Hari ini cuaca panas sekali, ingin rasanya aku memasuki kulkas sambil melumuri tubuhku dengan salju es yang ada di dalam kulkas. Tapi apa daya aku sedang berada diruangan kantor tempatku bekerja ntah sebagai apa. Bertahun-tahun aku menjalani kehidupan yang benar-benar sangat membosankan, bukan aku kurang bersyukur hanya saja mereka yang memaksaku menjadi seseorang dengan kepribadian yang memang bukunlah kepribadianku. Ada banyak orang yang kujumpai di dunia ini, namun semua sama saja.

Ya, aku mengerti proses itu apa, bagaimana sulitnya menjalani hidup. Tapi, jika semua hanya memberi jalan buntu dan memandang diriku dari sisi negatifnya aku mau mengatakan apa. Sudahlah, aku tidak bisa melarang burung lewat dari atas kepalaku, yang bisa kulakukan adalah mengusirnya jika burung itu bertengger di kepalaku. Walaupun pada kenyataannya beberapa kali aku harus berada pada posisi menyerah dan beberapa kali rasa ingin mati itulah yang ku inginkan.

Advertisement

"Aku jenuh, aku bosan!" teriakku dalam hati saat aku terduduk di depan komputer yang ntah juga milik siapa. Setiap hari dengan keadaan yang sama dan tak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya.

"Senin hingga Minggu….. hufft!!!"

Usiaku tidak lagi muda kini usiaku sudah menginjak 22 tahun. Namun, seolah-olah aku masih anak-anak yang masih belum lancar berjalan yang langkah kakinya harus diatur. Semenjak meninggalnya ayah dan ibuku 10 tahun yang lalu benar-benar mengubah kehidupanku.

Advertisement

Walaupun sempat terpuruk selama 3 tahun dan setelah itu aku bangkit. Ternyata itu tidak bertahan lama hanya 2 tahun saja aku bisa menikmati jiwaku yang hilang dan terpuruk setelah itu aku kembali seperti dulu.

Aku benar-benar bingung dengan keadaanku sekarang, kalau pepatah mengatakan DUDUK SALAH, BERDIRI JUGA SALAH. Dibalik itu semua, aku selalu ingat akan mimpi terbesarku. Aku ingin jadi motivator dan menjadi seorang sastrawan dan hal itulah yang selalu membuatku kerap kali harus bangkit dan sadar.

"Ini perjuangan mu Ribka, ayo bangkit. Akan ada waktu yang tepat untuk kamu bisa menikmati semua proses yang kau jalani" sesekali hatiku menguatkan kerapuhanku.

Aku benci mereka yang selalu berpikir tidak baik tentang hidupku, yang terlalu merendahkanku dan terlalu jahat dengan semua yang baik yang kuberikan. Aku tidak mengerti letak kesalahanku di mana. Mungkin, ini berawal dari aku melanggar ketentuan yang ditetapkan, d imana "aku menjalin hubungan dengan seorang pria sebelum wisuda" apa itu kesalahan yang fatal.

IP di semester tujuh ku sungguh fantastis yaitu 3,9. Pelayananku digereja sama sekali tidak berkurang dan aku tidak pernah menghabiskan waktu khusus dengan pria tersebut dan setiap pekerjaan rumah selalu beres. Kalau sifatku yang pelupa itu sudah lama. Sebelum aku mengenalnya aku sudah suka lupa dengan sesuatu hal yang ingin kukerjakan.

"jalangkah aku, hingga harus selalu di zolimi" tanyaku sinis.

Aku tidak benci dengan proses yang harus ku lewati, tapi terkadang aku merasa ini bukan proses yang dari Maha Kuasa namun hanya sebatas akal-akalan manusia yang terlalu membatasi kemampuanku.

Terkadang aku berpikir, sehina inikah hidupku Tuhan?

Kapan aku bisa benar-benar menemukan orang yang tulus menyayangiku, bukan karena mereka berbuat baik lantas aku yang manusia biasa sama seperti mereka yang hidupnya dibiayai oleh mereka dan karena statusku anak yatim piatu dan orang yang tidak dipedulikan ditengah-tengah keluarga kandungku harus menuntutku seperti malaikat dengan segala kesempurnaannya yang bisa mengerti hati mereka tanpa harus ada marah yang bisa ku ekspresikan, tanpa ada rasa kecewa yang harus ku ungkapkan.

Aku mencintai mereka sama seperti aku mencintai ayah dan ibuku, aku sama seperti anak remaja lainnya yang bisa mersakan kekecewaan, amarah, egois, dan kadang suka nakal sebatas remaja pada umumnya.

"Apa itu salah???"

Aku tidak pernah menghabiskan waktuku hang out seperti remaja pada umumnya, touring, mendaki gunung. Aku hanya seorang gadis yang sangat menjaga persaan orang lain. Walaupun salah seorang temanku sering meledekku, katanya aku kelainan syndrome. Karena aku lebih memilih bermain dengan aktivitasku yang aku nggak ngerti tujuannya apa.

Sesekali aku nge-stalking sosmed teman-temanku, terkadang aku ingin menangis dengan keadaanku. Teman-temanku bisa ke sana kemari dan bisa beli barang-barang sendiri. Kembali hatiku menguatkan lemahnya hidupku,

"Tenang saja Rib, usahamu saat ini tidak akan sia-sia. Karena kamu sedang menabung di surga dan jika Tuhan memberi, maka tidak akan tanggung-tanggung berkat yang akan kamu terima"

Setetes demi setetes mataku membasahi tanganku yang kulipat untuk bantal kepalaku didepan komputer. Aku menghentikan hatiku berbicara.

"cukup ribka, ayo bangkit! Kamu harus bisa mewujudkan mimpimu. Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan dirimu sebagai motivator dengan cerita kehidupanmu yang membuat orang lain bisa bangkit dan kamu juga akan menjadi seorang sastrawan dengan kisah-kisah hidupmu yang selalu berwarna dengan cerita yang sudah diatur oleh Sang Pemilik Kehidupan."

Rasa jenuh dan bosan itu kerap kali datang dan semua orang pasti merasakannya, baik dalam pekerjaan, hubungan dengan sesama, aktivitas yang dijalani. Bosan itu timbul karena semua hal yang dikerjakan sama saja dan lebih parahnya tidak menghasilkan apa-apa.

Tapi, sekarang aku berjanji akan menikmati setiap proses kehidupanku. Bukankah orang-orang ternama dan para ilmuwan bisa menjadi besar dan terkenal itu melewati proses yang panjang, walaupun hasilnya sering tidak kelihatan. Namun, pada akhirnya dunia mengakui mereka.

Jenuh boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menyerah. Benci boleh juga tapi jangan berlarut-larut hingga kepahitan. Ingat, apa yang kita tabur akan kita tuai. Mungkin tidak sekarang, tapi percayalah akan ada waktu yang tepat dan di mana di saat waktu itu datang engkau akan menangis dan berkata

"Inilah waktu yang tepat itu!"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya