Kawan, sebelumnya aku mau bilang terimakasih, bila kamu membaca tulisanku barang sebentar saja, aku tahu kamu sibuk. Photoshoot sana sini, interview, dan meeting sampai tak sempat membaca. He, apa perlu aku merayakannya suatu saat nanti bersamamu bila sudah mau baca tulisan pertamaku? Ah, maaf, aku tahu kamu sibuk. Hmm, agak aneh sih sebenarnya, mengirimi kamu tulisan disaat rumah kita cuman terpisah jalan saja. Harusnya aku langsung menemui kamu. Tapi, kan kamu sibuk, aku tahu kamu jarang di rumah. Aku cuman sering lihat ada orang di rumah kamu dan itu adalah pembantu kamu!.Jadi, yah, aku cuman buat tulisan ini agar bisa kamu baca, kalau kamu sempat sih.

Kawan, sudah lama ya kita nggak ketemu ya? Terakhir kali kita bertemu adalah saat perpisahan SD. Saat itu kita masih tidak paham dunia dewasa yang sangat menyibukkan. Kita adalah dua orang anak SD yang suka bermain petak umpet, saat itu. Kita masih gadis ingusan yang menangis karena dikerjai laki-laki, saat itu. Kita masih bermain tanah liat bersama, saat itu.


Saat ini, bagaimana cara kita bermain bersama kembali?.


Ah, mungkin aku terlalu berharap. Kamu kan super sibuk. Padahal rumah kita kan dekat, tapi kamu serasa ada di belajan dunia lain! Susah banget nemuin kamu. Bentuk alis kamu kayak apa mungkin aku sudah lupa. Mungkin kapan-kapan, entah kapan-kapan itu kapan?

Belakangan, aku dengar kabar dari sebuah portal berita online bahwa usahamu menunjukan hasil yang gemilang. Kamu jadi makin sibuk lagi, lagi, dan lagi. Congrats ya!.

Advertisement

Kamu jadi makin diundang mengisi acara kesana kemari ya? Enak banget, aku iri deh. Eh, tahu nggak, teman kita SD ada yang mau nikah tiga bulan lagi. Harapanku kamu yang ngisi acaranya sih, biar kita sekelas bisa kumpul bareng, cerita bareng, dan main bareng.

Hm, selain harapan aku buat kita ketemu lagi, aku ada pesan nih buat kamu.

Ini pesanku buat kamu yang super duper sibuk.

Kamu tahu nggak, mengapa banyak orang di luaran sana yang tetap merasa tidak bahagia meski sudah mendapat pekerjaan yang layak, rumah yang baik, pengagum yang solid, kawan yang setia?.

Itu karena sifat manusia yang tidak pernah puas. Seberapapun mengejar bahagia, kita tidak akan pernah mendapatkan hasil terbaik. Memang sikap manusia seperti itu.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Mengejar sesuatu agar lebih baik lagi adalah suatu hal yang positif. Asalkan, kamu bisa bahagia dengan tujuan kamu.

Bahagia yang paling benar tidak usah dicari ke ujung dunia. Kamu tahu? Pada dirimu sendiri ada hati yang meronta minta di bahagiakan. Kalau kamu ngotot mengejarnya sampai pusing, kamu tidak akan kunjung bahagia. Sebab yang perlu kamu bahagiakan sendiri adalah hati kamu.

Walau sesibuk apapun, kalau kamu ada waktu, telfon lah orang tua mu. Kalau bisa nelfon aku malah syukur,, heheh. Orang tuamu, dan mereka yang juga menyayangimu adalah sumber kebahagiaan terbesar dan termudah diraih.


Setidaknya, sebelum kita menua, kita bisa melihat batang hidung dan bentuk alis masing-masing.


Intinya, bahagiakan hati kamu supaya kamu bisa melakukan hal lain dengan bahagia.

Walau kamu sibuk, jangan stres ya.

Berbahagialah.