Sahabat merupakan salah satu orang yang berarti dalam hidupmu. Perannya selama ini membuatmu selalu mengagung-agungkan namanya setelah keluargamu. Namun, ia telah berubah tak seperti yang kamu kenal dulu.


Sahabat, apa yang mempengaruhimu sehingga aku tak lagi mengenalmu?


Memang, jarak yang berjauhan memisahkan kita, memisahkan alur cerita persahabatan kita. Tapi rasanya hal itu tak masalah dalam kamus persahabatan yang kutahu. Bukankah sahabat itu selalu di hati meskipun jarak memisahkan?

Sahabat seharusnya menjadi tempat kita bertukar cerita dan saling memberikan masukkan di kala kita membutuhkan. Terkadang sosoknya membuat kita kuat, kadang juga membuat kita bodoh atas apa yang telah kita perbuat. Dan yang kutahu, semua saranmu itu sangatlah berguna, karena kamu sahabatku.


Karena seorang sahabat tidak pernah menjerumuskan sahabatnya sendiri.


Advertisement

Sekalipun terjatuh, sahabat selalu menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan untukmu. Bertanya apakah keadaanmu baik-baik saja dan kadang pula dia mendiamkanmu karena dia tahu bahwa kamu memerlukan waktu untuk seorang diri.

Namun, lagi-lagi itu hanyalah masalalu. Kini, selain jarak jauh yang memisahkan kita, kamu juga sudah berkenalan dengan teman barumu yang selalu kamu update di sosial media mengenai kegiatanmu saat berbelanja ataupun makan di sebuah restoran mewah.

Tentu, aku bukanlah apa-apa jika kamu ajak aku ke tempat yang kamu datangi itu. Jujur, bukannya aku tak mau tapi aku tidak sanggup.


Memang sederhana makanan yang kita makan dulu, tapi sangat mewah rasanya jika aku denganmu.


Sahabat, apalah arti semua rasa bahagia itu jika hanya sesaat? Bahagia yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa mensyukuri keadaan yang ada, termasuk keadaanku saat ini yang masih mau menjadi sahabatmu meskipun sudah kamu lupakan.

Waktu terus berputar, kamu dan aku masih terpisah oleh jarak. Semakin hari semakin aku sadar bahwa aku telah kehilangan sosok sahabat yang ku kenal dulu. Aku tanya kabarmu, kamu jawab seadanya, padahal biasanya balasan darimu itu sangat panjang, sampai aku bingung harus membalas kata-kata di pesanmu yang mana. Aku meminta kita untuk bertemu, mengobrol dan melakukan hal gila seperti dulu, kamu jawab sibuk.


Sesibuk-sibuknya seorang sahabat, pasti ia selalu berusaha untuk meluangkan waktunya. Karena ia tahu, kamu itu penting baginya.


Dan aku pun tersadar, bahwa selama ini yang aku punya hanya seorang teman, bukanlah sahabat. Kamu dan aku dulu bersahabat karena kamu tahu keadaanku. Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu bisa melakukan hal gila di suatu tempat yang kamu mau. Sudahlah, kini mari kita manatap kenyataan yang ada.


Hidup itu tidak hanya melakukan hal-hal yang bahagia, tapi hidup itu tentang bagaimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan itu.


Ingatlah, untuk para pembaca yang mempunyai sahabat. Sahabat yang kamu miliki sangatlah berharga, jagalah ia, jagalah tali persahabatan kalian. Janganlah kalian memandangnya rendah karena ia sudah tak memiliki apa-apa, tapi dukunglah ia ketika ia sedang berusaha untuk mendapatkan apa-apa.