Untukmu yang Merasa Dunia Menjadi Lebih Baik Sejak Sore Itu, Aku Masih Berusaha Melangkah

Kita dipisah rentang, begitu adanya.

Tepat sore itu, sebuah kata menyakitkan kembali terngiang di telingaku. Samar terdengar langkahmu mulai menjauh yang seharusnya temani dan dampingi kehidupanku. Semakin jauh langkah kakimu semakin sesak dadaku, aku yang kala itu tetap berdiri tertegun menyaksikan kepergianmu tak percaya dapat merelakan tanpa sempat memohon untuk jangan pergi.

Tak terbendung air mata yang kian jatuh membasahi pipi sebagai saksi ucapan perpisahan dariku. Kau yang terus melangkah dengan pasti tanpa sedikitpun menoleh kearahku dan seolah lupa telah meninggalkan luka yang teramat dalam setelah kepergianmu.

Advertisement

Hari-hari yang dulunya berwarna kini berubah menjadi kelabu, semua menjadi gelap gulita. Tapi entah kenapa hati enggan dikatakan kehilangan hanya saja logika yang terus mencari-cari alasan kepergianmu. Tak banyak kata yang kau ucap dihari itu, sepertinya ucapan perpisahanpun tidak ada. Yang paling membekas diingatan saat kau berucap lirih “setelah sore ini jangan temui aku lagi” dan katamu setelah sore ini dunia sedikit menjadi lebih baik.

Apa iya? Bukannya menyanggah perkataanmu aku malah menjadi bisu, karena awalnya aku sempat berpikir semua ini bagian dari candaan yang sering kali kau lontarkan mengusikku. Namun seketika ucapan itu seolah-olah membenarkan saat kau lepas genggaman tanganku dan beranjak pergi dari sisiku. Sekarang aku mengerti mungkin bagimu semua sudah terlampau salah, hubungan yang sudah tidak sejalan dan rasa nyaman yang sudah tidak bisa dipertaruhkan lagi, namun mengapa harus secepat ini kau pergi?

Kau yang seringkali maunya dikejar, yang kerap kali membuat logika error. Tak bisakah menetap barang sebentar? Setidaknya sampai aku terbiasa tanpamu! Tidak bisakah kau kembali menemuiku pada sore-sore indah saat kita masih menghabiskan waktu bersama kala perbedaan tak kau perdulikan dan tak mengguncang hubungan ini. Saat bosan menghampiri haruskah kau beranjak? Saat jenuh datang tak mampukah bertahan?

Advertisement

Aku tau hati tak bisa berdusta, tapi apa iya meski semua terasa indah kau tetap saja harus pergi? Dulu katamu kau tak mau disebut senja tapi kau ingin disebut matahari karena lebih lama menemani bumi. Lantas sekarang mengapa kau berlagak seperti senja? Yang kehadirannya selau aku nantikan dan kepergiannya begitu terasa dekat denganku.

Ternyata selama ini sesuatu yang aku sebut nyata tak lebih hanya sekedar ilusi, ternyata perihal perbedaan saja tak mampu membuatmu untuk tetap menetap. Aku pikir seiring bertahan denganmu dapat menyatukan perbedaan yang ada ternyata malah mempercepat kepergianmu. Tak ada yang aku sesali meski di sore itu harus melepasmu.

Ternyata tak mampu kau pahami aku dan hubungan ini hingga akhirnya kau pun pergi. Satu saja yang aku minta, bila nanti kita bertemu lagi maukah kau berbagi cerita bagaimana duniamu menjadi sedikit lebih baik sejak sore itu? Karena sepertinya duniaku begitu buruk setelah kau tinggal pergi.

Dan satu hal yang harusnya kau tahu, aku pernah menyukaimu sebegitu dalam meski kau tak pernah menganggapnya serius. Sempat dalam hati ingin berpindah dan membuatmu enyah, tapi logika bilang kisah ini belum selesai. Apa yang aku lakukan? Jalan satu-satunya tetap menyukaimu dengan ketulusan, tapi perasaan tulus itupun masih saja salah kau artikan hingga melangkah pergi dan menyisakan sore-sore kelabu. Aku bisa apa selain merelakanmu?

Ini dariku, seseorang yang selalu tak kan pantas dihatimu. Seeseorang yang selalu ganjil menyamai genapmu yang selalu kau tarik ulur hatinya.

Berbahagialah !

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Berawal dari rasa merangkai kata berakhir cerita.

CLOSE