Kehilangan Teman Ternyata Memang Semenyakitkan Ini. Semoga Kelak Kita Dipertemukan Kembali

kehilangan teman menyakitkan

Sekarang aku baru betul-betul menyadari kenapa manusia begitu ingin mengulang hidupnya kembali. Aku pun sama, kalau pun bisa, ingin mengulang waktuku bersamamu.

Advertisement

Bagaimana bisa kehilangan kali ini terasa menyakitkan buatku, padahal sebelumnya aku sudah mengalami kehilangan yang menurutku sudah begitu hebat.

Aku tahu kamu bukan menghilang. Kamu hanya sedang menunggu di suatu tempat yang indah, yang nanti pun aku akan pergi ke sana. Aku juga tahu kamu pasti di sana sedang tersenyum karena menyadari bahwa banyak sekali yang menyayangimu selama ini.

Malam ini aku mengingat kembali semua yang pernah kita lalui bersama. Walaupun sebentar, tapi kita pernah sama-sama saling menguatkan dan mendoakan. Aku pernah jatuh, kamu pun begitu.

Advertisement

Kamu ingat tidak pernah bilang begini padaku, "Aku bangga sama kamu. Kamu itu lebih kuat daripada aku.. " Saat itu juga aku menangis karena aku tahu cobaan hancurnya hati yang aku rasakan kemarin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyakit yang sudah 3 tahun kamu derita.

Bisa-bisanya kamu mengatakan itu di saat sedang begini! :(

Kamu juga yang bilang, bagaimana jadinya kedua orang tuamu bila kamu tidak kuat, pastinya itu akan membuat mereka kecewa.

Aku tahu kamu lelah, depresi, bahkan rasanya ingin menyerah saja waktu itu. Tapi Tuhan ingin melihat perjuanganmu melawan penyakit itu sekaligus merahmati kamu untuk menggugurkan dosa-dosamu.

Yang aku salut adalah di saat seperti itu pun kamu masih peduli dengan sesama. Aku masih ingat, kamu pernah diam-diam menyumbangkan sedikit materi untuk acara sosial membantu anak-anak penderita kanker.

Kamu hebat!

Sampai akhirnya hari itu Tuhan bilang kamu harus pulang. Hari yang sampai sekarang membuatku masih tidak percaya bahwa kamu sudah tidak lagi ada di dunia ini. Dan aku masih berharap itu hanya berita bohong. Batu nisan dan tanah yang masih basah itu pun menjadi saksi betapa bingungnya aku yang tidak lagi bisa melihatmu.


Lalu sekarang siapa lagi yang akan menyemangatiku? Kamu curang ya, aku sekarang jadi berjuang sendirian.


Sampai ketemu lagi nanti ya. Kamu sekarang sudah tidak akan kesakitan lagi. Kamu orang baik. Aku yakin kamu pasti sudah bahagia di sana bersama Tuhan.

Dari kamu, aku belajar banyak tentang arti keikhlasan menerima semua ketentuan-Nya. Walaupun aku tahu, kamu pernah mengutarakan ingin menikah, sama seperti yang perempuan-perempuan lain yang memimpikannya sedari kecil.

Itu hal lumrah, kamu tidak usah merasa tidak pantas berharap. Dan kamu malah mendapatkan anugerah untuk bertemu jodohmu di akhirat.

Dear temanku…

Memang berat rasanya untuk bisa menulis ini, dadaku saja masih sesak mengingat kembali semuanya meskipun ini sudah setahun berlalu. Namun aku tahu, bukan ini yang kamu harapkan bukan?

Aku janji akan membuat kamu bangga di sana.

Aku janji akan bahagia di sini.

Dan aku janji akan selalu mendoakanmu dis etiap sujudku.

Satu hal yang aku yakini adalah sesungguhnya hidup ini hanyalah persinggahan, satu persatu dari kita akan pulang karena tugasnya di dunia sudah selesai. Temanku dipulangkan lebih dahulu karena Tuhan lebih sayang kepadanya.


Maafkan aku ya, belum bisa jadi teman yang baik selama ini. Aku berjuta kali lebih bangga padamu. Aku bersyukur bisa mengenalmu di dunia ini. Di kehidupan berikutnya nanti, janji ya jadi temanku lagi.


Rest in Love, my dearest friend.

Dini Puspasari

15 Juni 1990 – 27 Februari 2017

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Dari keluarga baik-baik. Dan udah pernah diputusin dengan alasan "kamu terlalu baik"

Editor

une femme libre

CLOSE