[CERPEN] Kami Lelah Menunggu, Kenapa Engkau Tak Kembali?

Entah kenapa, alam selalu berlaku tidak adil untuk keluarganya.


Engkau adalah pembuka gerbang menuntun langkah baru bagiku

Engkau terlahir dengan segala ketulusan dan pengabdian

Advertisement

Membuncah kalbu mengundang kagum

Derap langkahmu sederhana, namun bijak bestari dalam segala prinsip dan perjuangan

Kau memang istimewa!


Advertisement

****

Sebait larik-larik di atas selalu terngiang dalam ingatan Ruben. Setiap hari ia mengintrepretasi sedetail mungkin pesan yang tertulis pada dinding rumahnya. Jika ia mencoba menafsirkan maka saat yang bersamaan air mata turut jatuh basahi pipinya. Ruben melihat itu sebagai salah satu teka-teki kehidupan yang sukar ia pecahkan.

Entah kenapa, alam selalu berlaku tidak adil untuk keluarganya. Teori keadilan tidak berlaku dalam kamus kehidupan keluarga mereka. Keadilan sebagai suatu hasrat naluri yang diharapkan bermanfaat, namun malah pergi entah ke mana. Ia selalu ditindas oleh tanah pada tempat ia berpijak.

Setiap harinya, banyak pertanyaan mengantung begitu saja dalam kepala Ruben. Sebelum senja kembali ke peraduan, Ruben banyak bertutur di bawah senja. Kekesalan terhadap sangarnya kehidupan sebagai pemicu utama.

“Begitu peliknya kehidupan kita, Bu! Sampai-sampai Ayah jarang berada bersama kita pada sore dan malam hari," ocehnya di suatu sore.

Ibu hanya bisa mengeleng-geleng kepala mendengar keluh kesah anak semata wayangnya, buah cinta dengan Pak Lasa. Sebenarnya apa yang diutarakan Ruben sama dengan isi hati yang ia alami pula. Sayangnya Ibu banyak menyimpan rapat-rapat dalam hati. Namanya juga Ibu. Ia selalu saja berperan bak pahlawan kesiangan. Serasa yang paling kuat di dunia. Padahal hatinya juga menyimpan segudang risau.

“Ben, Ayah sedang bercumbu dengan laut. Kita tentu berharap agar laut Flores bersahabat dengan Ayah. Setidaknya perjuangan Ayah membuahkan hasil pada sore hingga malam hari nanti," jawab Ibu.

Ruben hanya tertegun. Ia diam seribu bahasa. Mulutnya kaku seperti baru saja dipaku. Bahkan untuk keluar satu kata pun, ia tak lagi sanggup. Ibu memahami perasaan yang sedang dialami anaknya.

“Engkau tahu tidak? Masih banyak orang di luar sana yang lebih susah dari keadaan kita sekarang. Kita harus sabar dan teguh untuk menjalani segala lika-liku kehidupan yang sedang kita arungi."

“Tidak ada yang mustahil selama kita berusaha sekuat tenaga. Tuhan akan membuka jalan bagi setiap orang yang giat dalam berjuang," tutupnya. 

Ruben menghela napas panjang. Ia makin pangling. Tatapannya hampa. Pikirannya makin amburadul. Ia pun angkat kaki meninggalkan Ibu, dan melangkah menuju ruang tamu.

****

Semilir angin senja di bumi Flores bagian barat menyusup masuk lewat celah jendela ruang tamu rumah Pak Lasa. Tampak Ruben menunduk dan merenung segala tutur kata Ibu. Ia pun tak bisa menginterupsi isi pembicaraan Ibu, apalagi mencela isi pembicaraan wanita tua yang telah membesarkannya.

Rumah yang mereka tempati turut bercerita juga tentang kesusahan akan nasib yang sedang mereka arungi. Kondisi rumah mulai reot dan tidak terawat. Tiang penyanggah sudah mulai lapuk dan miring. Aksesoris di dalamnya minimalis. Tidak ada unsur estetis dan interior. Rumah mereka sangat sederhana, luput dari predikat istimewa.

Alat elektronik juga tak ada satu pun. Gelombang modernisme yang wabahi masyarakat global pada abad ke 21 justru tidak bersahabat dengan keluarga Ruben. Modernisme bagi mereka tidak lebih dari tatanan dunia baru yang dipengaruhi oleh teori kapitalisme, industrialisme dan upaya pencaplokan negara adidaya terhadap karakter masyarakat lokal.

Semenjak dulu Pak Lasa menjadikan laut sebagai rumah kedua. Budaya melaut turun-temurun dalam keluarga mereka. Laut bagi mereka sebagai penyambung lidah kehidupan. Baginya, haram jika memunggungi laut. Peradaban keluarga Pak Lasa turut dipengaruhi oleh laut.

Kerap kali rumah mereka  didatangi oleh petugas pemerintahan untuk mendata keadaan keluarga. Daftar pertanyaan diajukan dengan apik. Pak Lasa menjawab dengan lugu. Konklusi dari proses pendataan bermuara pada janji bahwa kelak mereka mendapatkan bantuan rumah murah. Tentu hati mereka berbunga-bunga mendengar berita itu.

Bulan berganti bulan, tahun pun berganti, janji manis petugas tak kunjung datang. Keluarga Ruben semakin muak dengan janji tanpa bukti. Ujung-ujungnya, keluarga mereka kembali melacur diri dalam kondisi rumah yang mengenaskan.

“Di mana letak keadilan?" tandas Pak Lasa di dalam hati. Padahal menjelang pemilihan umum, mereka sering dijadikan sebagai refrensi untuk orasi politik dari para kandidat. Orang-orang kecil hanya dijadikan sebagai komoditas politik.

Kosa kata keadilan menjarah keseharian orang-orang kecil. Keadilan tidak lebih dari salah satu konsep falsafah negara yang sering didaraskan saat upacara bendera di sekolah. Praktiknya jarang dilakukan dengan berimbang.

Biduk kehidupan keluarga Ruben sangat bersandar pada kerjaan Ayah. Ketika Ayah mulai melaut demi arungi samudera, Ibu menjalankan tugas sebagai kepala rumah tangga. Kesibukan dan usaha demi mengepulnya dapur adalah alasan utama Ayah cundangi lautan biru. Jangan heran Ayah jarang berada di rumah. Ganasnya laut Flores berhasil ia taklukan. Selama laut masih biru selama itu juga semangat tetap membara.

****

Matahari mulai tumbang di kaki langit, menyisakan merah di atas kepala. Ruben masih ingar-bingar di dalam ruang tamu. Sesekali ia tatapi ombak yang mulai garang dan menghantam bulir-bulir pasir yang berada tepat di depan rumah mereka.

Bibir pantai ini selalu basah. Basah sebab selalu dicium sang ombak. Ombak di depan rumah Ruben tak pernah absen untuk memoles bibir pantai, hingga bibir pantai terlihat indah, mengoda dan menawan.

Setiap hantaman ombak lahirkan irama perlawanan. Ia berhasil membunuh kesunyian, bahkan turut mengaburkan suramnya kehidupan yang sedang dialami keluarga Ruben. Sayangnya, itu tak berhasil mencuri perhatian Ruben. Hatinya masih dirundung pilu.

“Bu, sekarang sudah mulai larut malam? Ayah juga belum pulang!”.

“Sabarlah, Ben! Ayah pasti pulang. Ia bukan tipe orang yang mengingkar janji,” jawab ibu.

Ibu menyadari bahwa Pak Lasa pasti pulang. Sudah 15 tahun mereka arungi bahtera rumah tangga, dan selama itu juga ia selalu menepati janjinya. Pak Lasa bukan tipikal politisi dengan karakter mengumbar janji tanpa bukti. Ia tidak pandai berjilat lidah. Ia jujur, polos dan setia.  

“Ayah pasti pulang," lanjut Ibu.

“Iya sih, Bu. Tapi, sekarang sudah tengah malam?" tanggap Ruben.

“Tenanglah! Ayah pasti pulang. Ia pasti pulang."

Ruben pun beranjak ke halaman rumah. Ia menatap bintang-bintang yang merona pancarkan pesona yang romantis dan magis. Gemerlap bintang munculkan aura optimis. Hanya perasaan Ruben saja yang sedang pesimis.

Langit malam kembali meninggi. Bintang-bintang mulai hilang. Tinggal bulan yang tetap setia menghiasi langit di negerinya para tabib. Ruben melangkah ke dalam rumah. Ibu sudah terbaring pulas. Hasrat Ruben untuk membaringkan badan pudar. Cahaya lampu pelita yang menerangi seisi rumah mulai surut sinarnya. Ia turut merasakan kelamnya perasaan yang sedang menimpa Ruben. 

“Sudah larut malam! Ayah di mana? Kenapa belum pulang?” keluhnya.

“Kenapa ayah harus pergi seorang diri? Toh, sebongkah harapan bisa kita cari bersama-sama!” lanjutnya.

Udara malam mulai terasa dingin, menusuk hingga ke sum-sum tulang belakang. Mata Ruben mulai lamat-lamat. Tatapannya kabur. Sel otak memaksakan ia untuk segera membaringkan badan. Sejuta pertanyaan tentang ayah yang belum kembali terus mengendap dalam kepala Ruben. Tersekap tanpa jawaban yang pasti.

****

Semburat merah muncul di kaki langit timur. Mentari kembali berseri. Pagi datang kembali. Orang-orang mulai menenun asa demi kehidupan yang lebih bersinar.

Ruben masih tertidur pulas. Teka-teki yang masih berjuntai di kepala bisa jadi menjadi salah satu perkara batin yang terus terjerat dalam pikiran Ruben.  

“Ben, sudah pagi. Ayo bangun!” perintah Ibu.

Ruben memutarbalikkan badan ke kiri dan kanan. Sepertinya rasa lelah masih merundung tubuh pemuda berbadan gempal tersebut.

“Iya, Bu,” jawabnya singkat.

Teka-teki kepulangan Ayah masih tersekap dalam pikiran. Belum ada indikasi jawaban yang pasti, padahal mentari sudah merangkak jauh dalam menjalankan tugasnya.

Dalam diam, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil dari depan rumah. Konsentrasi Ruben langsung fokus ke arah sumber suara. Ia pun melangkah dan membukakan pintu.

“Ben, Pak Lasa!”, tutur Pak Umar.

Ruben mengernyit bingung. “Kenapa dengan Ayah?" tanya Ruben.

“Pak Lasa ditemukan dalam kondisi tak bernyawa," lanjut Pak Umar.

Ruben tidak bisa berkata-kata lagi. Isak tangis Ruben pecah. Mendengar itu, Ibu keluar dan menghampiri mereka yang sedang berdiri di depan pintu rumah.

“Ben, kenapa kamu menangis?” tukas Ibu.

Pertanyaan itu dijawab dengan tangisan yang semakin meninggi dari Ruben. Pak Umar mendekat dan memberikan penjelasan tentang nasib naas yang menimpa Pak Lasa.

“Pak Lasa telah pergi, Bu!" tutur Pak Umar.

Ibu tak sempat menjawab pembicaraan Pak Umar. Ia hanya mampu terisak-isak. Ia linglung. Ia tak mampu berjuang usai Pak Lasa pergi.  

Ombak yang ganas ternyata penyebab perahu Pak Lasa terbawa arus. Nyalinya pun ciut. Ia tidak berhasil menaklukan ombak dengan sempurna. Nasib naas justru memukul mundur semangat Pak Lasa. Takdir menjemputnya. Ia terlempar dari dalam perahu kesayangannya. Pak Lasa ditemukan tak bernyawa oleh nelayan di dermaga tua yang terletak di desa tetangga.

Ibu dan Ruben teriak histeris. Mereka larut dalam dukacita yang mendalam. Tetangga rumah pun panik. Mereka datang untuk mengklarifikasi keadaan yang sedang terjadi. Interupsi tetangga tak berhasil membantah perasaan yang sedang mereka alami.

Ruben tertunduk lesu. Ia merasa bersalah dengan kepergian Ayah. Ibu juga demikian. Seandainya Ayah tidak melaut untuk menuntaskan teka-teki kemiskinan keluarga, mungkin naas luput dari Ayah. Entahlah! Takdir berkata lain. Ia lebih memilih untuk menginterupsi kemauan Ruben. Ia datang untuk mendustai kemauan Ruben.

Ruben jadi memahami lebih dalam makna dari larik-larik yang tertulis pada dinding rumahnya. Larik-larik pemberontak. Cambuk bagi dirinya agar berjuang dengan prinsip yang teguh dan lugas dalam tugas.

“Ayah, kau memang istimewa” gerutu Ruben di dalam hati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya seorang pendidik di Barat Sumatera. Selain menjadi guru, saya juga seorang blogger yang suka berkelana ke tempat yang baru. Saya menyukai kopi, puisi, cerpen dan pengagum tenunan hebat mama-mama di bumi Flobamora. Sebagai anak yang berbakti kepada kampung halaman, saya akan terus menceritakan kampung halaman melalui pena yang tidak akan mati.

CLOSE