Sejak memutuskan untuk berhenti menunggumu, sejak itulah aku selalu membunuh setiap rindu yang tumbuh. Aku tak sanggup lagi menahannya sendiri. Kita berada diantara dua pulau yang berbeda. Dan ternyata itu tak mudah untuk dijalani. Kupikir aku orang yang paling bisa mempercayai, ternyata aku sendiri yang berani mengingkari. Janji yang kutulis untuk menunggumu, nyatanya tak mampu aku tumpu. Bukan karena orang lain, tapi ini murni ketidaksanggupanku menunggumu yang (tidak) pantas untuk ditunggu.

Dari awal memang kamu tak pernah memintaku untuk menunggu, namun karena aku tak terbiasa tanpamu, akhirnya aku yang memutuskan untuk menunggu, walau akhirnya aku sendiri yang mengingkari. Aku bisa hidup tanpamu, karena sebelum bertemu denganmu pun hidupku juga bahagia.

Advertisement


Mencintaimu memang membahagiakan, tapi aku yakin kebahagiaan tak hanya bisa ku dapat dari mencintaimu saja


Kini kita semakin jauh, bukan hanya jarak tapi juga hati. Tapi bukankah ini memang yang aku inginkan? Jauh darimu juga hatimu. Aku pikir ini akan menjadi hal yang susah untuk dilakukan, namun nyatanya ini adalah perkara mudah. Iyaa… mudah karena pada kenyataannya memang kamu tak pernah sedikitpun menaruh aku di bagian hatimu. Pantas saja saat aku berhenti menghubungimu pun kamu juga tak pernah lagi bertanya kabar kepadaku.

Bukannya ingin dikejar, karena sesungguhnya aku tak pernah berlari. Bukan pula ingin terus kamu genggam, karena sesungguhnya aku tak pernah melepaskan. Aku hanya pergi dengan penuh rasa tahu diri. Karena jika aku tetap bertahan, bukan hanya aku saja yang tersiksa, kamu juga.

Advertisement

Ketahuilah, meski aku berhenti menghubungimu juga menunggumu, rasa rindu yang dulu pernah kita usahakan untuk diselesaikan, sampai kini pun tak bisa aku hentikan. Mainlah ke kota ku, karena di setiap sudutnya kutitipkan berjuta rindu untukmu. Kita memang tak pernah saling sapa, tapi rasa rindu tak bisa dihentikan begitu saja.

Aku berhasil membuatmua hilang dari notification chat dihandphone ku, tapi tidak untuk pikiranku. Buktinya aku masih saja menulis tentangmu. Aku tak bisa berjanji bahwa ini adalah tulisan terakhirku tentang kamu. Namun dapat kupastikan bahwa hati ini hanya sedang rindu dan tak menginginkan untuk bertemu.

Kita hanya sepasang manusia yang pernah saling merasa bahagia saat bersama. Namun kini kita bukanlah siapa-siapa. Mainlah ke kota ku, agar kamu tahu bahwa aku pernah memendam rindu untukmu. Kita memang tak perlu lagi saling bertemu, karena itu hanya akan membuat hati ini pilu.

Banyak yang bilang semua akan indah pada waktunya, tapi itu tak berarti apapun buat kita. Bahkan karena waktu aku memutuskan untuk berhenti menunggumu, yaa karena waktu yang kurasa terlalu lama. Meski mungkin hanya menurutku, tidak menurutmu.

Memang tak semestinya aku menulis lagi tentang rindu, terlebih rindu untukmu, ini hanya akan membuang-buang waktuku. Mungkin kamu tak pernah salah, hanya aku yang terlalu berlebihan dalam menanggapi hati yang mudah berubah-ubah. Kamu hebat, iya hebat, entah kamu jadi milikku atau tidak aku mengakui bahwa kamu hebat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya