Orang tua, ayah dan ibu adalah sosok berharga bagi kehidupan anak-anaknya. Ibu yang melahirkan dan ayah yang menjadi pria yang bertanggung jawab dalam hal menafkahi kehidupan akan anak-anaknya bahkan ayah adalah sosok yang di rasa mammpu memberikan rasa aman terutama bagi anak perempuannya.

Namun, bagaimana dengan sosok ayah yang dideskripsikan diatas sama sekali berbeda 180 derajat dalam hidup anak perempuannya seperti saya pribadi dalam dunia yang nyata ini ?

Advertisement

Saya… yang adalah anak perempuan dari seoang ayah yang dilahirkan dan di takdirkan tak bisa mendekap ibunya karena takdir dari Sang Pemilik Alam Semesta ini berkata bahwa saya harus berpisah.

Sosok yang sama sekali dua puluh lima(25) tahun ini tak pernah saya lihat akan wajah cantiknya itu. Bahkan lembar kenangan berupa sebuah foto pun tidak ada dan saya harus tinggal sejak bayi (baru lahir) hingga sekarang ini dengan sanak saudara saya (Bibi).

Ayah… ketika orang lain menyebut akan sosok tersebut saya tidak pernah merasa tertarik dengannya. Maafkan saya yah, Ayah, waktu telah menjawab segalanya bahwa dua puluh lima tahun ini saya tidak pernah di nafkahi dan tidak pernah mendapat kasih sayangmu.

Advertisement

Hidupmu seakan hanya kau berikan kepada mereka yang digariskan memanggilmu juga dengan sosok “ayah” namun dari ibu yang berbeda dengan saya.

Ayah… direlung hati yang terdalam ini, saya selalu memimpikan bisa menjadi bagian yang membahagiakan dan terpenting dalam hidupmu ayah. Saya ingin menjadi anak perempuan yang bisa memasak untuk kau cicipi makanan buatan tangan saya.

Saya ingin menjadi anak perempuan yang bisa bercengkrama dan berbagi keluh kesah serta bahagia denganmu secara langsung. Saya ingin menjadi anak perempuan yang selalu bisa berada satu rumah denganmu seperti satu keluarga pada seharusnya.

Saya yang selalu merasa iri dengan anak-anak ayah yang lain yang bisa merasakan nafkah materi dan bahkan kehidupan yang layak dengan tingkat pendidikan bagus pada kampus terbaik di luar kota sana. 

Apa yang saya dapatkan darimu ayah? Saya hanya anak yang bahkan mungkin tidak pernah kau inginkan? Bertukar kabar via elektronik (telepon) dan sms bahkan sama sekali sangat jarang dilakukan.

Dua puluh lima tahun terkadang saya merasa menyerah pada suatu keadaan ketika masalah datang. Saya terkadang merasa sendiri.

Saya yang memang mencari uang sendiri, membeli kebutuhan sendiri dengan jerih payah sendiri. Sedangkan mereka anak-anak ayah yang lain bisa menikmati harta ayah dengan jalan yang sangat gampang, karena kalian tinggal dalam satu atap.

Dan dengan segala yang sudah saya jalani, Allah mentakdirkan saya menjadi sosok yang harus tegar meski melawan kerinduan dengan sangat susah terhadap ayah dan bahkan kepada almarhumah ibu. Meski kerinduan yang mendalam membuat saya terkadang kacau, tapi di relung hati terdalam dan setiap sujud sholat selalu mendo’akanmu Ayah. 

Aku selalu berharap Allah memberimu hidayah agar di umurmu yang sudah tua sekarang ini bisa menghangatkan kehidupan saya yang membutuhkan sosokmu sebagai seorang ayah bagi saya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya