Terkadang kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa hidup itu bukan hanya untuk diri sendiri dan kelompok saja.

Jujur, aku semakin muak saja dengan tingkah laku generasi bangsa akhir-akhir ini. Rasa muak ini semakin memuncak saja ketika semakin hari tak pernah ada waktu untuk berhenti sejenak untuk tidak saling berkomentar bejat antara generasi bangsa yang satu dan lainnya.

Advertisement

Kamu bisa liat sendiri kan. Betapa banyak caci maki, ujaran kebencian, hujatan keburukan bahkan yang paling parah lagi adalah membela pribadi, golongan, atau kelompok dengan membabi buta terjadi di Indonesia ini. Mulai dari dunia maya, media sosial bahkan ke dunia nyata.

Aku pikir, kenapa sih ini terus terjadi. Kenapa Indonesia yang katanya adalah bangsa yang penuh dengan budi pekerti dan terkenal karena sopan santunnya ke manca negara, sekarang semuanya hilang karena hanya dukungan buta pada kelompok atau golongan sendiri saja.

Aku juga tak melihat lagi bangsa ini saling memiliki toleransi yang tinggi. Hal ini terbukti dari banyaknya ujaran caci maki, kebencian, dan bahkan saling mengangungkan masing-masing golongan makin meluas saja, tak hanya pada dunia nyata bahkan di dunia maya seperti media sosial yang lagi digandrungi oleh banyak manusia.

Advertisement

Ada juga yang mengaku paling toleransi, tapi hanya di mulut saja. Karena ucapan toleransi saat ini hanya pada kelompoknya atau kelompok lain yang memiliki satu pandangan yang sama. Jika tidak, maka toleransi pun tak pernah ada.

Padahal, toleransi adalah sebuah perasaan yang harus dimiliki oleh segenap penghuni bangsa Indonesia ini. Tak peduli lahir dengan warna kulit apa, ditakdirkan menjadi pemeluk agama apa, memiliki status sosial yang seperti apa, dan terlahir dalam kelompok apapun, toleransi harus di hati. Bukan hanya ucapan di bibir atau up datetan status di media sosial saja.

Menurut KBBI, toleransi bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Tapi pada kenyataannya, tolerenasi hanya ada di kamus saja. Bukan pada setiap hati manusia Indonesia yang suka bikin gaduh dan ribut saja, tidak hanya pada kehidupan nyata bahkan pada dunia maya.

Terkadang aku berpikir, apa sih yang mereka dapatkan nyampah komentar kotor, ucapan buruk, lontaran kata caci maki di media sosial. Kenapa mereka gak nyampah ujaran cinta kepada sesama saja, kan bisa bikin lebih adem di udara Indonesia yang panas karena penghujan belum datang.

Hei, sudahlah.

Akhiri pertikaian dan pertengkaran hanya karena kalian merasa paling benar, paling toleransi, paling Indonesia, paling cinta Ibu Pertiwi, paling menjaga NKRI. Karena penyebab inilah kalian lupa untuk saling intropeksi diri ke dalam, bukan mengintropeksi orang. Seperti halnya kita meminta orang lain ngaca, tapi lupa klo kita juga harus ngaca apakah ada keburukan yang kita perbuat karena kita sudah terlalu dibutakan kepercayaan diri yang berlebihan bahwa diri kita sendiri yang paling benar.

Ayolah, kita ini Indonesia yang terlahir dari keberagaman agama, budaya, suku dan bahasa. Bukan terlahir dari cinta buta, bukan juga terlahir dari komentar kotor, sampah caci maki, ujaran kedengkian bahkan sifat kebengisan. Kita ini terlahir dari kekuatan cinta untuk hidup bersama dalam satu tanah air, Indonesia. Kita terlahir karena cinta kepada bahasa yang sama, Indonesia. Bahkan kita juga terlahir karena bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Jadi, jika kita sudah terlahir karena cinta yang tumbuh kepada bangsa karena keberagaman. Ayolah, saatnya kita juga hentikan nyampah nyinyiran dan komentar buruk kepada siapapun atau bahkan pada apapun. Ganti sampah sampah di otak dengan nyampah ujaran cinta kepada siapapun dan bahkan apapun. Karena hanya dengan nyampah dengan ucapan yang penuh cinta, hati yang saling peka untuk saling menjaga, maka hubungan antara sesama akan semakin mesra.

Inget ya. Kita gak boleh ikutan nyampah caci maki dan nyinyiran benci apalagi komentar kotor tak berhati. Cukup lah dengan nyampah cinta, buang cinta, dan rasa peka kita kepada siapapun dan apapun. Karena semakin besar cinta kita tebarkan, akan semakin memberikan kebaikan kepada sesama, bahkan pada alam semesta.

Karena sejatinya, aku hanya ingin kita semua sebagai anak bangsa saling mesra, bahu membahu, saling membantu untuk kelangsungan negeri ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya