Lamanya kurun waktu yang tak mempertemukan kita tak lantas membuat namamu bisa terhapus dari hatiku. Nama dan wajahmu masih melekat, terpahat dalam di dinding hatiku. Begitu jelas, begitu nyata. Meski ada banyak cerita yang singgah, lalu pergi namun tak lantas mampu membuat relief dirimu hilang dari dinding hatiku.

Setelah sekian lama akhirnya waktu memberi kita kesempatan untuk bertemu dan berbincang, menatap sinar matamu, senyummu masih sama persis ketika kita masih sepakat untuk jalan bersama, berusaha merangkai cerita dan mimpi untuk esok dan besoknya. Kau masih bicara dengan gaya yang sama, menatap dengan tatapan yang sama, dengan pujian-pujian yang sama juga, seperti menyeretku kembali ke masa yang telah lama berlalu.

Advertisement

Perjalanan hidup memang terkadang tak bisa diduga, apa yang direncanakan mungkin saja kandas begitu saja hanya karena alasan sepele yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan dengan baik. Sedangkan apa yang tak diharapkan bisa masuk begitu mudahnya dalam hidupku.

Masih jelas ku rasakan dalam hatiku ada rasa cinta yang sama seperti dulu, begitu juga yang kulihat di sorot matamu. Ketika kita kehilangan kontak di masa itu, dimana komunikasi masih bergantung hanya kepada pak pos, karena aku tak tahu alamatmu pak pos tak mampu mengantarkan berita untukmu. Begitupun dirimu, tak tahu dimana adanya diriku.

Aku tak berani mengatakan bahwa nasib mempermainkan kita, karena akhirnya kita ketemu sementara rasa itu masih jelas-jelas ada namun kita sudah punya ikatan masing-masing. Meski aku merasa pencarianku tak sia-sia, namun tetap saja kau seperti mimpi. Nampak seolah begitu dekat, begitu nyata dalam rasa, manakala berusaha ku sentuh kau pun lenyap seperti gelembung sabun yang pecah lalu sirna bersama angin yang bertiup.

Advertisement

Kau tak ubahnya seperti harapan yang menggoda dan menggiurkan, namun nyatanya tak pernah ada, kau seperti cerita cinta yang romantis dan melankolis, namun tetaplah tak nyata adanya. Meski begitu indahnya rangkaian kata cinta bak pujangga, namun kau tak pernah benar-benar ada, kau tetap hanya bayangan, impian semata yang tetap ingin ku gapai.

Jika harus ada yang disalahkan, maka akulah yang paling pantas untuk disalahkan dalam hal ini. Namun semuanya sudah terlambat termasuk untuk sekedar menyesal sekalipun. Mungkin kau memang hanya akan jadi cerita tak bernoda dalam hidupku, yang hanya bisa ku kenang setiap waktu, hingga akhir hayatku. Kau memang terlalu ideal bahkan jika hamya untuk mimpi sekalipun.

Akhirnya etika dan logika memaksaku untuk menyerah pasrah menerima kenyataan, bahwa cinta sempurna itu hanya sebatas teori yang tak pernah diajarkan di bangku sekokah

Aku harus melepaskan semua meskipun sesungguhnya begitu berat, namun itu mungkin yang terbaik untuk semuanya. Selamat jalan mimpi indahku, semoga kau bahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya