu. Istilahnya panjat sosial. Padahal, bisa jadi itu semua bukan milikmu. Kalau pun itu memang milikmu semua, tak seharusnya kamu mengumbar kemewahan di media sosial. 

Mengumbar kemewahan secara terus menerus demi mendapat sanjungan dan pujian para netizen sangat berbahaya bagi kita semua. Apalagi kalau kamu menargetkan profit bisnis meningkat, misal 1 miliar per bulan agar kamu bisa beli mobil yang lebih mewah, rumah yang lebih mewah, dan lain-lain hanya untuk dipamerkan. 

Tak salah kalau kamu memang mampu membeli barang-barang mewah di atas. Yang menjadi masalah adalah kebiasaan pamermu yang berpotensi membuatmu hatimu kecanduan pamer di medsos. Mungkin dengan kamu dibuat rugi bisnisnya atau tidak meningkatnya bisnismu, Tuhan berharap kamu bisa mengurangi kadar pamermu di medsos. 

Karena apa? Semua hanya titipan. Tuhan takut kamu menganggap semua kemewahan itu adalah milikmu dan menganggap kemewahan itu adalah tujuan hidupmu. 

3. Egosi Dalam Berdoa

Berdoa bisa egois ya? 

Bisa jadi. Misal kamu ingin profit 100 juta per bulan untuk bisa kredit rumah yang lebih mewah. Padahal, di daerah sekitar rumahmu, banyak orang yang sedang menganggur dan butuh pekerjaan. Maka, mungkin Tuhan menginginkan kamu untuk bisa berbagi dengan orang di sekitarmu, bukan hanya untuk dirimu. 

Sering kita lupa mendoakan orang lain dan hanya mendoakan diri kita sendiri. Berdoa agar kita sukses, kaya, dan sebagainya. Namun lupa mendoakan orang lain sukses, kaya, dan sebagainya. Atau paling tidak, kamu berdoa agar jika kamu diberi amanah 100 juta per bulan, maka kamu berjanji akan membuka 3 lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitarmu. 

Sungguh itu sangat mulia. Orang yang menganggur hanya butuh pekerjaan dan gaji, bukan sumbangan dan santunan. Mereka juga ingin dihargai sebagai orang yang bisa bekerja, bukan hanya menerima saja. Maka, muliakanlah orang lain. Muliakanlah orang-orang yang membutuhkan pekerjaan dengan memberikan mereka pekerjaan dan gaji, bukan sumbangan. 

4. Kamu Masih Pelit

Mungkin saat ini, misalnya saja penghasilanmu 3 juta per bulan. Di saat penghasilanmu 3 juta per bulan, kamu masih pelit dalam berbagi. Dari penghasilanmu itu, mungkin kamu hanya bersedekah 50 ribu sebulan. Jumlah yang sangat kecil dibanding penghasilanmu. Bisa jadi semakin besar penghasilanmu, semakin pelit kamu dalam bersedekah. 

Sudah seharusnya, sedekah itu diluangkan dari jumlah penghasilan, bukan disisakan. Dua istilah ini tentu beda. Jika diluangkan, berarti kamu sudah berniat dari awal untuk bersedekah dengan jumlah sekian. Namun, jika disisakan, kamu akan menunggu sampai semua kebutuhanmu terpenuhi, baru bersedekah. Dan kalau sudah begini, seringkali susah bersedekah. Kalaupun mampu, pasti kecil sekali jumlahnya. 

Tuhan pasti akan memberikan apa yang kamu minta, berapa pun jumlahnya. Asal kamu memantaskan diri. Jika kamu ingin menjadi miliarder, siapkan mental dan tindakanmu agar siap dan tidak semena-mena menggunakan uang miliaran. Jikamm kamu ingin menjadi triliuner, siapkan mental dan tindakanmu agar siap dan tidak semena-mena menggunakan uang triliunan. 

Pantaskan diri, terus berusaha, dan terus berdoa. Mungkin kita berharap 1 miliar tahun lalu namun tak tercapai. Bisa jadi kita malah jadi sombong tahun lalu jika Tuhan memberi kita 1 miliar. Tuhan ingin kamu benar-benar siap menerima 1 miliar agar kamu tidak semena-mena dan tidak pamer di media sosialmu. 

Percayalah, apa yang kamu bayangkan setiap hari, itulah yang akan terjadi. Jika kamu membayangkan 1 miliar setiap hari, percayalah itu akan terjadi. 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya