Kamu percaya kebetulan?
Aku tidak percaya, aku lebih berfikir itu takdir.

Saat lomba antar kelas aku bertemu dengan dia yang sebenernya adalah anak kelas sebelah yang beberapa kali kami sering bertemu, bahkan beberapa kali tak sengaja bersama, entah itu hanya duduk sebelahan di angkot, atau tiba – tiba saja dengan santainya dia bersandar di punggungku ketika ada lomba bersih-bersih kelas.

Dia yang tidak pernah ku sangka akan menjadi pewarna di masa putih abu-abu ku,
Dia baik, seseorang yang ternyata termasuk orang yang terkenal dan banyak orang ingin dekat atau memilikinya.

Lantas pada akhirnya dia memilihku. Entah apa yang terjadi pada otaknya, dia memilihku.
Pria sederhana dengan segala kekurangan yang dulunya tidak menyukainya.

Singkat cerita atas ketulusannya, dia mampu merubah segala sikapku terhadapnya.
Sikap cuek dan tidak pedulinya aku terhadap perasaannya.
Lalu bodohnya aku sadar, aku mencintainya ketika hampir saja aku kehilangannya.

Dia sempat lelah memperjuangkan cintanya kepadaku.
Dia memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang yang menghargai perasaannya.
Beruntungnya aku segera sadar dan merebutnya kembali, egois kah aku?

Aku masih ingat
bagaimana merona nya wajah kami saat pertama kali kami berpegangan tangan,
bagaimana kikuknya kami berada di motor saat pertama kali ku antar dia pulang,
bagaimana kami mulai terbiasa bersama di motor, berteriak, bernyanyi, atau kebut – kebutan seperti jalanan hanya milik kami,
bagaimana pertama kalinya aku merasa cemburu, ketika dia mulai bercerita tentang masa lalunya.

Masih ingat bagaimana aku menembaknya di samping rumahnya dekat pemancingan dengan sejumlah alang-alang yang ku cabut dari tempat pemancingan dengan suara terbata-bata malu menatap wajahnya yang terkejut, lalu dengan semangat aku menjemput temannya di rumah sebagai syarat jawabannya mau menjadi kekasihku, lalu mengingat bagaimana wajahnya merasa bersalah karna alang – alang yang ku petik dirusak temannya yang tidak tau proses penembakanku itu.

Masih ingat bagaimana wajah merona nya ketika ku adakan penembakan ulang dengan membawa saksi temanku bahwa pada hari itu dia benar – benar resmi menjadi milikku.
Masih ingat bagaimana wajah kagetnya karna aku mencegat angkot yang sedang dia naiki, dan menanyakan apakah dia mau bareng denganku, dia bilang aku gila karena membuat semua penumpang angkot tersebut menatapnya.

Masih ingat bagaimana dia menatap terharu kepadaku yang rela kehujanan dari Bogor hanya untuk menjemputnya di Cilenggang, di rumah temannya hanya karna dia takut pulang sendirian.
Masih ingat bagaimana dia menangis di motorku ketika dia mulai merasa bersalah telah menduakanku selama beberapa bulan dengan adik kelasku, yang akhirnya sejak saat itu hubungan kami sempat merenggang kembali menjadi hangat.
Masih ingat bagaimana wajah jahil dan tertawa puasnya ketika dia memaksaku memakan sandwich telur setengah matang buatannya yang membuatku hampir muntah.

Masih ingat bagaimana dia tertawa terbahak – bahak melihat aku yang takut masuk ke kelas setelah di hari sebelumnya dengan berani aku menarik tangannya membawa dia pulang bersamaku, padahal hari itu seharusnya ada latihan senam untuk ujian praktek.
Hai, coba bayangkan bagaimana seram dan marahnya teman sekelasmu karena ujian senam dinilai dari kekompakan kelompok!
Jadi wajar kan kalau aku takut?

Aku masih ingat rasanya memandang dia, menatap wajahnya, melihat senyumnya, perasaan ini masih ada.
Masih terasa meski sekarang kabarnya saja aku tidak tahu.
Setelah kelulusan lalu memutuskan untuk kuliah dan kerja di tempat yang sama,
kami kira bisa melawan takdir untuk tetap bisa bersama.

Pada akhirnya, kami malah sama-sama menyerah.
Bukan menyerah karna tidak cinta lagi atau bosan, justru kami berpisah karna kami saling mencintai.
Kami sadar seberapa besar cinta yang dimiliki,
kami tidak akan bisa melawan takdir yang tak akan pernah dan tak akan pernah bisa bersama.
Lantas kami memilih keluarga kami, memilih orang tua kami, dan berpisah dengan niat membahagiakan mereka.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya