Apa kau tahu bagaimana keadaanku sekarang? Aku masih ingat semuanya.


Aku masih ingat kejadian itu. Semuanya masih terekam jelas di pikiranku. Tak ada yang terlewat sedetikpun. Kau datang padaku lalu memperkenalkan dia. Pada saat itu dengan bangganya, kau memperkenalkan dia padaku. Kau hanya mengatakan "dia teman baruku." Dengan bodohnya, aku percaya begitu saja.

Advertisement

Seiring waktu berjalan, aku tak ingin mencari tahu tentang kalian karena aku percaya padamu. Aku pikir hidupku akan berjalan seperti biasanya. Tapi ternyata tidak, tidak seperti apa yang sudah aku pikirkan. Apa kau ingat, kau selalu mengikutsertakan dia ke dalam kehidupan kita. Apa kau sadar waktu itu? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?

Kau selalu memperbolehkan dia masuk ke dalam kehidupan kita dalam segala hal. Aku tahu tapi aku hanya diam. Apa kau ingat, saat aku bertanya tentang hubungan kalian, apa jawabanmu? Kau memarahiku dan mengelak. Kini aku tahu, ada sesuatu yang kalian sembunyikan.

Hingga pada suatu saat, kau datang padaku lagi dengan wajah yang murung. Kau memberitahu segalanya tentang kau dan dia yang selama ini tak pernah aku ketahui. Dan kau telah menyayat hatiku saat kau mengatakan, kau memilih bersamanya. Apakah ini salahku? Bertahun-tahun kita bersama tapi kini kau memilihnya. Tubuhku seperti di hujam petir ribuan kali.

Advertisement


Kau membuatku terbang tinggi hingga langit ke tujuh, tapi dalam sepersekian detik kemudian, kau memotong sayapku dengan pisau beracun. Lalu di bumi, tubuhku di hujam oleh bebatuan cadas. Apa kau tahu, tubuhku sudah hancur seketika?


Dan kini, tak ada yang tersisa. Kau telah mengambil segalanya. Bahkan, bernafas saja terasa sakit.


Kau mengambil bintang di malamku. Kau mengambil matahari di siangku. Pada akhirnya, hanya tersisa awan di dalam kegelapan.


Aku seperti jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Tak ada yang mau menarikku keluar. Aku hanya di biarkan terluka tanpa ada yang mau melihatku. Bahkan keberadaanku tak berarti apa-apa. Aku seperti hidup di ruang hampa. Aku yang tampak tegar di luar tapi aku terlalu rapuh di dalam bahkan aku lebih rapuh daripada daun di musim gugur.

Pikiran dan hatiku sudah tak sejalan lagi. Itu semua karenamu, aku terlalu mempercayaimu hingga aku tak tahu segalanya. Itu kesalahan terbesarku. Aku terlalu bodoh, karena sudah mempercayai lelaki sepertimu.


Aku pikir kau adalah bagian dari masa depanku. Aku pikir kau adalah mimpi indahku. Tapi ternyata, keadaan membalikkan segalanya. Kau hanya bagian dari masa laluku. Kau adalah mimpi burukku.


Dan sekarang, kau datang lagi padaku. Lalu menyatakan, kau sudah lelah menghadapinya. Maafkan aku, aku bukan orang yang kau kenal dulu. Kini aku sudah menjadi wanita yang berbeda. Aku memang mencintaimu tapi kau hanya bagian dari lembaran kertas usang.

Aku tidak bisa membencimu karena aku tahu, dulu aku sangat mencintaimu. Dan kini, cinta itu hanya aku simpan rapat-rapat. Aku tak ingin mengungkitnya lagi karena aku tidak mau merasakan kepedihan itu lagi. Aku mencintaimu tapi waktu telah mengubah cintamu menjadi hampa. Hatiku seolah mati. Dan jika itu terjadi, saat aku bertemu denganmu lagi, aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Semua rasa indah itu, aku masih menyimpannya di kepalaku. Tapi aku hanya menganggapmu sebagai kepingan ingatan yang tak ingin aku ingat.

Aku hanya ingin mengatakan, Terima kasih untuk segalanya. Karenamu, aku bisa merasakan terbang tinggi tapi karenamu juga aku bisa jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Karenamu, aku bisa menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Aku hanya meminta satu hal, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah bahagia dengan hidupku. Aku tenang menjalani hidupku saat ini.

Biarkan aku hidup seperti ini, biarkan aku mencari masa depanku sendiri. Biarkan aku mencari mimpi indahku. Kita telah memilih jalan hidup masing-masing. Aku bahagia kalau kau bahagia. Dan aku berharap sebaliknya. Terimakasih untukmu, lelaki yang pernah aku banggakan dulu. Terima kasih untuk semuanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya