Kala itu, aku tengah dalam masalah dengannya, dan kau datang bak malaikat. Katamu, “Air mata tidaklah layak menetes hanya demi seseorang sepertinya, tidakkah senyumanmu lebih kau butuhkan saat ini?!” Aku mengangguk pelan demi menyauti ucapanmu. Deru bisikan di kepala perlahan surut saat kudapati kau masih setia duduk di dekatku. Walau tanpa kata, namun diammu telah banyak bercerita. Kau benar-benar peduli denganku, dan aku begitu bersyukur bisa mengenalmu.

Menit merajut waktu, dan waktu merajut hari; kita telah banyak habiskan waktu berdua. Kala itu kutahu kau tak begitu punya banyak waktu luang, namun kau katakan, “Waktu tidak akan pernah ada, kecuali jika kita menyempatkannya.” Dan lagi, kau selalu punya cara untuk membuatku tersenyum. Aku senang, senang sekali karena kau benar-benar telah menggoreskan warna yang berbeda di atas kanvas hidupku. Dan sejak saat itu, aku mulai sering memikirkanmu. Dalam renungku aku membenak, “Mungkinkah aku jatuh hati denganmu? Ah, entahlah…, tapi setidaknya, aku selalu merasa senang saat berada di dekatmu.”

Advertisement

Waktu bergegas begitu lekas, namun aku justru masih termangu di sini. Kenangan lalu ternyata tak dapat hilang begitu saja. Kendati sudah tak utuh, namun kepingan itu masih berserak di hadapan: tentang hari-hari yang telah kuhabiskan bersamanya, tentang canda tawa yang sesekali melintasi pikiran. Aku pun tak menyangka, dia yang telah pergi ternyata akan muncul kembali. Membawa segenggam kata maaf, dan ucapan penyesalan. Dia berujar, “Aku menemukan kebenaran selepas melakukan kesalahan, dan itu adalah kau.” Aku mengalihkan pandangan dan berusaha keras menimbang permintaan maafnya: separuh hati menolak, namun separuh hati lagi menerima. Belum sempat mulutku menjawab, dia mendekapku dengan begitu erat. Dan bisa kurasakan sesal mendalam dari setiap kata-katanya. “Ah, bagaimana bisa aku berpura-pura membencinya, jika hati kecilku masih kerap memanggil namanya,” aku membenak lirih.

Kalender mulai berganti tanggal, dan hari mulai menampakkan perbedaannya. Percakapanku denganmu mulai berkurang seiring kau tahu kabar kedekatanku dengannya. Tatapanmu yang biasa berbinar mulai redup, canda-tawa yang biasa melesat dari bibirmu menjelma kata-kata datar yang singkat, dan aku pun hanya mampu terdiam dalam situasi sedingin ini. Sebenarnya, aku ingin sampaikan banyak hal, namun rasanya begitu sulit, dan aku pun tahu kau takkan mau mendengarkannya. Aku mulai menerka-nerka, namun aku takut salah menyimpulkan, aku ingin menanyakan langsung, tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat. Sampai akhirnya, kau dan aku membiarkan dua cangkir teh panas di hadapan kita menjadi dingin begitu saja.

Hari semakin berganti dan aku semakin kehilangan kabar darimu. Entah mengapa, aku seperti merasa kehilangan pada seseorang yang bahkan tidak pernah aku miliki. Namun aku tahu, kenangan yang pernah kita cipta berdua adalah milik kita bersama. Entah perasaan apa yang tengah bergolak di dalam benakku, aku sendiri bahkan tak mengerti. Aku seolah telah bermain api, dan kini tengah merasakan bara menjalari tubuh. Aku merindukan kita yang dulu, namun situasi menjadi begitu runyam. Harapku kau tetap ada di sini, tapi aku pun tak ingin menambah luka di hatimu. Namun, jika membiarkanmu berlalu pun akan menciptakan luka baru. Serba salah, mungkinkah kau adalah orang yang tepat namun hadir pada waktu yang salah?

Advertisement

Andai kata kita bisa berjumpa, untuk kali terkahir, barangkali—sebelum kau benar-benar berlalu pergi, aku ingin sampaikan rasa sesalku kepadamu, yang telah membawamu ke dalam masalah hidupku—meski aku tak pernah bermaksud melakukannya. Dan aku masih berharap, kita masih dapat bertemu lagi, berbincang, lantas menatapmu yang tengah melepas tawa di hadapanku.

*terinspirasi dari curhatan seseorang*

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya