[Cerpen] Kanvas Kosong

Kanvas kosong

 

Advertisement

            Malam ini, di ruang hampa kedamaian, berdinding penyesalan, beralaskan kepedihan, dan dihiasi berjuta manik-manik kerinduan, seorang insan manusia sedang berdiam diri. Duduk termangu dengan tatapan kosong, mungkin sedang menyelami alam bawah sadarnya. Bertindak seolah-olah merasa damai dalam diam, memilih tak berkata-kata dalam komunikasi agar sempat terpahami. Bukan maksud hati berkamuflase, tetapi mungkin dia puas dengan cara ini.

 

 

Advertisement

Saat alam sedang menangis, rasa damai seolah menghampri Rey dengan sempurna. Suhu udara yang dingin cukup menusuk tulang, mengajak Rey untuk sejenak berbaring. Sekedar memejamkan mata dan merilekskan pikiran, walau mungkin kepenatan akan tetap mengerogoti hati. Suasana seperti ini sangat berarti bagi Rey. Bagaimana tidak, pada saat seperti ini kehampaannya terkadang sempat terisi, walau tak seperti seharusnya. Nyaris keadaan seperti ini acapkali terulang, terulang, dan terulang lagi. Roda kehidupan seperti tak pernah mau tak melalui kisah nelangsa ini. Seperti indah mengecap kepekatan yang selalu melekat.

 

Advertisement

 

Bibir Rey tak pernah malu untuk selalu tersenyum, sekedar berusaha menyembunyikan seribu satu kebohongan bermakna di dalam dirinya. Berharap tak akan pernah ada yang tahu tentang keadaan hidupnya yang sebenarnya, walaupun tak teringkari bahwa Tuhan akan tetap tahu. Berusaha menghidupkan suasana yang mati merupakan langkah lain untuk menyembunyikan kepahitannya. Semua tindak sederhana itu tentu akan berilokusi sungguh luar biasa dan istimewa. Tak ada motif lain yang mendasarinya untuk melakukan itu. Bila dunia menilai bahwa ia sedang baik-baik saja, mungkin itu hanya sekedar sebuah eksistensial dari praanggapannya.

 

 

Waktu terus saja berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga setahun berlalu begitu cepat. Tetapi, Rey masih berada pada pusarannya, seolah-olah berjalan di tempat. Bila musim terus berganti, Rey masih setia pada suasana kehidupannya. Setia? Mungkin bukan…Lebih tepatnya ia terperangkap keadaan. Ia tak peka lagi pada evolusi dunia sekitarnya. “Persetan!”, katanya.

 

 

Menikmati hari-hari dengan apa adanya. Hanya mimpi yang semakin hari semakin  menggunung. Sampai-sampai terkadang senyum kecut terlihat dari bibirnya; sendiri merasa geli oleh  segala yang terlitas dalam angan. Ada saatnya Rey bermimpi menjadi seorang duta. Ambisi sejak dahulu, entah kapan terwujud. Bermimpi untuk mampu menjadi orang terhebat sehingga dikagumi banyak orang, disegani banyak kaum, dan lebih penting tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain sebagaimana yang pernah ia alami. Sebenarnya, motif dasar dari angan-angan berambisius ini lebih kepada tindakan balas dendam.Tak mau menikam secara langsung, cukup menyobek secara perlahan. Sebagai insan manusia, tak salah bila di waktu yang berbeda, ia pun berangan-angan memiliki kekasih hati. Berharap dicintai seutuhnya, dan mencintai dengan apa adanya. Ohhh, lebih utama kekasih yang mau dan mampu bertahan dalam ketiadaan diri. Konsep cita-cita akan cinta untuk masa depan.

 

 

Tak cukup canggung bagi Rey menetapkan butir-butir pasal pelik bagi kehidupannya, bagaimana tidak bila saja pengalaman di masa itu telah menorehkan penyesalan dan kepedihan yang tak cukup mudah untuk dikecapnya. Inilah resolusi kehidupan Rey di tahun ini. Berharap bukan hanya sebuah impian yang dirajut di siang terik.

 

 

            Suatu konsep diri untuk menerima keadaan sebagaimana yang dikehendaki akan lebih baik baginya, bila saja dibandingkan takkala ia harus memaksa keadaan kepada Yang Esa. Memikul beban kepedihan yang terus melekat dalam diri, melangkah bersama bayang-bayang penyesalan akan terus menghantui, tambahan lagi amarah yang masih tergenggam tak mau lepas. Semua itu baru sebagian dari keseluruhan keadaan Rey. Lebih menyayat hati, ketika Rey disadarkan akan perasaan sesungguhnya yang ia miliki; perasaan yang mungkin dapat mengalahkan segalanya; termasuk kecerdasan emosionalnya; perasaan yang memperlihatkan kebodohan Rey; perasaan yang membuat ia terjatuh pada kesalahan yang sama. Itulah beban perziarahan Rey saat ini.

 

 

            Suatu sore sehabis hujan, keadaan seolah ingin bercerita tentang kepahitan hidup. Dunia sehabis menangis dan membasahi seisinya seolah-olah dapat dianalogikan dengan serpihan hati yang tengah menangis dan membasahi seisi jiwa. “Sungguh sakit”, bisik Rey. Berkali-kali ia memukul kepalanya dengan kepalan tangan, berharap pikiran takkan menuruti perintah perasaan. Berkali-kali pula ia menampar pipinya sekedar untuk membangunkan diri dari lamunan, berkali-kali pula mengucapkan “Jangan…jangan…jangan lagi” sembari menggeleng kepala. Ada sesuatu yang tak ingin ia kenang. Namun, sesuatu itu ingin diceritakan dunia sehabis hujan. Seketika itu juga air mata mewakili keinginannya dan menceritakan keadaannya secara tersirat. Dalam tangis, Rey mengepalkan tangan kemudian memukul bayangan yang terbersit dalam benaknya. Dalam diam ia berteriak sesuka hatinya; berteriak sekecang-kencangnya, hingga dinding hati tak mampu lagi menahan kerasnya pekikan suara. Dengan perlahan ia menutup wajah yang dipenuhi air mata; menggeleng-gelengkan kepala; dalam hati ia bertanya “mengapa…mengapa…mengapaaa??”. Sayang, siapa yang tahu ia sedang bertanya; siapa yang peduli untuk menjawab tanyanya; toh bagi dunia bukanlah apa-apa.Staakkk…semua pasif.

 

 

            Dunia yang diibaratkan tak selebar daun kelor dengan jumlah makhluk penghuni yang semakin meningkat takkan pernah mampu membunuh nelangsa yang telah sekian lama bersarang dalam kehidupan Rey. Sepi dalam keramaian kota yang acapkali ia rasakan. “Sungguh sial; selalu saja seperti ini”, umpatan Rey bagi dirinya. Takkan pernah ada yang mampu membaca keadaan yang tengah menghimpit kehidupan Rey, sebanyak apapun malaikat dunia yang mendampinginya dalam keseharian, akan dianggap buta olehnya sebab mereka tak pernah bisa melihat Rey sesungguhnya. Melihat senyum Rey yang selalu hadir, gelak tawa Rey yang tak pernah tertinggal untuk selalu dinikmati, canda dan senda guraunya yang seringkali  melilit perut rekannya oleh lelucon yang tercipta dari bibirnya. Semua itu kurang lebih hanya untuk menggelapkan pikiran para malaikat dunia untuk dapat melihat keadaan Rey yang sebenarnya. Semua yang terlihat secara kasat mata; itulah yang menstimulus yang memandang untuk menilainya. Jadi, tak ada yang salah.

 

 

Yahhh, lagi-lagi soal salah dan benar. Terasa berat bagi Rey untuk memberi penilaian. Entahlah,,,hal apa yang sesungguhnya dapat dibenarkannya di dunia ini, entahhh apa pula yang dapat dinilainya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran itu. Rasanya kedua hal itu tak perlu ada. Rey akan tetap berada pada lingkaran kesalahan untuk hal-hal yang telah terjadi di masa itu. Mungkin itu yang menutup mata batinnya untuk menilai tentang benar dan salah.

 

 

            Senja yang redup saat hujan bulan Maret mengantar ingatan Rey beberapa waktu silam. Waktu yang sesungguhnya pernah ia sia-siakan dengan percuma. Perjalanan yang pernah ia tapaki dahulu rasanya lebih indah jika ia bandingkan dengan saat ini. Dulu, penyesalan mungkin sering menghampiri; namun itu hanya sebentar lalu sirnah. Tapi saat ini, penyesalan itu selalu menyelimuti jiwa dan takkan pernah mau pergi. Seberapa besar rasa penyesalan itu, mungkin seyogyanya hanya Tuhan yang dapat mengukur. Sejenak, Rey teringat perjalanan panjangnya selama 4 tahun terakhir sebelum Oktober silam.  Perjalanan yang memperkenalkan Rey pada suatu hal yang memiliki dua sisi yang takkan terpisahkan. Hal itu mungkin…… Entahlah, tak sanggup mengungkapkannya; seolah-olah tak ada pilihan kata yang tepat untuk dapat mengatakannya. Roda kehidupan yang berputar tiada henti, tiada  pernah mau peduli segala jalan yang pernah ia lintasi hingga keberadaan Rey seolah terkendalikan. Niat Rey untuk sedikit berajak dari ketidakpastian  itu seolah hanyalah secuil harapan.

 

 

            Ketika malam ini bak sinergi tunggal yang kuasa. Malam yang menarik segala daya dan efisiensi semu yang mengampu tugas-tugas penting tentang manic-manik peluh yang turun dari setiap embun yang menetes saat pertama kali sang fajar mengintip dunia. Seruak tarik menarik antara siluet senja dan elegi pagi yang tak kunjung usai. Seperti itu warna kehidupan yang selalu menghiasi hari-hari Rey. Segalanya bercerita tentang peluh yang tiada berakhir, tentang seonggok penyesalan yang menikam luka yang masih lebam, dan semesta kerinduan yang terlihat bagai kayu dan api yang dalam sekejap menjadi abu. Sungguh sayang,,,!

 

 

Paras itu tak mau hilang, hati masih bergejolak saat mencoba mengenali bayangan itu. Bibir mencoba melafalkan nama itu; tanpa disadari air mata Rey menetes. Paras itu sungguh memesona; dia indah dan sederhana; dia luar biasa; tapi dia tak terjamahkan; namun dia bukan bayangan semu.

 

 

Malam selalu mengantar Rey untuk bersamanya dalam kenangan masa silam; saat tak ada yang menghalangi kebersamaan kecuali kegensian. Hujan Jogja malam itu, menghangatkan ingatan Rey tentang perjalanan kehidupan mereka; Rey dan Dia.

 

 

 Dia seorang yang dikenal Rey enam tahun silam. Tepatnya semasa Rey memasuki masa sebagai siswa SMA. Pertama kali mengenalnya menghadirkan pesona tunggal bagi Rey; segala aura positif yang terpancar dari parasnya menyelimuti ketulusan dan kesetiaannya; sekaligus sikap acuhnya memperlihatkamn kegensian yang membawanya pada petaka abadi. Dia ditakdirkan Tuhan untuk memiliki kebersamaan dengan Rey. Kebersamaan dalam persahabatan yang kekal. Seperti itulah Rey mengartikan kehidupan mereka kini; kehidupan yang memiliki beribu makna; entah indah entah tidak. Dia; seseorang yang selalu dicari oleh sepasang mata Rey, walau harus ditatap dari balik celah berdiameter 1; seseorang yang dalam setiap hitungan detik selalu dirindukan Rey tanpa alasan; seseorang yang namanya selalu dilafalkan Rey dalam doa; seseorang yang mengisi setiap sudut hati Rey; seseorang yang selalu menciptakan air mata bagi Rey; Dia malaikat di hati Rey. Dia malaikat pencabut segala rasa di hati; dia malaikat yang selalu menciptakan nelangsa di setiap saat bagi Rey. Seperti itulah dia….! Dia adalah malaikat Tuhan yang sedang menolong Rey untuk dapat mengenal sejatinya kasih dan sayang; tentang abadinya cinta sejati.

 

 

Dia…Dia…Dia…Nama yang selalu melekat dalam ingatan ketika akal mengajak berkelana di masa silam. Dia masih terngiang di telinga takkala Rey harus meneriakan namanya dalam suatu adegan mimpi. Itu terasa indah. Tapi, mengapa Rey selalu menangis membayangkan segala keindahan itu? Ingin merakit perahu yang bisa membawanya mengarungi masa silam lagi,agar semua terasa seolah nyata dan benar-benar indah. Namun, membayangkan semua itu adalah suatu tikaman tombak dengan perih yang tiada tertahankan. Mengecap kepahitan dari air mata penyesalan. Sungguh tragis perasaan itu.

 

 

            Enam tahun silam rasanya belum lama berlalu. Masih seperti sehari yang lalu. Rey ingat saat bersama Dia melewati sore hari yang dingin. Suara hujan dan petir yang mengamuk di sore itu, bukanlah suatu alasan bagi keduanya untuk meminimaliskan waktu pertemuan. Dalam hati Rey ada rasa syukur, sebab hujan menahannya untuk lebih lama bersama Dia. “Kebersamaan seperti itu biasa saja”, tanggapan seorang teman saat Rey mencoba membanggakan kebersamaan itu.

 

 

“Tidak untukku”, bantah Rey. “Seharusnya kau mengerti bahwa kebahagiaanku ada padanya”, lanjut Rey dengan sedikit kesal.

 

 

Jogja sedang tak bersahabat dengan Rey. Rindu itu menggerogoti hati. Perasaan itu terasa lagi. Rasa sayang itu belum pergi. Tertinggal. Mungkin karena segala keadaan hati yang telah terekam dunia belum diperdengarkan padanya. Atau inikah yang dinamakan “surat yang tak sampai”_saat perasaan ini tak seutuhnya diketahui.

 

 

Rey sungguh merindu dan menyesali keadaan yang kini ia alami. Andaikan Dia masih mungkin untuk dimiliki, Rey tak akan peduli kehadiran yang lain. Tetapi, Dia tak akan lagi mungin dimiliki Rey. Dia telah seutuhnya menjadi milik orang lain, entah siapa. Rey tak mau tahu. Yang pasti Rey takkan bisa lagi mewujudkan mimpi-mimpinya.

 

 

Menggapai cinta Dia hanya sebatas mimpi bagi Rey. Dia hanya sejauh ego Rey yang tak bernilai. Takkan ada lagi Dia yang lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE